Breaking News in Indonesia

Waswas Wacana Impor Beras

Panen raya tiba. Sekelompok petani di Kampung Sawah, Karawang, Jawa Barat, sedang berbahagia. Mereka berduyun-duyun ke sawah. Memetik padi yang menguning setelah menunggu tiga bulan lamanya. Gabah kemudian dijemur. Dikeringkan agar kualitas dan harga terjaga.

Harapan itu seketika sirna. Wacana pemerintah bakal impor beras pada Maret 2021, membuat petani gelisah. Bertepatan dengan momen panen raya. Seketika harga di pasaran pun turun. Para petani hanya bisa pasrah.

Willy Firdaus, petani asal Kampung Sawah, masih tak habis pikir. Mempertanyakan alasan pemerintah mewacanakan impor beras kala panen raya. Tentu saja kondisi ini memengaruhi harga gabah.

Untuk gabah berkualitas bagus, para tengkulak menawar di bawah Rp4.000-Rp4.500 per kg. Untuk gabah berkualitas rendah berkisar Rp3.600-Rp3.800 per kg. Sedangkan harga gabah berkualitas baik dari petani berkisar Rp4.450 per kg.

“Isu impor beras ini membuat susah jual dan di utang bayarnya sama para tengkulak,” ujar Willy Firdaus bercerita kepada , Sabtu pekan lalu.

Para petani di Kampung Sawah, berharap hasil panen bisa di harga Rp5.000-Rp5.200 per kg untuk kualitas bagus. Ini terkait tingginya ongkos produksi tiap tahun. Mulai dari harga pupuk, pestisida dan bayaran buruh tani yang naik tiap musim. Harga tersebut tentu dirasa bakal membuat para petani sejahtera.

Kondisi hampir serupa juga dirasakan Akhmad Toni, petani asal Desa Jombatan, Jombang, Jawa Timur. Peran tengkulak memang penting bagi distribusi gabah petani untuk dipasarkan. Sayangnya wacana impor ini membuat harga gabah mengalami penurunan.

Harga di pasaran berkisar kurang lebih Rp4.000 per kg untuk gabah kering. Tentu harga ini belum layak. Bila diasumsikan, dengan hasil panen 7 ton per hektar dikalikan harga pasarab maka petani hanya menghasilkan Rp28 juta per hektar. Padahal modal produksi per hektar mencapai Rp20 juta.

“Harga segitu ya tipis labanya harusnya ya sekitar Rp4.500 baru petani itu bisa bernapas,” ungkap Toni kepada , Jumat pekan lalu.

Diakui Toni, petani sebagai produsen tidak bisa menentukan harga. Harga gabah sangat dipengaruhi situasi dan kondisi beragam isu. Salah satunya wacana impor beras. Kondisi ini membuat tengkulak biasanya tidak berani ambik banyak dari petani. Sehingga saat panen raya tiba antara permintaan dan ketersediaan menjadi jomplang.

Disadari pula kondisi cuaca memang cukup memengaruhi. Untuk panen musim hujan tahun ini, memang mengalami penurunan harga sebesar Rp500 per kg. Tentu ini membuat gabah memiliki kadar air yang tinggi. Kondisi ini semakin membuat petani terdesak. Mereka semakin susah kalau tidak segera dijual.

“Selama ini petani tidak punya posisi tawar untuk menentukan harga,” ujarnya.

Berbeda dengan kondisi petani di Jawa Tengah. Sonhaji, Petani Mangkang Kulon Semarang, ini mengaku harga panen raya tahun ini dirasa sesuai. Dengan harga pasaran Rp4.200, membuat para petani bisa berbahagia. Walaupun para petani sempat merasakan kekhawatiran akibat adanya wacana impor beras.

Adapun selama ini para kelompok tani di wilayah Mangkang Kulon Semarang, memang memiliki langganan khusus. Sehingga para tengkulak tidak berani memainkan harga. “Belum ada cara tengkulak berusaha menurunkan harga produk kami,” kata Sonhaji.

Stok Beras Bulog

Wacana impor beras dicanangkan Kementerian Perdagangan rencananya mencapai 1 juta ton pada 2021. Padahal stok beras di Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik atau Bulog dirasa cukup memadai.

Bulog pun memiliki target pengadaan atau target penyerapan sebanyak 1,8 juta ton, yang terdiri 400.000 ton untuk kebutuhan komersial dan 1,4 juta ton itu untuk PSO atau cadangan beras pemerintah.

Sekretaris Perusahaan Bulog, Awaluddin Iqbal mengatakan, pihaknya enggan masuk polemik tersebut. Ia menegaskan, tugas Bulog di ketahan pangan, ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas. Hingga kini, Bulog masih melakukan penyerapan dalam negeri. Dari hulu ke hilir.

“Kami tidak dalam posisi dan memang tidak ingin masuk ke dalam wilayah yang bukan wilayah kita,” katanya kepada .

Dampak impor ini membuat kalangan petani resah. Dikhawatirkan hasilnya tak laku alias kalah saingan dengan impor. Meskipun hasil panen banyak dan berkualitas. Petani Mangkang Kulon Semarang Sonhaji menyampaikan, awal 2021 cuaca sangat baik. Sehingga hasilnya banyak dan juga berkualitas.

“Panen tahun ini bagus dari tahun sebelumnya 2020. Karena tahun 2021 berbarengan dengan musim panas,” katanya.

Sejak 2018 Bulog tidak pernah melakukan impor beras. Untuk target penyerapan tahun ini 1,4 juta ton. Sedangkan stok per 31 Desember 2018 sebanyak 2,19 juta ton. Stok per 31 Desember 2019 sebanyak 2 juta ton. Realisasi pengadaan 2018 sebanyak 1,49 juta ton, dan realisasi pengadaan 2019 sebanyak 1,2 juta ton.

“Setelah berminggu-minggu semua Direksi Bulog turun ke sawah untuk memantau dan memastikan penyerapan produksi petani dalam negeri, perhari ini stok beras Bulog sudah tembus satu juta ton,” kata Direktur Utama Bulog Budi Waseso dalam keterangannya di Jakarta.

Mantan Kabareskrim itu menjelaskan bahwa realisasi penyerapan yang dilakukan Bulog sampai dengan akhir Maret tahun ini lebih tinggi dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Sampai dengan 26 Maret ini Bulog sudah menyerap sebanyak lebih dari 180 ribu ton setara beras produksi dalam negeri dari seluruh Indonesia.

Serapan harian Bulog tahun ini rata-rata sudah mencapai 10 ribu ton per hari, dan ini akan cenderung meningkat lagi dalam beberapa minggu ke depan. Budi Waseso juga mempertanyakan berbagai komentar miring yang menganggap Bulog tidak mampu melakukan penyerapan beras dengan baik.

“Yang menganggap Bulog tidak mampu melakukan penyerapan itu apa indikatornya? Mari bicara pakai data dan menggunakan pola berpikir ‘system thinking’ bukan fatalistis. Jadi melihat suatu persoalan itu harus secara menyeluruh dan saling terkait. Jangan ‘jumping conclusion,” tegasnya.

Impor Beras Batal

Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi pekan lalu di DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat menegaskan, kalau wacana ini jangan menyalahkan Bulog. Sebab, Bulog mempunyai kriteria dalam membeli beras atau gabah. Salah satunya adalah tingkat kekeringan gabah. Namun, karena musim hujan sehingga stok dinilai kurang. Pemerintah berencana mengambil langkah untuk impor untuk memenuhi kebutuhan.

Sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia (PERMENDAG) Nomor 24 Tahun 2020. Bulog mengemban amanah untuk melaksanakan kebijakan pengadaan gabah/beras melalui pembelian gabah/beras dalam negeri dengan ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Harga Pembelian Gabah Kering Panen (GKP) dalam negeri dengan kualitas kadar air maksimum 25 persen dan kadar hampa/kotoran maksimum 10 persen adalah Rp4.200 per kilogram di petani, atau Rp4.250 per kilogram di penggilingan.

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil pun ikut menanggapi hal ini. Dia mengusulkan agar pemerintah pusat lebih baik menunda impor beras. Impor dilakukan apabila bangsa tengah krisis beras dan ia pun memakluminya. Dirinya tidak ingin kebijakan impor beras mengancam kesejahteraan petani. Oleh karena itu, diperlukan manajemen waktu yang lebih matang terkait impor beras.

Informasi dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kabupaten Cirebon berharap impor beras tidak dilakukan saat menjelang panen raya. Solusinya, ketimbang impor beras, ada baiknya membeli beras dari petani Jabar yang kini stoknya masih melimpah. Bahkan hingga April mendatang.

“Tadi petani Cirebon curhat awalnya Bulog yang biasa membeli 120 ribu ton sekarang turun jadi 21 ribu ton. Beras kita masih suprlus 320 ribu ton sampai bulan April, ini sudah berlebih banyak sekali. Jadi dari pada impor beras mending beli beras Jabar yang melimpah,” kata Ridwan Kamil.

Di tengah polemik wacana impor beras, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk tidak melakukan impor beras hingga Juni 2021. Kebijakan itu dikeluarkan Jokowi karena tak ingin harga gabah di tingkat petani semakin merosot.

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menilai, harga beras milik petani di pasaran saat ini masih di bawah standar. Padahal musim panen raya tak lama lagi akan segera datang. Atas dasar itu, Jokowi meminta segala polemik soal rencana impor beras dihentikan, agar tidak membuat harga beras dan gabah di tingkat petani semakin terpuruk.

“Oleh sebab itu saya minta segera hentikan perdebatan yang berkaitan dengan impor beras. Ini justru bisa membuat harga jual gabah di tingkat petani turun atau anjlok,” seru Jokowi dalam siaran video pers Sekretariat Negara, Jumat pekan lalu.

Di samping itu, dia juga memerintahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk segera menyiapkan anggaran untuk Perum Bulog agar bisa menyerap gabah petani. “Saya pastikan beras petani akan diserap oleh Bulog, dan saya akan segera memerintahkan Menteri Keuangan untuk membantu terkait anggarannya,” ujar Jokowi menjelaskan. [ang]