Tetap Produktif di Rumah dengan Memasak

Irene

Tetap Produktif di Rumah dengan Memasak

Stay at home atau berdiam diri di rumah selama pandemi Covid-19 bisa jadi membosankan, jika tidak pintar-pintar memilih kegiatan. Bahkan, tanpa ada kegiatan produktif berpotensi memicu stres.

Dari beberapa tren baru yang muncul saat pandemi, Lia (26) yang berprofesi sebagai karyawan swasta memilih memasak sebagai aktivitas produktif selama bekerja dari rumah. Setiap hari, Lia memasak santapan siang dan malam untuk dirinya sendiri, adik dan ayah.

“Jadi selain melaksanakan kewajiban sebagai karyawan yang bekerja dari rumah, aktivitas wajib saya pasti masak. Setiap malam, suka listing besok pagi masak apa,” katanya saat bercerita kepada , Selasa (27/10).

Berjelajah ke situs-situs masak, jadi sumber referensi utama Lia menemukan kreasi masakan yang akan diolah di dapurnya. Biasanya, perempuan berzodiak gemini itu melihat daftar olahan resep masakan pedas. Namun, selera Lia dan keluarganya berbeda.

Jika Lia, suka masakan pedas, adik yang selisih 2 tahun lebih muda darinya, suka masakan tumis dengan rasa gurih. Sementara ayah Lia cenderung menyukai masakan tradisional. Terpenting, bagi ayah adalah sayur asem. Perbedaan selera itu membuat Lia galau, memasak menu untuk selera yang berbeda dengan kocek pas-pasan.

“Gaji saya UMR, saya masih ada cicilan, tanggungan sekolah, investasi, nabung, jadi harus bisa cerdik masak apa yang bisa penuhi selera kami bertiga dengan bajet yang sudah dialokasikan sampai satu bulan,” tuturnya.

Karena perbedaan selera itu, Lia selalu membuat daftar masakan untuk satu minggu ke depan. Tujuannya, agar masakan yang dimasak bisa berbeda-beda, setidaknya dua hari sekali dan tetap mengakomodir selera keluarga Lia.

Lia dan keluarganya juga suka mengganjal perut dengan camilan tradisional, seperti cilok, pempek, lumpia goreng.

“Jadi selain, untuk makanan pokok, juga beli bahan utama untuk camilan, seringnya tepung tapioka, tepung terigu,kacang hijau,” ujarnya.

Sering memasak, membuat Lia mencoba peruntungan dengan menjajakan hasil kreasinya untuk dijual.

Dimulai dari teman-teman adiknya yang hobi jajan, Lia menjual pisang goreng tepung. Bermodalkan pisang uli satu sisir, tepung pisang instan, dan air, Lia sengaja membuat pisang goreng dengan jumlah lebih banyak dari biasanya, agar bisa dibawa adik ke tempat kerjanya. Respon terhadap pisang goreng buatannya cukup positif.

“Tapi memang tidak ditekuni menjadi bisnis, karena tidak bisa bagi waktu dengan kerjaan saya dan aktivitas masak untuk makan siang,” tuturnya.

“Saya melihat kondisi pandemi saat ini kegiatan saya tidak ada yang berubah, justru saya dituntut menajamkan kreativitas diri dalam koridor yang tetap positif.”

Sama seperti Lia, Intan (27), juga memilih kegiatan memasak menjadi aktivitas produktif. Jika sebelum pandemi Intan jarang memasak untuk santapan siang dan malam bersama sang suami, kali ini berbeda.

Hobi Intan dan suami saat akhir pekan selalu menghabiskan waktu di mal atau pusat kuliner. Saat pemerintah mengambil kebijakan pembatasan sosial, pusat perbelanjaan, pusat kuliner dan tempat umum ditutup, Intan mengaktualisasi dirinya dengan memasak.

“Dulu sering jajan atau makan di luar. semenjak di rumah saja jadi sering masak sendiri. Apa yang kita (Intan dan suami) makan di luar, ya saya coba masak di sendiri di rumah,” tutur Intan.

Alumni universitas di Ciputat itu mengaku tidak cukup andal dalam memasak. Apa daya, ketimbang bosan tak berkegiatan di rumah, Intan sering berjelajah di situs kumpulan resep.

Masakan yang ditekuninya saat ini adalah ayam bakar. Intan bercerita saat pertama kali mencoba memasak ayam bakar, rasanya jauh dari kata enak. Entah bumbu yang tidak meresap baik ke ayam saat proses ungkep, atau kematangan ayam saat dibakar yang kurang tepat.

Tapi, karena penasaran dengan ayam bakar, berulang kali Intan mencoba memasak dengan tekun mengikuti langkah-langkah resep yang tersedia secara daring. Hasil tidak membohongi usaha, pepatah ini terjadi ke Intan. Kerap gagal masak ayam bakar yang enak, hasil belajar mengolah ayam bakar Intan mulai diakui oleh keluarganya.

“Sekarang jadi makin sering masak ayam bakar. Pernah saat ada kumpul keluarga, kakak-kakak titip minta dibawain ayam yang sudah diungkep jadi mereka tinggal bakar sendiri di rumah. Bahkan, mereka saranin untuk buka usaha warung makan ayam bakar,” ujar Intan.

Saran itu dijadikan Intan sebagai doa. Dia berharap dalam waktu dekat punya kesempatan segera membuka usaha kuliner ayam bakar.

“Mungkin nanti mau bikin usaha ayam bakar,” kata Intan. [fik]

Next Post

Mulai 3 November, Kendaraan Dilarang Melintas Jalan Malioboro Selama Dua Pekan

Pemerintah DIY akan menutup Jalan Malioboro bagi kendaraan bermotor selama dua pekan. Kebijakan ini akan mulai diterapkan sejak Senin (3/11) hingga Minggu (15/11) mendatang. Penutupan Jalan Malioboro selama dua pekan untuk kendaraan bermotor ini merupakan bagian dari uji coba Malioboro menjadi kawasan pedestrian. Selanjutnya Malioboro direncanakan akan menjadi kawasan bebas […]