Soal Tersangka Unlawful Killing Laskar FPI, Kabareskrim Sebut Tunggu Gelar Perkara

Irene

Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan, kasus unlawful killing atau dugaan pembunuhan di luar hukum dilakukan tiga personel Polda Metro Jaya terhadap empat laskar Front Pembela Islam (FPI) masih dalam proses penetapan tersangka.

Kasus dugaan pembunuhan itu terjadi ketika tiga polisi dan laskar FPI pengawal Muhammad Rizieq Syihab terlibat bentrok di KM 50 Tol Jakarta– Cikampek.

“Setahu saya sedang berproses (penetapan tersangka) karena sudah pemaparan awal langkah-langkah pekerjaan yang dilakukan,” kata Agus ketika dikonfirmasi , Sabtu (6/3).

Agus menekankan penetapan tersangka dalam kasus ini masih menunggu hasil gelar perkara lanjutan. Hal itu menyusul status ketiga personel Polda Metro Jaya yang saat ini masih sebagai terlapor.

“Biasa untuk peningkatan ke penyidikan akan ada gelar lanjutan,” terangnya.

Sebelumnya, penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri akan menggelar perkara dugaan unlawful killing atau dugaan pembunuhan di luar hukum dilakukan tiga personel Polda Metro Jaya terhadap empat laskar Front Pembela Islam (FPI).

“Minggu depan kami gelar (untuk) naik sidik (penyidikan),” kata Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Andi Rian saat dihubungi, Jumat (5/3).

Andi mengatakan, penyidik sedang mempelajari bukti telah dikumpulkan terkait dugaan Unlawful killing tersebut. Andy mengklaim telah mengantongi bukti permulaan dalam perkara itu.

“Kita sudah dapat bukti permulaan, tinggal menyusun dan melengkapi,” ujar dia.

Perkara itu diusut sesuai instruksi Kapolri untuk menjalankan rekomendasi dan temuan dari Komnas HAM terkait rentetan peristiwa penembakan enam laskar FPI di Tol Jakarta-Cikampek. Ada tiga anggota Polda Metro Jaya yang dilaporkan karena membawa empat laskar FPI di mobil hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia

Polisi menerapkan Pasal tentang pembunuhan dan penganiayaan sebagai dasar penyelidikan. “Pasal 351 ayat 3 dan Pasal 338. Tentang pembunuhan dan penganiayaan yang mengakibatkan mati,” kata Andi saat dikonfirmasi, Kamis (4/3).

Adapun bunyi Pasal 351 ayat 3 adalah “Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.”

Kemudian bunyi Pasal 338 adalah “Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.” [gil]

Next Post

Disneyland California Kembali Buka 1 April

Jakarta, Indonesia — Disneyland di California, Amerika Serikat dan sejumlah taman hiburan lain diizinkan untuk mulai beroperasi kembali pada 1 April 2021. Pejabat kesehatan setempat mengeluarkan izin operasional tempat wisata tersebut dengan kapasitas terbatas karena pandemi covid-19. Dilansir dari Reuters, pengunjung akan dibatasi antara 20 persen dan 30 persen. Presiden Disneyland Resort Ken […]