Breaking News in Indonesia

Soal Bocor di Whatsapp Grup, Ujian Akhir SMPN 2 Jember Diulang Pekan Depan

Pelaksanaan ujian akhir sekolah untuk siswa kelas IX di SMPN 2 Jember, terpaksa harus diulang pada pekan depan. Pasalnya, ujian di SMP paling favorit di Jember itu, diduga ada kebocoran. Temuan kebocoran itu terungkap dalam pelaksanaan ujian untuk mata pelajaran IPA pada hari Kamis (06/05).

“Yang diulang hanya untuk mata pelajaran IPA, karena yang terbukti hanya matpel itu saja,” tutur Kepala SMP Negeri 2 Jember, Mohammad Sabarno, saat dikonfirmasi pada Jumat (07/05).

SMPN 2 Jember merupakan salah satu sekolah yang dipilih sebagai pilot project penerapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Jember. Pelaksanaan ujian tatap muka itu dilakukan dengan standar protokol kesehatan yang cukup ketat. Adapun ujian akhir sekolah tersebut punya nilai penting, sebagai pengganti UN yang sebelumnya bersifat nasional.

“Kalau yang ini, soalnya dibuat oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dengan standar yang ketat,” lanjut Sabarno.

Sabarno tidak mengetahui, dari mana sumber para siswa tersebut mendapatkan bocoran soal. Indikasi kebocoran terungkap, saat salah satu pengawas ujian mendapati seorang siswa yang menggunakan HP ketika ujian sedang berlangsung di dalam kelas.

“Sesuai aturan, ponsel harus diserahkan di depan kelas sebelum ujian dilakukan. Tetapi kemudian, pengawas ujian kedapatan ada salah satu murid yang diam-diam menggunakan ponsel selama ujian berlangsung,” ujar Sabarno.

Setelah ponsel disita, sang pengawas mendapati bahwa ada soal dan jawaban di dalam ponsel siswa tersebut. Pengawas dan dewan guru lalu meminta agar sang siswa berkata jujur tentang bocoran soal itu.

“Ngakunya ada salah satu murid yang mendapati bocoran soal itu dari tetangganya. Kemudian di bagi ke teman-teman. Mereka membentuk WA Group untuk bersama-sama mencari jawaban dari soal ujian sebelum ujian berlangsung,” ujar Sabarno.

Meski curang, Sabarno masih bersyukur anak didiknya masih mau berkata jujur setelah didesak. Rapat dewan guru akhirnya memutuskan untuk ujian tersebut diulang.

“Karena yang terbukti hanya soal IPA, maka hanya itu yang diulang. Ini adalah pertama kalinya terjadi di sekolah kami,” ungkap Sabarno.

Kebijakan mengulang ujian tersebut, menurut Sabarno lebih bernuansakan pendidikan ketimbang hukuman. “Kami ingin agar siswa bertanggungjawab dan menghargai kejujuran. Ini adalah bentuk pendidikan karakter. Ujian ini juga adalah yang terakhir mereka lalui di sekolah ini, sebelum akhirnya mereka melanjutkan ke SLTA,” tutur Sabarno.

Selama bertahun-tahun, SMPN 2 Jember dikenal sebagai sekolah paling favorit di Jember yang banyak diisi oleh siswa berprestasi dan terletak di pusat kota Jember.

Hal ini terutama sejak sebelum diberlakukannya sistem zonasi oleh Mendikbud kala itu, Muhadjir Effendy. Sistem zonasi bertujuan mengikis kesenjangan antara sekolah favorit dan sekolah pinggiran. [ray]