Rekam Jejak Masuknya Ska di Ibu Kota 1996 – 2000

Irene

Rekam Jejak Masuknya Ska di Ibu Kota 1996 - 2000

Lazim terjadi di dunia musik. Suatu tren datang silih berganti. Seperti yang terjadi pada dekade 90-an, awalnya glam metal yang mendominasi lalu tergeser oleh kehadiran alternatif rock yang dimotori oleh Nirvana, Blur dkk. Setelah gunung es alternatif rock mencair, giliran ska yang menyeruak ke permukaan. Yang pasti pada momen tersebut ska memang cukup besar. Di Tanah air sendiri antusiasmenya terbilang fenomenal.

Saat itu di Ibu kota, acara-acara ska apapun temanya pasti ramai. Bahkan dalam ajang kompetisi musik, maupun pensi sekolah, rasanya kurang lengkap tanpa keterlibatan band ska. Radio-radio juga senantiasa menjejali pendengarnya, dengan lagu-lagu ska teranyar. Menyulut demam ska merebak ke berbagai penjuru kota. Singkatnya kemeja kotak-kotak maupun kemeja pantai, flat cap, suspenders, docmart atau sneakers, menjadi semacam fashion statement oleh sebagian anak muda kala itu.

Lantas muncul pertanyaan, bagaimana awal mula ska hadir dalam komunitas bawah tanah Ibu kota. Berdasarkan penelusuran dan hasil wawancara penulis dengan para pelaku skena perintis, diketahui bahwa ska hadir di Ibu kota dalam skena punk. Secara konsep pun ska punk lebih dulu diterima, baru kemudian yang bercorak two tone dan tradisional.

Meski ska besar pada penghujung dekade 90-an, namun jika kita merunut kebelakang maka sesungguhnya ska telah hadir di Tanah air pada dekade 80-an, lewat Madness dan The Clash. Era ketika kaset bajakan masih merajalela, album Madness seperti Absolutely, Complete Madness, The Rise & Fall dan lain sebagainya, serta album London Calling milik The Clash, yang memuat lagu-lagu seperti, “Rudie Can't Fail”, “Wrong 'em Boyo” dan “Guns of Brixton”, dijajakan di toko-toko kaset.

Pada periode ini, kita juga dapat menemukan sentuhan ska pada lagu “Punk Eksklusif” karya Yockie Suryoprayogo, “Nostalgia” karya Indra Lesmana, “Astuti” karya The Rollies dan lain sebagainya. Akan tetapi, ska baik secara kultur maupun movement, belum eksis. Sehingga tidak ada korelasinya, dengan yang terjadi di skena pada pertengahan tahun 90-an. Sebab ska di sini, sebatas eksplorasi musikalitas para musisi-musisi tersebut saja, biar ada diferensiasinya. Terlebih style musik yang ditawarkan oleh The Police, saat itu memang sedang digandrungi.

Lalu pada awal dekade 90-an, dua album Fishbone: The Reality Of My Surroundings (1990) dan Give a Monkey a Brain and He'll Swear He's the Center of the Universe (1993). Serta mini album The Mighty Mighty Bosstones, yang berjudul Ska-Core, the Devil, and More (1993), masuk toko kaset lokal. Walau begitu, tak ada dampak apapun berkenaan dengan hadirnya album-album ini, meski skena punk −yang direntas oleh Young Offender− telah eksis.

Di tengah gegap-gempita Dookie dan Insomniac. Pada tahun 1995, Rancid melepas album penuh ketiganya, bertitel …And Out Come the Wolves. Album keluaran Epitaph tersebut, dilisensi oleh PT Indo Semar Sakti, untuk pasar di dalam negeri.
Kendati mendapat respon luar biasa. Namun di tengah minimnya literasi dan referensi, membuat mayoritas pelaku skena Ibu kota kebingungan, mendeskripsikan karakter musik mereka pada lagu “Time Bomb”, “Daly City Train” dan “Old Friend”. Termasuk lagu berjudul “I Wanna Riot”, dalam kompilasi Punk-O-Rama, yang rilis satu tahun sebelumnya. Asumsi awal, itu adalah reggae atau sejenisnya.

Uniknya, karakter musik ala-ala reggae ini juga dimainkan oleh, Waterdog pada lagu “Youngsten Turmoil” dalam debut album mereka, The Offspring pada lagu “What Happened to You?” dalam album Smash dan NOFX pada lagu “Reeko” dan “Scavenger Type” dalam album Punk in Drublic.

Meski video klip “Spiderwebs” dari No Doubt, saat itu kerap berseliweran di layar kaca. Bahkan kaset Question the Answers (1994) milik The Mighty Mighty Bosstones, Firme (1995) milik Voodoo Glow Skulls dan Lockjaw (1995) milik Dance Hall Crasher, juga telah beredar di Tanah air. Namun ska sebagai sebuah terminologi atau genre, masih terdengar asing di skena.

Ketidaktahuan tersebut cukup beralasan, karna di era pra-internet berbagai arus informasi berjalan lamban. Padahal di Amerika, ska sudah demikian besar. Pergerakannya mulai dirasakan, sejak akhir dekade 80-an. Memicu sebuah fenomena, yang kemudian dikenal dengan istilah Third-wave ska.

Memasuki tahun 1996, ska menjadi kosakata baru dalam komunitas bawah tanah Ibu kota. Topik perbincangan saat itu masih seputar Operation Ivy. Kepopuleran Sublime dengan lagunya “Santeria”, juga turut mendorong pelaku skena tuk mencari tahu lebih jauh, apa itu ska. Kejelian mencari referensi, dari sederet nama dalam daftar terima kasih pada sampul kaset, menjadi acuan. Lalu berlanjut dengan kegiatan mail order, atau memesan CD via toko Duta Suara atau Aquarius.

Pelaku skena yang kerap berplesiran atau mengenyam pendidikan di luar negeri, juga tak bisa dinafikkan kontribusinya. Mereka berperan dalam menyuplai buku, majalah-majalah musik dan skateboard. Serta album-album musik underground termasuk ska, yang sukar ditemukan di Tanah air. Dari sini ska pun menyebar, dari kegiatan rekam-merekam. Bahkan, sempat disinggung dalam Hai Klip Punk Story, walau tak mendalam.

Adalah Harley Davidson kafe, salah satu venue yang menjadi saksi masuknya ska di Ibu kota. Pada era itu, band-band punk dan oi! lokal seperti Rage Generation Brothers (R.G.B.), Dischord, Sixtols, Pinocchio dan Hustler, mulai menyisipkan satu dua lagu ska dalam setiap penampilan mereka. Hal yang sama juga dilakukan oleh band hardcore Waiting Room. Baru kemudian muncul lah nama-nama seperti Skalie, The Artificial Life, Tipe-X dan lain sebagainya.

Pada tahun 1997, The Mighty Mighty Bosstones melepas album kelima berjudul Let’s Face It. Album ini dianggap paling bertanggung jawab, dalam menginjeksi tren ska dengan skop yang lebih luas lagi, di Tanah air. Dengan kata lain impaknya lebih signifikan ketimbang dua album mereka sebelumnya, yang hadir saat skena belum ‘ngeh’ ska secara utuh.

Keberadaan radio-radio seperti Prambors dan Suara Kejayaan (SK) era Nugie dan Budi Artaji, juga turut andil menyebarluaskan genre ini. Walaupun tak semua lagu-lagu ska yang mereka putar, albumnya rilis di Tanah air. Namun yang pasti, keriuhan ini telah memicu perburuan kaset-kaset ska yang rilis di tahun itu dan tahun-tahun sebelumnya.

Band-band pengusung ska lokal pun bermunculan, bak jamur di musim hujan. Bahkan beberapa band yang awalnya bukan band ska, mulai memainkan dan menciptakan lagu ska. Seperti UFO dengan lagunya “Oh Ibuku” dan Be Quiet dengan lagunya “Oke boss”.
Bisa dibilang tahun 1997 hingga 1999, adalah era keemasan ska di Tanah air dan Ibu kota pada khususnya. Dimana begitu banyak momentum penting, berlangsung di tahun-tahun tersebut. Seperti pada tahun 1997, Waiting Room melepas debut album, yang dianggap sebagai album ska pertama di Indonesia. Lalu pada musik arus utama, ada PAS band yang bereksperimen memasukan unsur ska, dalam lagu “Anak, Kali, Sekarang”.

Kemudian di tahun 1998, majalah mingguan Hai terbitan 20 – 26 Januari 1998 (TH XXII/NO.3), mengangkat judul isu “Ska…Ska…Ska…”. Lantas ada Gallery, yang mencoba merengkuh komunitas dengan membawakan lagu-lagu ska. Namun tatkala album mereka rilis, keseluruhan materinya lebih condong ke alternatif rock.

Masih di tahun 1998, dalam album kompilasi Pesta Alternatif Lagi! ada band Lipstick, yang memadukan rock dengan elemen ska dalam lagu berjudul “Jaenal”. Tak ketinggalan Jamrud dengan lagunya “Dokter Suster” dan Potret dengan “Bagaikan Langit”. Lantas dari jalur sidestream ada The Artificial Life, yang melepas demo live berjudul “Life Sucks…and So Are We”.

Dalam tahun-tahun tersebut, di Ibu kota juga rutin digelar acara ska, terutama di Poster Café. Prima Emi Production adalah salah satu penyelenggara, yang terbilang aktif menggelar gigs di sana, dengan tema Indies-Ska. Mayoritas band juga masih menjadi band kover. Misalnya, All You Can Eat sering membawakan lagu-lagu Operation Ivy, Jun Fan Gung Foo dengan lagu-lagu Reel Big Fish, Rolling Door dengan lagu-lagu The Specials dan lain sebagainya.

Tahun 1999, merupakan puncak dari demam musik ska di Ibu kota. Pada tahun ini, R.G.B. melepas debut album berjudul Our Lifestyle, melalui sub label dari Aquarius Musikindo. Dimana terdapat dua lagu ska, yaitu “Said Enough” dan “The Girls” dalam album tersebut.

Dari ranah independen ada Sixtols, yang melepas debut mini album, dengan memuat lagu-lagu ska seperti “United Skins”, “Love Songs” dan lain sebagainya. Lalu ada Washtafel dengan mini albumnya berjudul Buget dan The Speakers dengan album Taman Dekat Rumah. Mahalnya biaya rekaman dan produksi, membuat tak banyak rilisan indie ska lokal pada saat itu.

Yang mencolok di tahun 1999 adalah, banyaknya band-band ska Jakarta dan luar kota, yang berlabuh ke label-label besar −baik menelurkan album, maupun sekedar terlibat dalam kompilasi– sepanjang tahun tersebut. Situasi ini pada gilirannya, membuat wajah skena ska Ibu kota tak pernah sama lagi.

Sehingga memasuki tahun 2000, band-band ska yang berada di komunitas lenyap satu persatu. Selain karna faktor jenuh, ska juga dianggap sudah terlalu ‘kacangan’ dan melenceng dari pakem. Sementara yang masih bertahan melakukan transformasi, seperti Rubber Ice muncul sebagai Substars, Arigatoo menjadi Souljah dan lain sebagainya.

Kendati demikian, ska masih menunjukan taringnya dalam kompilasi Punk Klinik. Yang memuat dua lagu bernuansa ska yaitu, “Jhonny Frustasi” dari Clinic dan “Awas Polisi” dari Pantople. Beberapa album besutan label besar seperti, Bebas dari Noin Bullet, Gado Gado #9 dari Purpose, kompilasi Ska Klinik 2 dan lain sebagainya, juga dirilis di tahun ini. Sedangkan di komunitas, skena melodic –sebuah istilah lokal untuk mendefinisikan skate punk– sedang tumbuh-tumbuhnya.

Perlu diingat, pada tahun 2000 juga ada momen penting yang terjadi, yaitu untuk pertama kalinya band ska-reggae asal Inggris Maroon Town bermain di Ibu Kota, tepatnya di Taman Ria Senayan. Beberapa bulan kemudian disusul oleh Save Ferris, yang tampil di Bengkel Night Park bersama Sheila on 7.

Seperti produk yang ada masa kadaluarsanya. Demikian halnya dengan ska, sebagai sebuah tren ia tak mungkin bertahan selamanya. Pasti mengalami degradasi. Apalagi di dunia musik, dimana tren berotasi seiiring waktu. Namun bertahan juga bukan pilihan yang buruk. Setidaknya Tipe-X maupun Shaggydog telah membuktikan dan memetik hasil dari sebuah konsistensi.

Penulis: Nor Rahman Saputra (Kartunis dan Pecinta Musik) [end]

Next Post

5 Pendemo Anarkis di Gedung DPRD Kalbar Reaktif, Dua Positif Gunakan Ganja

Sebanyak lima pendemo yang melakukan anarkis hingga ricuh di depan Gedung DPRD Kalbar, Kamis (8/10) dari hasil tes cepat reaktif dan dua lagi positif gunakan narkoba jenis ganja, kata Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes (Pol) Donny Charles Go. “Dari sebanyak 35 orang yang diamankan, yakni sebanyak 26 orang oleh Polda […]