Breaking News in Indonesia

PM India Narendra Modi Dikecam karena Lebih Mementingkan Politik daripada Pandemi

Rumah sakit-rumah sakit di India dipenuhi pasien virus corona, keluarga pasien berusaha kesana kemari menemukan oksigen, dan krematorium beroperasi sepanjang hari membakar jasad korban Covid-19.

Kendati tanda-tanda itu jelas menggambarkan krisis kesehatan yang melelahkan, Perdana Menteri India malah menghadiri kampanye politik yang dihadiri ribuan pendukungnya tanpa menerapkan protokol kesehatan.

“Saya tidak pernah melihat massa besar seperti ini sebelumnya!” teriaknya kepada pendukungnya di negara bagian West Bengal pada 17 April, sebelum pemilihan umum negara bagian.

“Kemana pun saya melihat, saya hanya bisa melihat rakyat. Saya tidak melihat lainnya,” lanjutnya, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (7/5).

Pemerintah Modi juga menolak membatalkan festival Hindu yang dihadiri jutaan orang beberapa waktu lalu. Pertandingan kriket yang dihadiri puluhan ribu penonton juga tetap berlangsung.

Modi pun dituduh tidak mau menerima masukan dan lebih mementingkan politik daripada krisis kesehatan masyarakat yang melanda negaranya.

Wartawan Al Jazeera, Elizabeth Puranam, melaporkan dari New Delhi, mengatakan pemerintah menghadapi banyak kritik dari pengadilan di seluruh negeri.

“Pengadilan Tinggi Delhi mengatakan pemerintah hidup di atas menaga gading sementara rakyatnya mati karena kekurangan oksigen,” jelas Puranam.

Wakil Presiden Asosiasi Dokter India, Dr Navjot Dahiya menyebut Modi seorang “super-spreader” atau penyebar virus terkuat.

Modi justru menekan pertanggungjawaban pemerintah negara bagian yang minim persiapan dan peralatan untuk menghadapi krisis ini, menurut para pengkritik.

“Itu kejahatan terhadap kemanusiaan,” tulis penulis dan aktivis Arundhati Roy terkait penanganan krisis Covid-19 oleh Modi.

“Pemerintah asing bergegas membantu. Tapi sepanjang pembuat keputusannya masih Modi, yang telah menunjukkan dirinya tidak mampu bekerja dengan ahli atau hanya ingin mengamankan tujuan politiknya yang sempit, itu layaknya menuangkan bantuan ke dalam sebuah saringan.”

Profesor sains Universitas Ashoka, Gautam Menon, mengatakan sistem kesehatan yang rentan tidak cukup ditingkatkan.

“Dan dengan lonjakan terbaru, kita melihat inilah konsekuensi akibat tidak melakukan hal itu,” jelasnya.

Ketika kasus mereda pada Januari, Modi membanggakan keberhasilan India, mengatakan kepada para pemimpin dalam Forum Ekonomi Dunia negaranya telah menyelamatkan kemanusiaan dari bencana besar dengan menghentikan virus corona. [pan]