Breaking News in Indonesia

Pengamat Sebut Kebakaran di Jakarta akibat Lemahnya Penataan Permukiman

Kebakaran hebat menghanguskan bangunan Pasar Inpres, Pasar Minggu, Senin (12/4) sekitar pukul 21.20 WIB. Api baru berhasil padam pada Selasa (13/4) dini hari.

Sebelum Pasar Inpres, kebakaran juga terjadi di Pasar Kambing, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (8/4). Pada Kamis (25/3), kebakaran terjadi di permukiman padat penduduk di Matraman, Jakarta Timur, yang menyebabkan 10 warga meninggal dunia.Kejadian-kejadian ini menunjukkan si jago merah begitu mudah mengamuk di Jakarta.

Menurut Pengamat Kebijakan Publik dari Universtas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, kebakaran yang terjadi dalam kurun waktu cukup dekat disebabkan masih lemahnya kebijakan pemerintah provinsi dalam hal penataan permukiman.

Berkaca pada kebakaran di Matraman, Trubus meyakini tidak ada akses masuk-keluar di suatu area pemukiman padat penduduk. Padahal ini menjadi penting agar masyarakat dapat langsung mengevakuasi diri saat terjadi musibah.

Dia menilai kondisi ini mencerminkan Pemprov DKI lemah dalam menerapkan Undang-Undang Penanggulangan Bencana. “Lemah di dalam menerapkan Undang-Undang Nomor 24 tentang Penanggulangan Bencana di mana di situ ada mengenai kesiapsiagaan,” ujar Trubus, Selasa (13/4).

Lemahnya penerapan Undang-Undang Penanggulangan Bencana menyebabkan rendahnya tingkat waspada masyarakat. Hal ini ditandai dengan minimnya pengetahuan masyarakat tentang kewaspadaan keamanan listrik, alat rumah tangga berpotensi menimbulkan kebakaran.

“Masyarakat itu tidak pernah diberikan bimbingan maupun edukasi terhadap kesiapsiagaan ketika dia tinggal di suatu pemukiman yang padat,” tandasnya.

Selain itu, Trubus juga menyoroti letak pasar dengan lokasi pemukiman. Sepatutnya, terdapat jarak aman antara pasar dengan pemukiman penduduk untuk meminimalisasi dampak kebakaran.

Mengutip data dari jakartafire.net/statistic sejak awal 2021 sampai 15 Maret terjadi 260 kasus kebakaran, 908 kali upaya penyelamatan, dan kerugian ditaksir mencapai Rp 31.912.650.000.

Berdasarkan data kebakaran 2020, penyebab utama kebakaran adalah korsleting listrik sebanyak 640 kasus, rokok 19 kasus, kompor 132 kasus, dan lain-lain 297 kasus.

belum berhasil mendapat konfirmasi dari pihak Pemprov DKI mengenai hal ini. [yan]