Pemkot Tasikmalaya Butuh Anggaran Rp 10 Miliar untuk Menangani Covid-19

Irene

Pemkot Tasikmalaya Butuh Anggaran Rp 10 Miliar untuk Menangani Covid-19

Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman mengungkapkan kekurangan anggaran Rp 10 miliar untuk menangani Covid-19 setelah kasus warga terpapar melonjak. Budi mengatakan, uang tersebut diperlukan untuk menyewa 2 hotel dijadikan rumah sakit darurat hingga kontrak perawat dan dokter spesialis baru.

“Setelah melakukan rapat beberapa kali, kita kekurangan biaya untuk penanganan Covid-19 sebanyak Rp 14 miliar. Kita ada sisa anggaran Rp 4 miliar dan kurangnya Rp 10 miliar. Soalnya kalau dicanangkan di APBD sudah enggak bisa,” kata Budi, Sabtu (3/10).

Menurut dia, saat ini di Kota Tasikmalaya sudah tidak ada lagi tempat isolasi karena seluruh rumah sakit hingga ruang isolasi lainnya telah dipenuhi pasien yang terpapar Covid-19. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan pasien positif Covid-19 setelah diswab dari klaster pesantren yang terus bertambah.

“Saat ini kita masih melakukan tracking dan tracing. Dengan kondisi ini kita akan berupanya menyiapkan lagi rumah sakit darurat di dua hotel. Sekarang masih proses negosiasi. Kalau hotel itu penuh juga, kita akan akan aktifkan GOR komplek Dadaha untuk dijadikan rumah sakit darurat,” ujar dia.

Pemkot Tasikmalaya lebih fokus menjadikan hotel sebagai tempat isolasi karena bentuknya sudah kamar dan fasilitas sanitasi lainnya sudah lengkap sehingga layak dijadikan ruang isolasi. Hal tersebut berbeda dengan GOR yang masih butuh fasilitas pendukung lainnya karena kondisinya yang terbuka.

Budi mengungkapkan sudah melayangkan surat permohonan dukungan penanganan Covid-19 secara resmi kepada Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Dia berharap permohonan itu bisa cepat direalisasikan guna memperlancar proses penanganan pasien Covid-19 di Kota Tasikmalaya yang saat ini tengah membludak.

Ia mengaku bahwa lonjakan jumlah pasien saat ini tidak terprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, diperlukan kontrak baru untuk perawat, dokter spesialis, hingga sewa tempat untuk rumah sakit darurat.

”Meski katanya sewa hotel dibayar oleh pusat, kita jaga-jaga jika pasien terus membludak sekarang ini,” katanya. [gil]

Next Post

Dilarang Goda Wanita Pecel Lele, Sopir Travel di Pagaralam Tantang Polisi Berkelahi

Seorang anggota Polres Pagaralam, Sumatera Selatan, berinisial Bripka AF dilaporkan kasus penganiayaan. Korbannya adalah sopir travel yang menantangnya berkelahi. Korban bernama Niko Andesta warga Kelurahan Kandang Emas, Kecamatan Kampung Melayu, Bengkulu, melaporkan kasus ini ke polisi. Dia mengalami luka lebam di mata kanan dan luka robek di tangan kini yang […]