Panggilan Mulia untuk Tenaga Kesehatan

Irene

Panggilan Mulia untuk Tenaga Kesehatan

Semangatnya tidak pernah menurun dalam menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan (Nakes). 35 tahun sudah Yadi Siswanto mendedikasikan diri, bekerja sebagai Nakes di Puskesmas Bangsri I, Jepara, Jawa Tengah. Baginya, pekerjaan sebagai pelayan kesehatan adalah panggilan mulia yang wajib ditunaikan penuh dengan tanggung jawab.

Di mata rekan sejawat, Yadi dikenal sebagai sosok pekerja keras dan mencintai profesi. Semangat dan kesabarannya selama menjalankan tugas, menjadi ingatan manis yang selalu dikenang. Meski pandemi, Yadi selalu berada di garda depan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Yadi menghadap Sang Khalik usai dipastikan tertular Covid-19.

“Almarhum itu pekerja keras karena mencintainya profesinya sebuah panggilan. Jadi apapun pekerjaan yang menyangkut kesehatan, dilakukan,” kata Kepala Puskesmas Bangsri I Jepara Umi Widi Hastuti saat dikonfirmasi, Jumat (25/9).

Masih jelas dalam ingatan Umi dalam mengenang sosok Yadi. Pernah suatu hari ketika Yadi dalam kondisi sakit, masih berupaya melakukan penyuluhan kesehatan di beberapa tempat dan sejumlah pondok pesantren di Jepara. Dengan semangatnya, pria yang termasuk senior di profesinya itu tetap bekerja.

“Sampai tugas apa pun dilakukan seperti melakukan screning aktivitas warga di batas kota. Selain itu memantau kesehatan ke sejumlah Ponpes di Jepara,” ungkapnya.

Melihat terlalu tekun dalam pekerjaan, Umi pernah menemui Yadi dalam kondisi tidak sehat saat bekerja. Ketika itu dia diminta untuk dilakukan perawatan di Puskesmas tempat bekerja karena kondisinya sudah lemas.

“Saya ajak ngobrol, tahu suara serak dan loyo. Saya khawatir langsung undang rekan perawat lain untuk di rawat dengan infus,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kondisi kesehatannya, Yadi diminta untuk dirujuk di RSI Sultan Hadlirin Jepara. Sesampainya rumah sakit, tim medis mengevaluasi hasil rontgen mengarah pada Covid-19.

Kondisi kesehatan menurun saat dirawat di RSI, akhirnya dibawa ke RS Rehatta Kelet, Jepara. Saat itu keadaannya sudah sesak napas, selama perawatan 12 hari kembali dirujuk ke RS Solo.

“Pas mau dibawa masuk ambulans, Pak Yadi alami serangan jantung dan kembali dilakukan perawatan. Tapi nyawanya tidak tertolong,” ungkapnya.

Kepala Puskesmas Bangsri 2 Jepara dr Murtono mengaku mengenal sosok Yadi bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Terbukti, pria yang sudah mengabdi 35 tahun beberapa tugas tanpa ada perintah selalu dikerjakan.

“Seperti penyuluhan di beberapa Ponpes yang dirasa sangat sulit dipantau, dia (almarhum) bisa masuk dan memberikan penyuluhan kesehatan pada santri santriwati. Beliau dulu juga dikenal ramah sama warga saat datang berobat,” kata Martono yang juga menantu Almarhum Yadi Siswanto.

Tidak ada pesan saat Yadi dipanggil Sang Khalik pada 25 Juni 2020. Keluarga berduka saat melepas kepergian Yadi. Perawat tersebut telah purna tugas.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan banyaknya tenaga kesehatan yang gugur akibat positif Covid-19 sampai saat ini belum diketahui penularannya.

“Kita sedang audit lanjut untuk menentukan penularan dari mana itu sulit sekali ditentukan. Karena Nakes (tenaga kesehatan) itu hidup di berbagai tempat seperti rumah, masyarakat, pergaulan dan fasilitas kesehatan tempatnya bekerja. Jadi tidak mudah kita membuktikan dengan asumsi, kecuali memang sudah nyata nyata tertular dari pasien yang dirawat positif Covid, nah itu kira baru asumsi kuat ketularan di tempat kerja,” kata Yulianto Prabowo.

Terkait Nakes yang gugur, tidak semuanya terinfeksi di fasilitas kesehatan tempat bekerja. Ada sebagian tertular dari luar rumah sakit.

“Tetapi ini sekali lagi adalah hasil review yang lebih banyak pada historis bukan pada bukti nyata, karena kita tidak bisa melakukan suatu penelitian yang lebih mendalam tentang perilaku virus,” ungkap Yulianto. [cob]

Next Post

Bertambah 9, Total Pasien Positif Corona di Magetan 352 Orang

Jumlah pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Magetan, Jawa Timur bertambah sembilan orang, sehingga total kasus hingga Jumat (25/9) menjadi 352 orang. Kepala Diskominfo Kabupaten Magetan Saif Muchlissun mengatakan, tambahan sembilan pasien tersebut terdaftar sebagai kasus Nomor 344 hingga 352. Mereka berasal dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Magetan. “Pada […]