Kuala Lumpur () – Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Teknologi Malaysia (PPI UTM) Johor Bahru memprakarsai diskusi kebahagiaan dalam rangkaian program "Lingkar Afeksi: Happiness Campaign" yang dilaksanakan dari 1 September – 4 September 2021 secara virtual.

"Program ini berisikan berbagai kegiatan berbeda yang dibuka dengan kampanye apa itu kebahagiaan yang diikuti lebih dari 2700 peserta dari seluruh pelosok tanah air yang terdata di grup Telegram," ujar panitia dari PPI UTM, Rifky Pramudita Mahendra, di Johor, Malaysia, Minggu.

Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Departemen Sosial dan Hubungan Masyarakat PPI UTM 2020/2021.

Dia mengatakan kesehatan mental merupakan salah satu hal yang seringkali dianggap sepele terutama di kalangan remaja.

Namun, ujar dia, kesehatan mental memiliki peran besar dalam hidup setiap orang, tidak hanya bagi mereka yang sudah dewasa, namun anak-anak dan remaja tanpa pengecualian.

Karena itu, Departemen Sosial dan Hubungan Masyarakat PPI UTM 2020/2021 menjadikan isu pentingnya kesehatan mental sesuatu yang ditekankan kepada anggota.

"Di hari pertama hingga ketiga seluruh peserta diminta untuk mengunggah poster berisikan pesan 'apa itu kebahagiaan?' pada akun sosial media Instagram masing-masing," katanya.

Baca juga: Pandemi buat orang punya pandangan berbeda soal kebahagiaan

Hari terakhir pada 4 September pukul 19.40 WIB rangkaian kegiatan ini ditutup dengan webinar berjudul “What does happiness actually mean?” yang diisi oleh seorang psikolog muda yang sudah lama berkecimpung di bidang kesehatan mental, Muhammad Dadang S.Psi.

"Webinar berjalan dengan sangat interaktif dengan banyak interaksi pembicara dengan peserta yang jumlahnya hampir 800 orang di dalam platform Zoom dan 1.300 views yang tercatat di kanal YouTube PPI UTM," katanya.

Pelaksaan webinar mengalami perpanjangan waktu karena banyaknya pertanyaan dan cerita yang dibagikan oleh peserta.

"Kegiatan diadakan dengan harapan agar masyarakat Indonesia, khususnya anggota PPI UTM bisa lebih teredukasi akan pentingnya bahagia dalam kehidupan," katanya.

Baca juga: Cerita Nadia Ahadi tentang berbagi kebahagiaan lewat "Cloud 9"

Dalam diskusi pembicara mengatakan seringkali kita tidak bahagia dikarenakan hal-hal kecil atau sepele namun banyak sebenarnya yang masih bisa kita syukuri.

"Ada kalanya juga hal-hal besar yang membuat kita sedih atau marah, namun dengan menyadari keberadaan hal-hal kecil yang positif di sekitar kita, kita pun bisa bisa bahagia," katanya.

Kebahagiaan setiap orang itu bersifat relatif dan berbeda-beda setiap individunya.

"Tak seperti matematika, Bahagia tak memiliki tolak ukur dan metode pasti, jadi di sinilah peran kita untuk mencari kebahagiaan kita masing-masing di dunia ini," katanya.

Baca juga: UI berangkatkan mahasiswa beasiswa IISMA ke universitas Asia-Eropa-AS


Baca juga: 30 mahasiswa Indonesia di Nanjing terkunci di dalam kampus

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2021