Kota Tangerang Telah Vaksinasi 100 Ribu Orang, 38 Ribu di Antaranya Lansia

Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Tangerang dr. Liza Puspadewi mengungkapkan, pihaknya telah melakukan vaksinasi kepada setidaknya 100 ribu warganya. Sebanyak 38 ribu di antaranya merupakan lansia dengan usia tertua 102 tahun.

“Vaksin itu sebagai upaya pemerintah, dan saat ini disepakati oleh dunia untuk mengendalikan Covid-19,” kata dr. Liza dalam talkshow Ramadan bertajuk Vaksinasi Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi di Bulan Ramadan, Jumat (16/4).

Dia menambahkan, untuk vaksinasi terhadap lansia, pihaknya memberlakukan layanan khusus. Di antara vaksinasi dilakukan dekat dengan domisili lansia agar meminimalisasi kendala akses.

Terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), dr. Liza menyebut amat kecil dan ringan. Termasuk kepada warga yang telah berusia 102 tahun yang telah divaksinasi. “Di Indonesia pun belum ada KIPI yang berat,” ujarnya

Dalam kesempatan yang sama, praktisi kesehatan dr. Al Ghufron menambahkan, vaksinasi adalah suatu upaya yang dilakukan pemerintah agar pandemi segera berakhir dan ekonomi bisa kembali pulih. Targetnya 70-80 persen masyarakat sudah memiliki antibodi sehingga tercipta yang biasa disebut herd immunity atau kekebalan imunitas. Kalaupun ada yang terinfeksi bisa mengurangi risiko gejala yang berat atau kematian.

“Jika diperhatikan, setelah ada vaksinasi massal, berita soal kematian tenaga medis berkurang banyak. Vaksinasi berjalan kita sudah bisa merasakan dampak baiknya,” kata dr. Al Gufron.

Dia juga menjelaskan, gejala KIPI ada yang ringan, sedang, dan berat. Ringan itu biasanya pegal, nyeri. Adapun gejala sedang seperti demam layaknya anak-anak yang habis imunisasi. Berat biasanya disebabkan alergi bawaan terhadap bahan yang ada di vaksin. “Hingga saat ini belum ada laporan hingga terjadi KIPI berat,” ujarnya.

Dia pun menyinggung tantangan dalam penanganan Covid-19 yakni menyebarnya berita atau informasi hoaks. dr. Al Ghufron bahkan menyebut ada salah satu penelitian yang mengungkap Indonesia salah satu penyumbang berita hoaks terbesar di dunia terkait Covid-19.

“Mungkin itu yang menyebabkan kenapa pandemi di Indonesia lebih lama daripada negara lain. Makanya sekarang selalu diingatkan, saring sebelum sharing. Ketika menerima berita atau informasi harus dicek dulu kebenarannya,” katanya. [bal]