Kontribusi Kebudayaan Dinilai belum Sepenuhnya Mendukung Pembangunan Ekonomi

Indonesia memiliki kekayaan kebudayaan yang berlimpah. Namun hal tersebut belum dibarengi adanya pengembangan industri kreatif untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menunjukkan kontribusi kebudayaan dalam mendukung pembangunan ekonomi masih perlu terus ditingkatkan.

Ketua tim penelitian, Unggul Sudrajat menuturkan bahwa pengelolaan kekayaan budaya melalui ekonomi kreatif merupakan suatu upaya menciptakan nilai tambah dari suatu hak kekayaan intelektual yang lahir dari kreativitas manusia yang berdasar pada ilmu pengetahuan, warisan budaya dan teknologi.

“Konteks pengelolaan kekayaan budaya melalui industri kreatif, maka ada proses yang dilalui dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, konservasi dan tentu saja melibatkan pasrtisipasi publik. Dalam hal ini, pijakan dari pengembangan ini haruslah senantiasa merujuk pada strategi pemajuan kebudayaan yang bertumpu pada pelindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan,” kata Unggul dalam rapat virtual yang dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, Kamis (22/4).

Hasil penelitian yang tertuang dalam Indeks Pembangunan Kebudayaan Tahun 2018, menunjukkan pembangunan kebudayaan Indonesia cukup baik, namun masih perlu terus ditingkatkan. Nilai Indeks Pembangunan Kebudayaan pada tingkat nasional dengan rentang nilai 0–100 sebesar 53,74.

Adapun nilai untuk setiap dimensi sebagai berikut: dimensi ekonomi budaya (30,55), dimensi pendidikan (69,67), dimensi ketahanan sosial budaya (72,84), dimensi warisan budaya (41,11), dimensi ekspresi budaya (36,57), dimensi budaya literasi (55,03), dan dimensi kesetaraan gender (54,97).

“Dapat disimpulkan bahwa dimensi ketahanan sosial budaya memiliki nilai paling tinggi, sementara dimensi ekonomi budaya memiliki nilai paling rendah dibandingkan dengan dimensi lainnya. Hal ini menunjukkan, bahwa kemampuan kebudayaan Indonesia dalam mempertahankan dan mengembangkan identitas, pengetahuan, dan praktik budaya pada kehidupan sosial cukup baik. Namun kontribusi kebudayaan dalam mendukung pembangunan ekonomi masih perlu terus ditingkatkan,” tambah Unggul.

Rapat yang virtual tersebut dipusatkan di Hotel Sotis Kemang Raya, Jakarta. Yakni melakukan kajian tentang pengelolaan kekayaan budaya melalui pengembangan industri kreatif untuk kesejahteraan masyarakat.

Acara dihadiri Harry Waluyo dari Jejaring Global Fasilitator ICH-UNESCO, Ahli Kebijakan Publik Universitas Nasional Rusman Ghazali, Kepala Bappeda Kota Pekalongan Anita Heru Kusumorini, Deni Kurniadi dan Sanny Megawati dari Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kota Bandung, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda, serta berbagai pihak terkait baik komunitas seperti Senapati Nusantara, peneliti Sraddha Institute maupun unsur media. [cob]