Jakarta () – Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) RI ikut berpartisipasi dalam Paviliun Indonesia di perhelatan Expo 2020 Dubai pada 8-14 Oktober ini, dengan membawa potensi bisnis hasil hutan Indonesia.

"Keikutsertaan KLHK pada Expo 2020 Dubai adalah untuk menunjukkan pada dunia tentang prestasi dan kemajuan Indonesia di bidang industri, teknologi, lingkungan hidup dan kehutanan. Hal ini dapat dilihat dari hasil hutan bukan kayu, hasil hutan kayu olahan, hingga produk yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar hutan," ujar Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong, melalui keterangan pers, Senin.

Lebih lanjut, KLHK hadir untuk mempromosikan dan membuka peluang investasi pada sektor kehutanan, berupa pengelolaan kawasan hutan dan pemanfaatan hutan, jasa wisata alam dan produk kayu serta turunannya.

"Perhelatan Expo 2020 Dubai juga merupakan ajang yang tepat untuk lebih jauh memperkenalkan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), yang merupakan upaya pemerintah dalam mendukung pertumbuhan produk kehutanan yang legal dan lestari," tambah Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari KLHK Agus Justianto.

SVLK merupakan wujud komitmen pemerintah untuk mengedepankan aspek sosial dan ekologi dalam proses pemanfaatan dan pengelolaan hutan.

Implementasi SVLK memberikan manfaat lain kepercayaan pasar yang lebih baik, akses pasar terutama ke pasar internasional, menekan laju kerusakan hutan, mendukung perbaikan tata kelola dan jaminan bagi mitra dagang atas bukti dan keterlacakan bahan baku dari sumber legal dan lestari.

SVLK telah berhasil menaikkan nilai ekspor produk kayu sebesar 91,7 persen sejak 2013 ke tahun 2019.

Hingga April 2021, kinerja ekspor industri hasil hutan naik 21,6 persen menjadi 4,42 miliar dolar AS (Rp63,14 triliun). Bahkan, Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dapat menjadi arus utama dalam pemanfaatan hutan di Indonesia sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan baik.

Adapun empat produk yang dibawa oleh KLHK yang mewakili produk-produk terbaik Indonesia dari hasil hutan bukan kayu (HHBK), hasil hutan kayu olahan, dan produk masyarakat sekitar hutan.

Beberapa HHBK yang dibawa ke Paviliun Indonesia adalah mulai dari komoditas rotan, kemenyan, hingga madu.

Parfum kemenyan kini hadir sebagai parfum kelas dunia dengan aroma yang wangi dan lembut. Meski tidak mengandung alkohol, parfum kemenyan dapat tahan lama hingga 16-24 jam.

Sedangkan produk hasil kayu olahan yang dibawa salah satunya adalah radio kayu tropis. Diproduksi dari pohon yang tumbuh di Indonesia, mulai dari pinus, mahoni, hingga sonokeling, ketiga pohon tersebut ternyata dapat menghasilkan resonansi suara yang sangat baik.

Di sisi lain, terdapat produk yang dapat mengatasi permasalahan sampah plastik yang telah menjadi masalah di seluruh dunia. Salah satu UMKM di Bangka Belitung menggunakan tanaman purun danau sebagai alternatif produk sedotan plastik.

Produk masyarakat sekitar hutan yang turut ditampilkan adalah kacang kenari dari Pulau Makian, Maluku Utara. Menjadi salah satu Produk HHBK, kacang kenari Makian disebut-sebut dapat memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian negara di sektor kehutanan.

Komoditas kopi juga turut andil dalam rolling exhibition, seperti kopi liberika yang ditanam di lahan gambut. Ada pula jenis kopi organik lainnya yang merupakan produk masyarakat sekitar hutan.

Baca juga: KLHK sebut adanya tren penurunan kasus karhutla di kawasan konservasi

Baca juga: KLHK perkuat tiga strategi cegah kebakaran hutan dan lahan

Baca juga: KLHK dan BRGM percepat rehabilitasi ekosistem mangrove

 

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © 2021