Jakarta () – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendukung program pelantar Indonesia Dance Festival (IDF) yang telah menghasilkan tiga karya dialog tari dan etnomatematika candi Borobudur sebagai bagian dari upaya pelestarian kebudayaan situs tersebut.

“Kemenparekraf terus mendukung setiap kegiatan yang sekiranya akan menjadi manfaat bagi keberlangsungan sebuah destinasi, baik destinasi kawasan budaya, kawasan alam, maupun destinasi buatan,” kata Direktur Event Nasional dan Internasional Kemenparekraf Dessy Ruhati saat membuka diskusi “Dermaga Bincang Tari”, ditulis pada Jumat.

Program yang diusung IDF tersebut bertajuk “Layar Terkembang 2021 seri Tubuh Mandala” untuk menyambut hari jadi IDF yang ke-30 tahun yang jatuh pada 2022.

Tiga karya tari yang mengeksplorasi pertemuan unsur tari dan etnomatematika digarap oleh tiga koreografer Indonesia, yakni Otinel Tasman dengan karyanya berjudul “0-Excelsior”, Fitri Setyaningsih dengan karya “Watu Gamping (Bilangan tak Tehingga)”, serta Retno Sulistyorini dengan karya “Selapan”. Ketiganya mengambil candi Borobudur sebagai titik inspirasi.

Ia mengapresiasi atas buah karya dari ketiga seniman tersebut sebab selama ini tari dan matematika tampak sebagai dua unsur yang saling bertolak belakang.

“Dunia tari tidak bisa terpisahkan dari diri kita sebagai insan yang berbudaya karena tari adalah mengekspresikan apa yang kita rasa apa yang kita pikir, sehingga menjadi satu kesatuan di dalam perjalanan hidup kita sebagai manusia,” kata Dessy.

Apalagi, tambahnya, candi Borobudur sendiri merupakan kebudayaan terbesar dalam peradaban manusia seperti terepresentasi di dalam relief-relief yang tergambar di dinding-dinding candi tersebut.

“Nilai yang ada di dalam Borobudur itu sangat luar biasa karena Borobudur merupakan salah satu contoh dari peradaban yang memang sangat besar,” tutur Dessy.

Selain itu, Dessy menyebutkan bahwa candi Borobudur juga telah dicanangkan Presiden RI sebagai salah satu dari lima destinasi superprioritas sehingga mendapatkan prioritas di dalam pengembangan destinasi wisata dan kebudayaan.

Melalui semangat kolaborasi, inovasi, dan adaptasi, Kemenparekraf menilai IDF memiliki kontribusi penting dalam upaya perkembangan tari kontemporer di Indonesia .

“Kami berharap kolaborasi dapat dilakukan dengan kerja sama yang penuh semua unsur pentahelix-nya. Kami melihat di sini sudah dilakukan, ada akademisi, bisnis, komunitas, pemerhati, hingga media,” ujar Dessy.

Baca juga: Percepat pengembangan DPSP, Kemenparekraf fokus berdayakan masyarakat

Baca juga: Pemerintah dorong pemanfaatan teknologi untuk pemulihan pariwisata

Baca juga: BMKG-Kemenparekraf-Kemenhub kerja sama demi pembangunan berkelanjutan

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © 2021