Keluarga Bongkar Makam dan Pindahkan Jenazah Anggota MIT

Irene

Keluarga Bongkar Makam dan Pindahkan Jenazah Anggota MIT

Jenazah anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang telah dimakamkan polisi, dibongkar dan diambil pihak keluarga. Mereka menolak pemakaman dilakukan di Palu dan tidak sesuai dengan permintaan keluarga.

Puluhan anggota keluarga dan kerabat dari almarhum Wahid alias Bojes, satu anggota MIT yang tewas ditembak aparat akhirnya membongkar kembali makam yang telah ditentukan Polda Sulteng pada Kamis (19/11).

Mereka menggali kuburan di TPU Kelurahan Poboya, Palu untuk mengambil kembali jenazah anggota keluarganya karena akan dimakamkan di kampung halamannya di Kecamatan Bolano, Kabupaten Parigi Moutong.

“Saya sudah sampaikan ke polisi kalau jenazah akan kami bawa ke kampung untuk dimakamkan tapi polisi tetap makamkan di sini. Keluarga yang lain sudah menunggu di kampung,” kata Yuni, ibu almarhum Wahid di TPU Poboya, Kamis (19/11). Dikutip dari Liputan6.com.

Setelah diambil dari kuburannya, jenazah lalu dimasukkan dalam peti yang langsung dibawa dengan ambulans ke Kabupaten Parigi Moutong.

Sementara itu, Tim Pengacara Muslim (TPM) yang mendampingi pihak keluarga menilai penolakan Polda Sulteng terhadap permintaan keluarga melanggar KUHP dan hak-hak keluarga.

“Upaya permohonan ke Polda Sulteng sudah kami buat tapi ditolak. Padahal dalam Pasal 77 KUHP jelas menyebut; ketika orang sudah meninggal maka tuntutan pidana atau perdata juga otomatis hilang. Kami menyayangkan sikap Polda Sulteng,” Anggota TPM Andi Akbar.

Sebelumnya pihak Polda Sulteng memakamkan dua jenazah anggota MIT yakni Wahid alias Bojes dan Aan alias Aziz di TPU Kelurahan Poboya, Kota Palu. Pemakaman itu dilakukan Kamis sekitar pukul 03.00 WITA usai dilakukan autopsi dan identifikasi terhadap jenazah. Hingga Kamis (19/11) pukul 21.30 WITA belum ada pernyataan resmi dari pihak Polda Sulteng terkait hal tersebut. [cob]

Next Post

Khawatir Orang Tua soal Sekolah Tatap Muka: Pemda Bisa Jamin?

Jakarta, Indonesia — Sejumlah orang tua siswa mempertanyakan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang memberikan kewenangan sekolah tatap muka ke pemerintah daerah. Salah satunya diutarakan Rulyanti (45), ibu dari siswa kelas X SMA di Jakarta Selatan. Ia mengaku tak akan mengizinkan anaknya sekolah jika pun sudah dibuka Januari 2021. “Kalau […]