Breaking News in Indonesia

Kadis Pariwisata DKI Tegaskan Dua Mafia Karantina di Bandara Bukan Anak Buahnya

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Gumilar Ekalaya memastikan pelaku mafia karantina di Bandara Soekarno Hatta bukan Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun pegawai Penyedia Jasa Perorangan Lainnya (PJLP) di Jakarta.

“Dua oknum tersebut tidak pernah tercatat sebagai pegawai Penyedia Jasa Perorangan Lainnya (PJLP) Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta,” ujar Ekalaya, Jumat (30/4).

Dua pelaku yang dimaksud berinisial RW dan S. Keduanya diduga meloloskan warga negara Indonesia dan warga negara asing, dari pintu kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta tanpa melalui protokol kesehatan.

Saat melakukan aksinya, kedua pelaku menggunakan kartu pas bandara untuk Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Setelah dilakukan penelusuran, Gumilar menyatakan, dua orang tersebut bukan ASN ataupun pensiunan ASN.

Gumilar menambahkan, Dinas Parekraf memang memiliki booth Tourist Information Center (TIC) yang terletak di terminal kedatangan 2 D Bandara Soekarno Hatta, dan menugaskan pegawai PJLP dengan ruang lingkup kerja pekerjaan untuk memberikan informasi pariwisata kepada wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara tentang pariwisata yang ada di Jakarta.

“Namun, ruang kerja pegawai PJLP adalah di dalam booth Tourist Information Center (TIC) yang berlokasi di area umum bandara, dan tidak memiliki akses khusus di area terbatas Bandara Soekarno-Hatta,” ujarnya.

Mafia karantina tidak hanya dilakukan oleh RW dan S. Polisi mendapat informasi, ada dua warga negara India yang lolos masuk ke Tanah Air tanpa karantina. Kasus WNA itu terungkap setelah dilakukan pengembangan penyelidikan terhadap S dan RW.

“Ada lagi (kelompok lain) makanya kita telusuri semuanya. Makanya pengakuan Warga Negara Asing yang sudah kita amankan. Ini melewati orang lain dengan menggunakan modus yang sama. Ini masih kita dalami,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus.

Yusri menjelaskan, dua warga India yang sudah diamankan itu dapat masuk ke dalam Indonesia bukan melalui jasa atau perantara S dan RW. Mereka menggunakan kelompok mafia karantina lain dengan modus serupa dilakukan S dan RW.

“Tetapi orang yang berbeda dengan orang yang mengaturnya berbeda. Ini masih kita dalami ada kemungkinan dua lagi,” ujar dia. [rnd]