Indef Pertanyakan Skema Perizinan Usaha di UU Cipta Kerja

Irene

Indef Pertanyakan Skema Perizinan Usaha di UU Cipta Kerja

Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Dhyatmika mempertanyakan terjadinya perubahan skema perizinan berusaha di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Di mana dari yang sebelumnya sama, kini perizinan diatur berbeda-beda sesuai dengan tingkat risikonya masing-masing.

“Jadi yang pertama simpelnya ada yang dianggap risiko tinggi izinnya. Banyak dianggap prosesnya dan pengawasannya dianggap risiko rendah itu lebih sedikit izin dan pengawasannya, walaupun pertanyaan berikutnya adalah siapa yang meriset?,” kata dia dalam diskusi virtual di Jakarta, Jumat (13/11).

Dia pun mempertanyakan, siapa yang meriset dan mengatur skema perizinan tersebut. Apakah dilakukan di pusat, pemerintah daerah, atau juga melibatkan akademisi yang mendesain skema perizinan tersebut.

“Khusus daerah hutan dan pedalaman juga tidak ada data di sana. Jadi secara konsep cukup teruji tapi ketersediaan data dan analitis di pemda cukup berbeda,” jelas dia.

UU Cipta Kerja dibuat untuk mempermudah perizinan usaha dari yang awalnya berbasis izin menjadi berbasis risiko dan skala usaha. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 7 BAB III. Tingkat risiko adalah potensi terjadinya bahaya terhadap kesehatan hingga lingkungan.

Untuk bisnis berisiko rendah perizinan usaha hanya cukup dengan Nomor Induk Berusaha (NIB). Bisnis berisiko menengah izinnya ditambah dengan pemenuhan sertifikat standar. Sedangkan yang berisiko tinggi membutuhkan persetujuan dari pemerintah pusat untuk memulai usaha.

Pada pasal berikutnya menyebutkan penghapusan izin lokasi dengan kesesuaian tata ruang. Kemudian integrasi persetujuan lingkungan dalam izin berusaha. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) hanya untuk kegiatan usaha berisiko tinggi terhadap lingkungan. UU Ciptaker juga menghapus syarat investasi yang ada dalam UU sektor, dan memindahkannya ke dalam Peraturan Presiden Daftar Prioritas Investasi. [azz]

Next Post

29 Persen Masyarakat Indonesia Tak Tahu 3T Bisa Putus Penularan Covid-19

Managing Director IPSOS Indonesia, Soeprapto Tan, mengungkapkan 29 persen masyarakat Indonesia tidak paham bahwa 3T (Tracing, Testing, Treatment) bisa memutus rantai penularan Covid-19. Sementara 71 persen masyarakat mengaku paham terhadap 3T. “Masih ada sekitar 29 persen itu yang tidak even aware, mereka enggak ngerti sebenarnya 3T itu apa,” kata Soeprapto, […]