Jakarta () – Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) menghadirkan pameran desain dan seni kontemporer mulai Kamis ini hingga 28 November 2021 yang berlangsung secara hybrid dengan tema "PUBLIK".

Tema ini sebagai elemen yang tak terpisahkan dari seni, memicu perhatian dan diskusi mengenai bagaimana hubungan sebuah karya seni dan
publiknya dapat saling terkait.

“Sejalan dengan tema ICAD XI, 'Publik', kami ingin memperkuat dan memperluas pengalaman publik
serta menjadi selebrasi desain dan seni kontemporer Indonesia," kata Festival Director, Edwin Nazir melalui siaran persnya, Kamis.

Berbeda dari sebelumnya, pameran ICAD tahun ke- 11 ini tidak hanya berlangsung di venue utama (grandkemang Hotel Jakarta) tetapi juga bekerja sama dengan berbagai venue dan brand yang dikurasi di #KEMANG12730 untuk merayakan desain
dan seni yang unik dan khas Jakarta Selatan.

Pameran sendiri dikonsentrasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu In Focus (seniman dan desainer terkemuka dari Indonesia yang diundang), Artis Tamu (seniman dan desainer internasional yang diundang), Next Gen (seniman muda inovatif yang diundang), dan Open Submission.

Selain instalasi spesial dari B.J. Habibie dan Irvan A. Noe’man, ICAD juga menampilkan puluhan
desainer, seniman, arsitek, musisi, komunitas dan institusi Indonesia dan internasional, di
nya: Aditya Fahrizal Hafiz (Indonesia), Adrianto Sinaga (Indonesia), Arahmaiani (Indonesia), Arum Tresnaningtyas (Indonesia), Awan Simatupang (Indonesia), Budi Pradono (Indonesia), Budi Santoso (Indonesia), Bujangan Urban (Indonesia).

Baca juga: ICAD selenggarakan kolaborasi budaya Ayatana bernuansa Minang

Lalu, Cakradara Andiani (Indonesia), Dea Widya (Indonesia), Eddi Prabandono (Indonesia), Eldwin Pradipta (Indonesia), Festival Relics (Indonesia)
Fluxcup (Indonesia), Forum Sudut Pandang (Indonesia), Gubuak Kopi (Indonesia), Handoko Hendroyono (Indonesia), Hestu Setu Legi (Indonesia)
Festival Relics (Bagus Pandega, Randy Danistha, Nara Anindyaguna, Coune) (Indonesia), Patrick Hartono (Indonesia), Irwan Ahmett (Indonesia),
Jatiwangi Art Factory (Indonesia), Jumaldi Alfi (Indonesia), Komikazer/Reza Mustar (Indonesia), Naomi Samara (Indonesia), Nina Nuradiati (Indonesia).

Ada juga karya dari Nindityo Adipurnomo (Indonesia), Panji Wisesa (Indonesia), Ridwan Kamil (Indonesia), Sheila Rooswitha Putri (Indonesia), Taba Sanchabakhtiar (Indonesia) Vendy Methodos (Indonesia), Aung Myat Htay (Myanmar), Bo Wang (Cina), Charles Lim (Singapura), Goran Despotoyski (Serbia), Mark Salvatus (Filipina), Takashi Makino (Jepang), Nicolas Champeaux dan Gilles Porte (Prancis).

Selain pameran seni, ICAD juga siap menghadirkan lebih dari 35 program, seperti pemutaran film, masterclass, diskusi, workshop, dan penampilan daring yang diselenggarakan bersama institusi mitra lokal dan internasional untuk berbagi wawasan dan inspirasi, tanpa dipungut biaya.

Program yang bakal dihadirkan lain: roundtable (daring) yang diselenggarakan dengan Superstudio, Milan membahas perkembangan seni dan desain di Indonesia dan Italia bersama Gisella Borioli (Pendiri dan CEO, Superstudio Group), Diana Nazir (Pendiri dan Direktur, ICAD), Fulvia Ramogida (Ketua Relasi, Superstudio Group) dan Christopher Tanihaha (Desainer Indonesia di Milan).

Ada juga roundtable (daring) bersama London Design Biennale (LDB), London menghadirkan perwakilan LDB, serta Pavilion Indonesia di LDB yakni Victoria Broackes (Direktur, LDB), Dea Widya (Seniman, Paviliun Indonesia
di LDB), Joshua Simanjuntak (Juri, Paviliun Indonesia di LDB). Mereka akan membahas keterlibatan Indonesia di perhelatan internasional bergengsi.

Selain itu, akan digelar diskusi daring dari Institut Francais d’Indonesie (IFI), menghadirkan desainer Indonesia dan Perancis yakni Amaury Poudray, Alvin T, Francis Surjaseputra dan lainnya dengan topik yang berhubungan dengan perkembangan dan masa
depan desain.

Baca juga: 34 seniman unjuk karya di Biennale Jogja XVI Equator #6 2021

Baca juga: Bandara Internasional Yogyakarta gelar pentas seni dan pameran wayang

Baca juga: Galeri Nasional Indonesia gelar pameran seni rupa daring "POROS"

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © 2021