Breaking News in Indonesia

Hasil Tes di Atas Rata-Rata, Penyidik KPK Penerima Suap Kehilangan Integritas

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengatakan penyidik Stepanus Robin Pattuju (SRP) bergabung ke KPK sejak 1 April 2019 dengan hasil tes di atas rata-rata. Namun integritasnya diduga berkurang atau hilang sehingga mau menerima suap.

“Saudara SRP masuk KPK tanggal 1 April 2019,” kata Firli saat jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/4) malam.

Stepanus Robin bersama dan seorang pengacara Maskur Husain (MH) telah ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dari tersangka pemberi Wali Kota Tanjung Balai M Syahrial (MS). Pemberian suap itu terkait penanganan perkara Wali Kota Tanjung Balai yang tengah ditangani KPK.

“Hasil tesnya menunjukkan sebagai berikut. Potensi di atas rata-rata di atas 100 persen, yaitu di angka 111,41 persen. Hasil tes kompetensi di atas 91,89 persen. Artinya, secara persyaratan mekanisme rekrutmen tidak masalah,” ujar Firli.

Kendati demikian, Firli pun menyatakan bahwa seseorang dapat berbuat korupsi karena berkurangnya integritas. “Tetapi kenapa terjadi? Saya pernah sampaikan ke rekan-rekan semua bahwa korupsi terjadi karena berkurangnya integritas. ’Corruption equal to power plus authority minus integrity’. Itulah yang harus kita jaga bagaimana kita bisa memperkuat integritas,” ujar Firli pula.

Stepanus bersama Maskur sepakat untuk membuat komitmen dengan Syahrial terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai untuk tidak ditindaklanjuti oleh KPK, dengan menyiapkan uang sebesar Rp1,5 miliar.

“MS menyetujui permintaan SRP dan MH tersebut dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik RA (Riefka Amalia/swasta) teman dari saudara SRP dan juga MS memberikan uang secara tunai kepada SRP hingga total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp1,3 miliar,” kata Firli.

Dia menyatakan, pembukaan rekening bank oleh Stepanus menggunakan nama Riefka dimaksud telah disiapkan sejak Juli 2020 atas inisiatif Maskur. “Setelah uang diterima, SRP kembali menegaskan kepada MS jaminan kepastian bahwa penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjung Balai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK,” ungkap Firli.

Kemudian, dari uang yang telah diterima Stepanus dari Syahrial, kata Firli, diberikan kepada Maskur sebesar Rp325 juta dan Rp200 juta.

Selain itu, KPK menduga Stepanus tidak hanya menerima uang dari Syahrial. “MH juga diduga menerima uang dari pihak lain sekitar Rp200 juta, sedangkan SRP dari bulan Oktober 2020 sampai April 2021 juga diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama RA sebesar Rp438 juta,” jelasnya. [yan]