Gebrakan Bupati Sumba Timur Kristofel Praing Tangani Covid-19

Irene

Setelah dilantik sebagai Bupati Sumba Timur, Kristofel Praing langsung tancap gas menangani persoalan di daerah tersebut. Terutama penanganan dan pencegahan Covid-19.

Selain itu, Bupati Kristofel juga menyoroti sektor ekonomi di Sumba Timur. Bupati Kristofel ingin ekonomi segera menggeliat setelah terdampak Covid-19.

Berikut wawancara lengkap redaksi dengan Bupati Sumba Timur Kristofel Praing, Rabu (3/3):

Bagaimana penanganan Covid-19 di Sumba Timur?

Khusus di Sumba Timur untuk penanganan covid itu, terus terang saja saya di program 100 hari kerja di samping birokrasi pemerintahan itu, yaitu penanganan covid. Hari pertama ketika saya bekerja saya langsung mengunjungi posko covid untuk memastikan kalau semua itu bekerja, semua siap melaksanakan tugasnya masing-masing. Dengan mendapatkan data yang nantinya kita olah menjadi informasi sehingga kita tahu apa yang kita lakukan, bagaimana caranya kita melakukan itu.

Berapa jumlah rumah sakit rujukan di Sumba Timur?

Satu rumah sakit rujukan, karena alat yang memadai di rumah sakit umum.

Apa di dalam rumah sakit sudah lengkap fasilitasnya?

Iya, lengkap untuk secara keseluruhan minimal standar nya sudah ada seperti ventilator dan seterusnya, dokter yang menangani ada. Tapi saat ini syukurnya semakin menurun.

Untuk vaksin bagaimana di Sumba Timur?

Ya vaksin, karena memang itu terbatas kami menunggu lagi dari pemerintah pusat. Tapi untuk tenaga kesehatanya itu sudah vaksin dan petinggi-petinggi yang kemarin sudah.

Bapak sudah vaksin?

Belum saya, karena saya baru menjadi bupati beberapa hari. Sebelumnya kan saya rakyat jelata.

Saat covid ekonomi yang turun, bagaimana solusinya?

Ini memang menjadi tantangan sendiri bagi pemerintah daerah, di satu sisi kita harus menerapkan Prokes yang ketat. Satu yang sama masyarakat juga harus hidup sektor formal harus tetap berjalan. Oleh karena itu secara bertahap kita lakukan pembatasan kegiatan masyarakat itu

Yang dulunya itu sekupnya lebih luas sekarang kita persempit, dengan adanya pelonggaran untuk aktivitas masyarakat masih bisa beraktivitas. Tapi pada saat yang sama kita perketat prokesnya, misalnya di pasar.

Misalnya, yang dulunya kita kasih kesempatan sampe jam 7 tutup, sekarang sampe jam 9 dan seterusnya. Tetapi prokesnya kita perketat.

Termasuk program 100 hari untuk ekonomi?

Iya termasuk program 100 hari saya, program 100 hari saya itu konsolidasi birokrasi karena kita tahu birokrasi ini personalisasi dari pemerintah. Karena kalau kita bicara negara, kita bicara pemerintah, kita bicara soal birokrasi. Kalau birokrasinya melempem, melempem juga ini negaranya, pemerintahnya. Makanya saya memulai dengan birokrasi.

Kedua, dalam program 100 hari saya adalah itu tadi penanganan covid ini kita pastikan. Kerja kita ini terukur, dengan Tahapan sesuai instruksi dari meneteri kesehatan. Sehingga kita terapkan dengan benar dengan pendekatan lokal Sumba. Termasuk stimulus-stimulus untuk masyarakat.

Dengan Kerjasama pemerintah provinsi, lalu kan sudah ada kebijakan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi.

Sektor pertanian juga penting, bagaimana langkah-langkah strategis dalam sektor pertanian?

Pertama kalau kita bicara Sumba ini 80 persen masyarakat itu petani, bukan maritim kalau orang Sumba.

Karena oleh karena itu kebijakan kita yang harus terfokus juga sektor pertanian, peternakan. Dan masalah di Sumba ini memang air. Kita setahun hanya 3 sampai 4 bulan saja air, dan hanya baru kali ini saja agak bagus.

Ini persoalan utama oleh karena itu kalau kita bisa menghadirkam air, di lahan2 kering saya kira itu baru bisa kita mengatasi ini. Saya sudah bicara ke pemerintah pusat tolong kami dibantu atas permasalahan ini air untuk dikirimkan air. Karena kalau kehidupan tidak air, tidak bisa. Jadi harus ada airnya.

Tadi selain pertanian, ada pertenakan. Ada pertenakan kuda, sapi, kerbau, itu terbaik. Bagaimana menangani sektor peternakan ini?

Yang pertama kita harus pastikan populasinya, khusunya sapi ini kan. Pusat pengembangan sapi ongole itu ada di Sumba. Dan kuda sandel asli ini ada di sini. Oleh karena itu terkait leading untuk sapi ongole, kuda asli itu harus kita pertahankan sebagai ciri khas itu sendiri.

Khusunya Sumba timur. Tapi pada saat yang sama juga kita tidak bisa menampik, populasinya sudah menurun. Nah sekarang saya mencoba meyakinkan pemerintah pusat, provinsi, kalau Sumba ini diperlukan perlakuan khusus untuk peternakan itu sendiri.

Perikanan bagaimana? Karena dengan laut yang luas di sini itu bagaimana?

Iya perikanan juga bagus, mudah-mudahan dengan akses yang kita miliki mungkin saja bisa terkelola dengan baik.

Terus terang saja kalau hanya bergantung pada sektor pemerintah kabupaten saja itu cukup sulit. Harus bergantung sektor investor, swasta dalam dunia usaha, masyarakat sipil.

Soal destinasi wisata di Sumba Timur?

Iya pertama kita harus menyadari bahwa Sumba ini berkat yang diberikan Tuhan yang diakui dunia internasional bukan yang datang dari orang Sumba, dari orang NTT.

Tapi pengakuan itu datang dari luar, itu menjadi entry point kita. Kalau orang mengakui Sumba ini pulau terindah, maka kita harus berbenah diri pemerintahnya berbenah, pada level kecamatan, kabupaten, desa, sampai masyarakatnya berbenah.

Salah satu program saya adalah, mensinergikan ketika kita bicara pertenakan, pertanian.

Contoh, Sumba ini sebenarnya terus terang itu istri saya ini kan orang Batak. Pertama saya bawa dia ke sini, dia katakan belum pernah melihat pulau seperti ini saya berkeliling dari Aceh, di Kalimantan, Sulawesi katanya ini pulau terlalu indah.

Jadi keyakinan itu indah, tapi terkadang karena kita melihatnya sehari-hari jadi itu biasa-biasa saja gitu.

Jadi sebenarnya, kegagalan kita sendiri, yang jauh kita tidak menyadari bahwa Sumba ini indah cantik sekali. Maka ini yang harus kita jual, dalam arti keindahannya, kecantikannya sebagai wisata.

Program paling cepat untuk wisata apa?

Di masa pandemi saat ini tidak ada pilihan lain, untuk meyakinkan orang di luar sana bahwa Sumba masih aman untuk dikunjungi dan juga karena saya baru 2 hari, dan hari ini ke-3. Saya pola kedetakanya lebih pendekatan ke dinas-dinas untuk berkoordinasi.

Misalkan pariwisata, saya akan tanya kepala dinasnya dalam benak kau, pariwisata itu seperti apa? Apa yang kau kerjakan? Kalau masuk akal kita lanjut. Kalau tidak kita pertimbangkan mungkin ada orang yang lebih baik lagi kan.

Masuk juga target 100 hari kedepan?

Oh iya target 100 hari ke depan, jadi pertama itu konsolidasi birokrasi, kedua penanganan covid untuk bisa terlihat dan terukur.

Ketiga itu juga membersihkan dengan asri indah, untuk kota kita ini harus bersih itu yang akan kita lakukan. Dan di dinas 1 orang harus tanam satu pohon, harus tanam dan harus hidup. Jadi kalau kita yang Pemda ini misalnya ada 400 orang harus tanam pohon 400. Di dinas pariwisata ada 30 orang harus tanam 30 pohon harus hidup nanti kita akan nilai.

Jadi seperti itu asrinya itu indah. Dan enak untuk dinikmati.

Dan saya juga sudah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk mewujudkan Kota Waingapu kota bintang yang bersih indah, tertib, dan menyenangkan.

Untuk mendatangkan wisatawan juga perlu didukung bandara yang bagus misalnya?

Nah itukan memang kewenangan dari pemerintah pusat, walaupun tapi itu vertikal kita yang di wilayah juga harus tahu juga to. Harus ada informasinya juga, karena berkaitan dengan kepentingan kita untuk mendatangkan orang banyak.

Mudah mudahan saja saya juga punya mimpi, saya mau jajaki juga perpanjang bandara ini. Karena kewenangan kabupaten itu pembebasan lahan itu kabupaten, baru bangun bandaranya itu pakai APBN. [has]

Next Post

Lirik Lagu Paradise - Coldplay

Judul Lagu: Paradise When she was just a girl She expected the world But it flew away from her reach So she ran away in her sleep And dreamed of Para-para-paradise, Para-para-paradise, Para-para-paradise Every time she closed her eyes When she was just a girl She expected the world But […]