Jakarta () – Indonesia memiliki ribuan masyarakat adat yang tersebar di nus. Mereka tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nus (AMAN) untuk saling terhubung guna mendukung kehidupan yang adil dan sejahtera bagi semua masyarakat adat di Indonesia.

Harapannya, mereka bisa berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya.

Masyarakat Adat memiliki karakteristik seperti memegang aturan, nilai-nilai, serta legenda yang diturunkan dari generasi ke generasi dengan adat yang mereka pegang teguh.

“Masyarakat Adat merupakan sekelompok manusia yang memiliki identitas budaya yang sama, serta ikatan batiniah yang kuat atas suatu ruang geografis tertentu sebagai rumah bersama. Rumah ini dikuasai, dijaga, dan dikelola secara turun-temurun sebagai wilayah kehidupan sejak zaman leluhurnya,” kata Deputi Sekjen untuk Urusan Sosial Budaya AMAN Mina Setra dalam keterangannya, Rabu.

Untuk lebih mengenal masyarakat adat, berikut fakta- fakta menarik yang bisa anda ketahui sehingga membuka wawasan anda mengenai masyarakat adat.

Membuka diri terhadap turis

Banyak orang mengira bahwa kehidupan Masyarakat Adat sangat tertutup dari dunia luar. Mina menyebutkan saat ini hanya sebagian kecil saja yang mengisolasi diri seperti itu. Misalnya, Baduy Dalam dan Orang Rimba. Sebagian besar anggota Masyarakat Adat sudah berbaur dengan dunia luar. Akibatnya, kehidupan mereka juga dipengaruhi oleh dunia luar, termasuk dalam berpakaian.

“Masyarakat Adat merupakan masyarakat yang dinamis, sangat senang kedatangan orang dari luar komunitas. Pada dasarnya, mereka punya rasa ingin tahu yang tinggi. Yang jadi persoalan justru para tamu. Tidak semua turis bisa menghargai kebudayaan dan lingkungan,” kata Mina.

Travel Blogger Satya Winnie pun membagikan salah satu pengalamannya sebagai turis yang kerap bercengkrama dengan masyarakat adat, menyebutkan kebiasaan masyarakat adat adalah bersosialisasi oleh karena itu pada saat datang ke desa adat turis ada baiknya tidak cuma berfoto ria tapi juga bisa berkenalan lebih jauh dengan masyarakat di desa adat.

"Ajaklah mereka berinteraksi. Kalau mereka belum bisa berbahasa Indonesia atau kita tidak bisa berbahasa mereka, saya biasanya menggunakan bahasa tubuh. Mari tinggalkan jejak yang baik,” kata Satya.

Halaman Selanjutnya: Generasi muda penerus adat

  • 1
  • 2
  • Tampilkan Semua

Oleh Livia Kristianti
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © 2021