Breaking News in Indonesia

Cerita Anies Bermalam Pulau ‘Sang Penjaga Utara’ Demi Bersilaturahmi dengan Warga

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, melakukan kunjungan di Kepulauan Seribu sepanjang Jumat (30/4) kemarin. Setelah melakukan serangkaian, Anies memutuskan bermalam di salah satu pulau yang pernah Nochtwachter atau 'Sang Penjaga Utara' dan kini dinamakan Pulau Sabira.

“Kami bermalam di sini, silaturahmi dengan warga, kemudian akan ngobrol dan diskusi dengan warga, baru nanti Insya Allah besok kembali ke Jakarta,” kata Anies. Demikian dikutip dari Antara, Sabtu (1/5).

Anies menginap di rumah Ketua RW 03 Kelurahan Pulau Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kepulauan Seribu, Ali Kurniawan.

“Saya datang ke sini pada April 2019, lebih tepatnya dua tahun yang lalu. Kira-kira 20 tahun, kosong, tidak pernah dan tidak ada gubernur yang datang seperti ini,” ujar Anies.

Anies menceritakan, Pulau Sabira memang secara hitungan kilometer lebih dekat ke daratan Sumatera daripada daratan Pulau Jawa. Tetapi, katanya, Pulau Sabira tetap bagian dari Provinsi DKI Jakarta.

“Hitungan kilometer bisa saja jauh dari Monas, tapi perasaan, hati, dan ikatan kebersamaan kami amat kuat dan amat dekat. Walaupun hitungan kilometernya jauh,” kata Anies.

Anies mengatakan, keinginannya bermalam di pulau itu sekaligus menepati janjinya untuk menginap satu malam guna berdiskusi dengan warga setempat.

Tak hanya menginap, Anies juga Salat Isya dan Tarawih berjemaah dengan warga Pulau Sabira di Masjid Jami' Nurul Bahri, Kelurahan Pulau Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kepulauan Seribu.

Anies memuji warga Pulau Sabira itu luar biasa tangguh. Meski awalnya hanya sebuah perkampungan nelayan di tanah tak berpenghuni yang berjarak 120 kilometer dari daratan Ibu Kota pada tahun 1975, tapi sejak itu peradaban di Pulau Sabira terus tumbuh dengan kemandirian.

Mereka mengelola kebutuhannya sendiri, menangani permasalahannya sendiri, sampai mereka bisa hidup secara mandiri. Jadi pemerintah itu menyaksikan tumbuhnya satu masyarakat yang bisa segalanya bisa diselesaikan oleh mereka sendiri.

“Itu luar biasa bukan? Coba bayangkan, bagian dari Ibu Kota, ada lulau yang tumbuh dengan mandiri. Itu menariknya di pulau ini. Menurut saya, orang-orang di sini itu tangguh,” kata Anies.

Anies mengatakan kemandirian warga Pulau Sabira membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merasa perlu menyediakan fasilitas dasar yang berasal dari pemerintah untuk mereka.

Kebutuhan dasar yang perlu diwujudkan itu antara lain alat transportasi dan listrik.

Anies mengatakan Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan menyediakan alat transportasi berupa kapal penumpang untuk membantu mobilitas warga Pulau Sabira.

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (UID Jaya) membangun lagi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pulau Sebira.

PLTS itu berkapasitas daya sebesar 400 kilowatt peak (KWp) dan diproyeksi dapat menghasilkan energi sebesar 1.200 kilowatt jam (kWh) per hari.

“Alhamdulillah dengan PLTS ini, penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel bisa dikurangi 50 persen sehingga lebih efisien,” kata Anies. [lia]