Bupati Kediri Berencana Buat Program untuk PAUD terkait Bahaya Radikalisme

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menilai ancaman dari kelompok intoleransi dan radikal adalah nyata. Dia berencana membuat program pendidikan tambahan mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terkait bahaya radikalisme dan terorisme.

“Saya berencana membuat program pendidikan khusus untuk memahami radikalisme dan terorisme sejak usia PAUD. Tentang isu-isu sangat strategis beberapa hari terakhir, sebenarnya menjadi satu rangkaian teroris yang ditangkap di Gurah beberapa waktu lalu. Kemudian ada bom di Makassar, dilanjut ada serangan di Mabes Polri dan kemari ada teror di DPRD Kota,” kata Hanindhito.

Pernyataan itu dia ungkapkan dalam seminar daring bertema 'Merawat Budaya Nusantara Menolak Intoleransi dan Radikalisme anti NKRI' di Masjid Joglo Rahmatan Wa Salaman Dusun Cangkring, Desa Titik, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Rabu (14/4).

Seminar tersebut diadakan oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kediri.

Hanindhito mengajak masyarakat khususnya umat Islam untuk merajut kebersamaan di bulan Ramadan. Dia minta agar seluruh warga bahu membahu melawan radikalisme dan kelompok intoleransi, agar tidak terpapar oleh doktrin ideologi terorisme.

“Bulan Ramadan ini adalah momentum untuk saling menjaga, merajut kebersamaan umat Islam untuk membangkitkan perekonomian. Berharap di bulan Ramadan, masyarakat Kediri bisa membangkitkan secara ekonomi, secara batin dan psikisnya. Ayo sama-sama kita lawan terorisme. Saya yakin apabila seluruh elemen bersatu, alim ulama, TNI Polri dan semuanya, saya yakin namanya teroris tidak akan bertahan lama,” tandasnya.

Seminar secara daring di bulan suci Ramadan ini membahas berbagai isu-isu terkini baik skala lokal maupun nasional, salah satunya bahaya kelompok terorisme. Kegiatan juga melibatkan PC GP Ansor Kabupaten Kediri dan Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

“Acara ini dalam rangka melihat situasi di wilayah kita pasca-kejadian teror di DPRD Kota Kediri. Kita melihat ada orang-orang yang mau bermain di wilayah kita, yang notabene Kediri Raya ini sudah cukup solid. Mereka yang mau membuat onar dan sesuatu yang tidak bagus, ya berarti melawan kita semua,” kata H Abu Muslih, Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Kediri.

Seminar virtual ini menghadirkan sederet pembicara di antaranya, Ketua PB Lesbumi PBNU Agus Sunyoto, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Ketua PCNU Kota Kediri KH. Abu Bakar Abdul Djalil dan Ketua GP Ansor Kabupaten Kediri Gus Rizmi Haitami Azizi.

Lesbumi NU memandang bahwa aksi teror dengan mengatas namakan agama yang terjadi merupakan upaya kelompok tertentu untuk merongrong kedaulatan negara, melalui upaya pemusnahan akar budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Lesbumi tegas untuk melakukan perlawanan terhadap pola-pola gerakan teror yang membahayakan keutuhan negara, dengan dalih agama.

Untuk memeriahkan acara webinar, selain seminar juga diselingi selawatan yang diiringi musik hadrah. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan buka bersama dan salat magrib berjemaah di Masjid Joglo. Rumah ibadah yang satu ini nyentrik, karena didesain layaknya bangunan rumah masyarakat Jawa yakni Rumah Joglo. Bangunan semakin tampak kuno dengan tambahan dinding kayu berukir dari bahan lawasan. [cob]