BNPT Target Tangkap 11 Anggota Kelompok MIT di Sulteng 6 Bulan

Irene

BNPT Target Tangkap 11 Anggota Kelompok MIT di Sulteng 6 Bulan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli mengatakan, sampai saat ini Satuan Tugas (Satgas) Tinombala yang beroperasi untuk menangkap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di wilayah Poso, Sulawesi Tengah, masih terus bergerak. Menurut dia, Satgas Operasi Tinombala sudah jalan dari 2016 dengan menggunakan pola yang sama saat melumpuhkan pimpinan kelompok MIT Santoso.

“Jadi yang masih tersisa 11 (buronan) ini. Kita, masih mensuport Polri dan TNI untuk semakin mengefektifkan kegiatan operasi, tentunya dengan peristiwa yang terjadi kemarin dievaluasi ke mana arah pergerakan,” kata Boy Rafli, saat ditemui di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (12/12) malam.

Dia juga mengatakan, bahwa pergerakan mereka berpindah-pindah sehingga petugas tak hanya fokus di Poso saja. Namun, di kabupaten lainnya juga dilakukan upaya yang sama.

“Bayangkan, awalnya ada di sini itu jarak tidak dekat, jauh ini. Jadi, ini bukti mereka melakukan pergerakan oleh karena itu kita tidak bisa fokus lagi di Poso saja. Berarti, ada kabupaten-kabupaten lain yang harus diwaspadai,” jelasnya.

“Jadi, perlu dievaluasi terhadap lokasi-lokasi yang menjadi target dalam pengejaran. Itu, saya yakin sedang dikerjakan dengan dibantu TNI Polri dengan kondisi medan yang ada bisa diatasi hanya memang tentu itu tidak mudah,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan, bila dilihat di lapangan begitu luasnya lokasi-lokasi yang menjadi tempat persembunyian para komplotan teroris tersebut. “Kalau, kita kesana menyadari sendiri betapa begitu luasnya lokasi-lokasi yang mereka jadikan tempat persembunyian. Dari satu titik ke titik yang lain,” ujarnya.

Namun, pihaknya menyebutkan bahwa ada satu hal keberuntungan yang dimiliki saat ini. Yaitu, masyarakat tidak lagi mendukung mereka sejak tragedi pembataian pada warga sipil di Sigi, Sulawesi Tengah.

“Tapi, kita beruntung hari ini masyarakat tidak mau mensupport mereka. Masyarakat, sudah tidak muda lagi menjadi bagian dalam pergerakan teroris mereka. Jadi, masyarakat hari ini telah mengutuk dan istilahnya sangat mengecam terhadap perbuatan-perbuatan biadab yang dilakukan, karena masyarakat yang menjadi korban. Kalau, kita lihat kebelakang ini beberapa kejadian itu tidak pantas lagi yang mereka lakukan dengan cara-cara anti kemanusiaan,” ujarnya.

“Masyarakat sudah bertekad, lintas agama juga demikian bahwa mereka adalah orang-orang yang benar-benar (terputus) dengan masyarakat. Makannya, mereka dengan mencari makan susah, dulu ada yang bantu, ada wanita yang menjadi istri mereka, ada pendukungnya, saudaranya, membawa logistik, sekarang mereka tidak didukung lagi. Tentu, kita mengapresiasi masyarakat yang bersifat demikian dan sekarang bahkan ikut membantu,” imbuhya.

Rafli juga menyakini, 11 buronan teroris tersebut akan tertangkap dengan waktu paling lama enam bulan. Namun, pihaknya berharap lebih cepat dari waktu tersebut.

“Saya, prediksi sekitar 6 bulan, tetapi prinsip kepada mereka (petugas) yang kita berikan kepada tim, lebih cepat lebih bagus. Tapi dalam 6 bulan kedepan saya yakin bisa melumpuhkan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Polri dan TNI mengevaluasi kinerja Satuan Tugas (Satgas) Tinombala yang beroperasi untuk menangkap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di wilayah Poso, Sulawesi Tengah.

Hal itu dilakukan usai pihak Satgas tak kunjung menangkap jaringan teroris pimpinan Ali Kalora, pada Jumat (27/12). Mereka diduga membunuh 4 warga sipil di Sigi, Sulawesi Tengah. [gil]

Next Post

Tepergok Warga Curi Anjing Milik Kades di Cianjur, 3 Orang Mengaku Sebagai Wartawan

Polisi menangkap tiga orang pria yang mengaku wartawan, setelah tertangkap tangan warga mencuri anjing milik kepala desa di Kecamatan Mande, Cianjur, Jawa Barat. Kepolsek Mande AKP Faisal mengatakan ditangkapnya ketiga orang yang mengaku wartawan tersebut, setelah warga Kampung Neglasari, Desa Kutawaringin, Kecamatan Mande, yang curiga dengan gerak-gerik mereka, saat hendak […]