Breaking News in Indonesia

Berkreasi di Tengah Pandemi, dari Hobi Kini Jadi Pundi-pundi Rupiah

Berawal dari sekedar hobi, bisa berubah menjadi pundi-pundi. Tak perlu mahal, asal hobi yang kreatif pun dapat dihargai secara ekonomi.

Hobi ini pula lah yang akhirnya menghantarkan Prayogi Irwantiantoro (19) menjadi seorang perajin berbahan dasar kayu. Rasa jenuh lantaran tak bisa sekolah secara normal akibat pandemi Covid-19 ini, membuatnya harus memeras otak untuk mengusir kebosanannya itu.

Alih -alih hanya sekedar mainan, ia malah dapat menjadikan hobinya di bidang kerajinan topeng dan miniatur kayu, menjadi penghasilannya saat ini. Pundi pundi rupiah pun mulai mengalir ke kantong remaja asal Dusun Kemuning, RT 09/RW 03, Desa Tanggungan, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang itu.

“Ga ada yang ngajarin (otodidak), awalnya sih iseng, dan sekarang alhamdulillah bisa menghasilkan uang buat tambahan saku sekolah dan bantu orang tua,” kata pelajar kelas 11 SMKN Gudo, Jombang tersebut.

Yogi menuturkan, dia mulai menekuni kerajinan topeng sejak duduk di bangku kelas 9 SMP. Bermula dari kurangnya uang saku pemberian orangtuanya, karena kondisi ekonomi yang pas-pasan, Yogi pun iseng membuat mainan miniatur topeng jaranan dari limbah kayu secara otodidak.

Ditambah lagi, kini situasi pandemi Covid-19 yang mengharuskannya belajar secara online. Otomatis, hal itu membuatnya banyak berada di rumah dan tak bisa bertemu dengan teman-teman sekolahnya seperti sediakala. Hal ini lah yang kembali memotivasinya untuk terus berkarya membuat kerajinan topeng kayu.

Setelah kerajinannya jadi, putra dari pasangan Wignyo Nugroho (46), dan Rumiyati (41) mengunggah hasil karyanya di media sosial facebook miliknya.

“Setelah saya posting di facebook, ternyata hasil karya pertama kali yang masih ala kadarnya saat itu ada yang membeli dengan harga Rp25 ribu. Ya, saya kasihkan,” tuturnya.

Karena karyanya membawa hasil, Yogi kemudian membuat miniatur lagi. Dan tentunya hasil karyanya lebih dipercantik lagi tidak seperti yang pertama. Setelah kerajinannya jadi, kembali ia unggah di akun facebook-nya.

“Dari situ saya membuat lagi dengan alat seadanya. Tapi saya maksimalkan lagi sehingga lebih bagus dari yang pertama. Saya jual di facebook. Harga untuk miniatur topeng jaranan saya jual sebesar Rp300 ribu,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Yogi terus membuat dan mengembangkan kerajinan tangannya dari bahan kayu waru itu. Yogi menambah koleksi kerajinan tangannya dengan membuat topeng jaranan, bantengan, barongan dengan ukuran standar yang biasa digunakan untuk bermain kesenian tradisional.

“Lalu saya membuat yang lebih besar. Saya unggah di facebook saya, ternyata laku. Harga paling tinggi yang terjual sebesar Rp 1,5 juta. Itu topeng barongan dibeli orang Lamongan,” ujar dia

“Bahan yang saya gunakan ini dari limbah kayu randu, itu yang miniatur. Kalau topeng yang besar, saya menggunakan bahan kayu waru. Saya beli dari orang seharga Rp400 ribu dengan ukuran 16 sentimeter sampai 23 sentimeter,” lanjutnya.

©2021 /Erwin Yohanes

Kayu yang dia dibeli, lalu dipotong-potong bagian samping hingga membentuk segi empat. Setelah itu digambar sesuai pola menggunakan spidol. Lalu, kayu dibentuk menggunakan alat gergaji tangan mengikuti pola. Yogi kemudian mengukir bagian-bagian seperti mata, hidung, kumis, dan bagian lain yang bentuknya rumit menggunakan tata dan merapikan bagian dalamnya memakai cutter.

Usai diukir dan sudah berbentuk, topeng tersebut dihaluskan dengan kertas gosok. Setelah itu dilakukan pengecatan awal, atau cat pelapis menggunakan epoxy. Setelah kering baru di cat menggunakan cat mobil dengan kuas.

“Yang terakhir agar topeng kelihatan mengkilat, saya cat lagi dengan pilox, lalu saya jemur. Setelah kering, baru saya menambah hiasannya,” ujarnya.

Lama proses pembuatan topeng tak pasti, tergantung ukuran besar kecilnya serta tingkat kerumitan topengnya. Paling cepat, Yogi bisa menuntaskan kerajinannya selama dua minggu, dan paling lama sekitar satu bulan lebih.

Terkait dengan penghasilan yang diperoleh dari hasil penjualan topengnya, Yogi tak mengungkapkannya. Dia hanya menyebut telah mendapatkan hasil jutaan rupiah dari hasil kerajinan tangannya selama lima tahun terakhir ini.

“Tidak mesti (penghasilannya), karena untuk membuat topeng kan sekitar satu bulan. Kalau dulu pas masuk sekolah ya sampai dua bulan bikinnya. Sehingga lakunya tidak mesti saat itu juga. Kalau sampai saat ini ya sudah jutaan-lah pak,” katanya.

Meski kerajinannya sudah berjalan, bukan berarti tak ada kendala. Yogi mengaku butuh modal untuk mengembangkan usahanya dengan alat yang memadai atau lebih modern, serta pemasaran. [bal]