Breaking News in Indonesia

Berjuang Demi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Deru suara sepeda motor milik Sihman terdengar lebih dari 3 menit . Suara itu dibiarkan begitu saja, sebagai langkah pemanasan memulai aktivitas mengunjungi dua kediaman murid spesial Sihman.

Pukul 08.00 WIB, waktu bagi Sihman berangkat menuju ke Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 8 Jakarta, di Cilincing, Jakarta Utara.

Sihman terlebih dahulu datang ke sekolah, untuk mengisi absensi kehadiran guru, sekaligus mengambil materi ajar untuk Egi dan Sendi. Dua murid spesial Sihman.

Pria berkumis tipis itu merupakan guru kelas 8 bagi murid berkebutuhan khusus. Lebih tepatnya, ia merupakan guru dari 10 anak tuna grahita.

Tidak lebih dari 15 menit di sekolah, Sihman bergegas ke rumah Egi yang terletak di Marunda, Jakarta Utara, tidak jauh dari sekolah.

“Kalau kesiangan khawatir orang tua murid sudah pergi bekerja,” cerita Sihman.

Setibanya di kediaman Egi, proses belajar mengajar di mulai. Materi ajar yang disampaikan beragam, mulai dari membaca, menghitung, melatih otak untuk mampu berpikir, dan sebagainya.

Proses belajar kepada murid berkebutuhan khusus itu tidak mudah. “Tuna grahita memiliki IQ di bawah rata-rata, mudah sekali lupa apa yang mereka terima, pelajari,” kata Pak Sihman.

Home visit, alias belajar kunjung ke rumah murid, tidak selalu mulus. Sejak matahari mulai memunculkan cahaya dari ufuk timur, ayah Egi sebagai buruh pengelolaan empang sudah meninggalkan rumah. Terkadang Egi ikut menemani sang Ayah untuk menjual hasil tangkapan berupa ikan. Rumah pun kosong.

Sihman tidak mengeluh dengan kondisi itu. Ia mengaku mafhum, dengan kondisi ekonomi pas-pasan, wajar jika orang tua Egi menempatkan pekerjaan sebagai prioritas.

Jika demikian, lembar kerja murid dan materi ajar terpaksa tertunda satu minggu kemudian.

Sihman lantas kembali mengendarai sepeda motornya menuju kediaman murid kedua bernama Sendi yang tinggal di perbatasan Harapan Indah, Bekasi dengan Cilincing, Jakarta Utara.

Jika Egi memiliki kendala dalam mengingat materi ajar, Sihman bercerita tingkat respon, dan daya ingat Sendi lebih di bawah Egi.

“Ini lebih berat dari Egi,” ucapnya.

Meski berat, tanggung jawabnya sebagai guru dan hak Sendi mendapatkan pendidikan layak tetap terwujud. Proses belajar mengajar berlangsung kurang lebih 2 sampai 3 jam.

Tak Ada Akses Gawai dan Internet

Aktivitas Sihman bertandang ke kediaman Egi dan Sendi sudah dilakukan sejak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan kebijakan belajar dari rumah, atau secara daring. Hal ini dikarenakan tingkat penularan Covid-19 masih sangat tinggi.

Dari 10 murid di kelas Sihman, tersisa dua murid tak memiliki akses apapun untuk menopang belajar secara daring. Selain keterbatasan akses internet, wali dari dua murid Sihman tak memiliki ponsel pintar.

Meski sejatinya, ponsel pintar saat ini menjadi bagian dari kehidupan manusia, wali dari Egi dan Sendi merasa ponsel pintar tidak menjadi prioritas kehidupan.

“Kalau HP Android pasti butuh pulsa internet, meski menurut kita itu murah, belum tentu bagi mereka,” ujar Sihman.

Untuk itu, Sihman merasa memiliki tanggung jawab besar memberikan hak terhadap dua muridnya yaitu pendidikan yang layak. Kendati segala keterbatasan harus dihadapi selama pandemi ini.

Total jarak 20 km dengan rute kediaman Sihman di Kemayoran – sekolah – rumah Edi – rumah Sendi – Krmayoran, menjadi rutinitas mingguannya di setiap awal pekan.

Berharap Kondisi Kembali Pulih

Menempuh jarak total 20 km setiap awal pekan membuat Sihman berharap agar kondisi bisa kembali normal, pandemi Covid-19 segera usai. Bukan karena letih menempuh jarak sejauh itu. Ia berujar, pendidikan daring bagi anak-anak berkebutuhan khusus sangat sulit dilakukan.

Di satu sisi, jika dipaksakan belajar di kelas, menimbulkan rasa khawatir untuk menerapkan jaga jarak antar sesama.

“Karena anak-anak berkebutuhan khusus itu tidak sama dengan anak sekolah reguler.”

Sebagai syarat uji coba pembelajaran tatap muka yaitu para guru telah mendapatkan vaksin. Namun, belum ada keputusan tentang vaksinasi Covid-19 pada anak-anak.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, tidak ada perlakuan atau pembeda vaksinasi terhadap anak-anak. Hanya saja memang belum dilakukan saat ini.

“Kita menunggu rekomendasi WHO tentang vaksinasi pada anak dan vaksin apa saja yang bisa digunakan,” kata Nadia.

Dengan pendapat dokter Nadia, tidak ada perbedaan kategori anak-anak terhadap vaksin. Para murid SLB tetap memiliki kesempatan kembali bertatap muka dengan para kawan dan guru di kelas.

Upaya pencegahan penularan Covid-19 di lingkup SLB merupakan tanggung jawab guru, orang tua, dan para pemangku kebijakan.

Terpenting, guru yang melakukan kunjungan juga harus dipastikan tidak terinfeksi Covid-19 dan menerapkan protokol kesehatan selama tugasnya. [rnd]