Breaking News in Indonesia

Bantah Angka Rp1,7 Kuadriliun, Kemenhan Sebut Utang untuk Beli Alutsista Rahasia

Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Kemenhan Mayjen TNI Rodon Pedrason menyatakan jumlah pinjaman luar negeri pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) merupakan rahasia negara. Namun dia membantah nominal Rp 1,7 kuadriliun yang sempat muncul ke publik.

“Untuk jumlahnya yang Rp 1,750 kuadriliun itu jumlah ngaco (tidak benar),” tutur Rodon saat dikonfirmasi, Minggu (30/5).

Dia juga menegaskan, pinjaman uang ke luar negeri untuk pengadaan Alutsista tidak akan membebani keuangan negara. Alasannya, utang itu akan dibayar menggunakan sistem angsuran dengan tenor sampai dengan 28 tahun dan bunga kurang dari 1 persen.

“Akan dicicil sesuai dengan alokasi budget per tahun,” jelas Rodon.

Seperti diberitakan, Kementerian Pertahanan berencana membeli alat alutsista TNI dengan cara meminjam uang kepada negara asing. Hal tersebut tertuang pada rancangan Peraturan Presiden tentang Pemenuhan Kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia Tahun 2020-2024 (Alpalhankam).

“Pendanaan untuk membiayai pengadaan Alpalhankam Kemenhan dan TNI dibebankan pada anggaran dan pendapatan negara melalui anggaran pinjaman luar negeri,” dalam rancangan Perpres yang didapat, Sabtu (29/5).

Dalam rancangan perpres tersebut dijelaskan pada pasal 7, duit yang dibutuhkan untuk membeli alutsista adalah USD 124.995.000. Kemudian secara merinci meliputi akuisisi Alpalhankam sebesar USD 79.099.625.314, pembayaran bunga tetap selama 5 Renstra sebesar USD 13.390.000.000, untuk dana kontingensi serta pemeliharaan dan perawatan Alpalhankam sebesar USD 32.505.274.686.

Kemudian dijelaskan bahwa pengadaan Alpalhankam Kemenhan dan TNI dalam Renbut dilaksanakan Kemenhan pada Rencana Stretegis (Renstra) tahun 2020-2024. Tetapi dalam peraturan tersebut, dijelaskan peraturan akan dilaksanakan setelah peraturan presiden diundangkan.

Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Kemenhan Mayjen TNI Rodon Pedrason membenarkan rencana tersebut. Dia menjamin tidak akan membebani keuangan negara.

“Memang ada, tapi dipastikan tidak akan bebani Keuangan negara,” kat Rondon saat dikonfirmasi, Sabtu (29/5).

Dia mengatakan, nantinya hal tersebut akan dicicil sesuai dengan alokasi budget pertahun. Menurut dia, negara-negara yang memberikan pinjaman dengan tenor sampai dengan 28 tahun dan bunga kurang dari 1 persen.

“Bahwa diperlukan modernisasi alutsista sih sebuah keniscayaan. Alutsista itu boleh tua tapi enggak boleh usang. Old but not obsolete,” bebernya.

“Namun figur pertahanan juga mesti modern dan kuat. Eligible dan capability yang mumpuni. Bicara soal pertahanan itu berarti bicara teknologi, bicara soal hal yang mahal, tapi dapat dipakai untuk jaga kedaulatan negara, keutuhan Wilayah dan keselamatan bangsa dalam jangka lama,” ungkapnya.

Sumber: Liputan6.com.
Reporter: Nanda Perdana Putra [yan]