Area Konservasi di Riau Terbakar, Petugas Temukan Lahan Sawit dan Pondok

Irene

Hampir 115 hektare kawasan bergambut di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, ludes terbakar. Kebakaran lahan karena diduga ulah manusia ini semakin kuat setelah petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menemukan kebun sawit di lokasi. Sebagian sawit itu ikut terbakar dengan semak dan hutan alam. Kini kebakaran lahan tersebut sudah padam.

Kepala Bidang II BBKSDA Riau Heru Sutmantoro menyebut anggotanya di lokasi menemukan dua pondok. Pondok itu sudah disegel petugas dan menempel tulisan tanda berada di kawasan suaka margasatwa.

“Pemilik pondok harus merobohkannya dan di larang beraktivitas di sana, kalau tidak kami yang robohkan,” kata Heru, Kamis (1/4). Dikutip dari Liputan6.com.

Selain pondok, petugas juga memberi tanda ke pohon sawit di lokasi sebagai peringatan. Penanda itu juga sama dengan yang di pondok sebagai pernyataan berada di kawasan Giam Siak Kecil. “Luas kebun sawit yang ditemukan sekitar 3 sampai 4 hektare,” terang Heru.

Heru mengatakan, lokasi dua pondok dan kebun sawit itu berdekatan dengan lokasi kebakaran. Oleh karena itu, petugas menyimpulkan kebakaran lahan terjadi karena upaya pembersihan. “Pembersihan sebagai persiapan membangun kebun di kawasan hutan,” tegas Heru.

Heru sudah berkoordinasi dengan penegak hukum di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dia ingin penegak hukum mengusut siapa yang membuat kebun di suaka margasatwa.

“BBKSDA itu wewenangnya hanya persuasif, kalau penegak hukum refresif, kami masih menunggu tindak lanjut,” jelas Heru.

Heru menyatakan, tidak boleh ada sawit di suaka margasatwa. Kalaupun masyarakat sudah berada di sana sebelum penetapan kawasan, Heru menyebut hanya boleh ditanam dengan pohon bernilai ekonomi.

“Itu sudah ada aturannya, namanya kemitraan konservasi tapi bukan sawit,” tegas Heru.

Setelah kebakaran lahan hebat di sana, BBKSDA Riau meningkatkan patroli. Petugas juga memasang rambu-rambu di beberapa lokasi sebagai tanda kawasan itu merupakan hutan konservasi.

“Agar masyarakat tahu dan tidak berkebun lagi di sana,” terang Heru. [cob]

Next Post

Update 2 April 2021: 2.050 Pasien Covid-19 Dirawat di RSD Wisma Atlet

Pasien rawat inap di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat berkurang. Pasien rawat inap di tower 4, 5, 6 dan 7 ini diketahui berkurang 10 orang. Semula 2.060 orang menjadi 2.050 pasien. “Perkembangan jumlah pasien rawat inap di RSD Wisma Atlet pada 2 April 2021 hingga pukul […]