Breaking News in Indonesia

Upaya Xi Jinping Ubah Pandangan Negatif Dunia terhadap China

Presiden China Xi Jinping, menginginkan negaranya belajar berteman dan memberi pengaruh

Jakarta, Indonesia —

Presiden China Xi Jinping, menginginkan negaranya belajar berteman dan memberi pengaruh.

Berbicara dalam sesi kepemimpinan Partai Komunis pada awal pekan ini, Xi mengatakan penting bagi China bisa menceritakan kisahnya sendiri dengan cara positif.

Menurutnya, hal itu bisa membentuk citra “China yang kredibel, menyenangkan, dan terhormat”.

Menurut laporan kantor berita Xinhua, Xi menganggap organisasi propaganda Partai Komunis perlu menjelaskan kepada dunia bahwa Beijing tidak menginginkan apa pun selain kesejahteraan rakyat China.

Sejak berkuasa pada 2012, Xi memang terus mendorong China mengambil peran yang lebih besar dalam politik global. Namun, Beijing hanya memiliki hubungan diplomatik yang kuat dengan negara besar di dunia.

Sejauh ini, Xi dinilai berhasil membawa China menjadi negara adidaya seperti Amerika Serikat. Akan tetapi, salah satu tantangan yang sulit bagi Xi adalah mengubah narasi soal China yang mayoritas negatif.

Sebuah survei dari Pew Reearch pada akhir 2020 menemukan bahwa mayoritas warga dari 14 negara di seluruh Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur, memandang negatif China.

Sebagian besar pandangan negatif itu dipengaruhi oleh pandemi virus corona (Covid-19). China dinilai tidak transparan dan menutup-nutupi asal muasal virus corona yang pertama muncul di negara itu sehingga menyebar ke seluruh dunia.

Baca juga:

Kapal Perang AS Lewat Selat Taiwan, China Dibuat Geram

Meski begitu, jauh sebelum pandemi corona muncul, pandangan mayoritas publik internasional terkait China cenderung negatif.

Salah satunya terkait diplomasi serigala China, di mana para diplomat Tiongkok terkenal vokal dan agresif dalam perdebatan.

Istilah itu mulai dikenal sekitar 2019 ketika para diplomat tinggi China menuduh adanya kampanye penghinaan terhadap Negeri Tirai Bambu dalam konferensi pers atau media sosial.

Pada Juli 2019, salah satu diplomat ulung China, Zhao Lijian, kerap mengunggah kicauan di Twitter dan pernyataan lainnya berbunyi kecaman atas kemunafikan Amerika Serikat soal hak asasi manusia.

Zhao kerap menganggap AS kerap berkoar soal HAM namun memiliki masalah rasisme dan kepemilikan senjata yang kerap memicu insiden penembakan di dalam negeri.

Baca juga:

Abaikan China, Filipina Kukuh Memancing di Laut China Selatan

Agresivitas Zhao dalam membela China menjadi kontroversi. Namun, hal itu membuatnya didapuk menjadi juru bicara Kementerian Luar Negeri China.

Dikutip , jejak karier Zhao pun kini banyak ditiru diplomat Negeri Tirai Bambu lainnya.

Selain Zhao, diplomat China lainnya, Yang Jiechi, sempat mengatakan bahwa “AS tidak memiliki kualifikasi untuk berbicara dengan China.”

Pernyataan itu pun menjadi kontroversi di luar negeri, namun dengan cepat menjadi slogan yang banyak dicetak di Beijing dan kota-kota lainnya.

(rds/dea)

[Gambas:Video ]