Tak Selamanya Sendiri Berarti Sepi

Farah

Budaya kolektif di Indonesia membuat sendirian kerap identik dengan kesepian. Padahal, tak selamanya demikian.

Jakarta, Indonesia —

Menikmati me-time di kafe seorang diri disebut kesepian. Makan siang sendiri dikata ‘lonely‘. Seolah-olah sendirian berarti kesepian. Padahal, tak selamanya sendiri berarti sepi.

Psikolog klinis Veronica Adesla mengatakan bahwa melakukan segala aktivitas–yang umumnya dilakukan bersama teman-teman–seorang diri bukan-lah hal yang aneh.

“Sebenarnya enggak ada yang aneh melakukan apa-apa sendirian. Malah, kalau sendirian, kan, bisa melakukan apa pun. Sementara kalau ada teman bersosialisasi berarti ada pertimbangan kepentingan,” ujar Veronica pada Indonesia.com, beberapa waktu lalu.

Pilihan Redaksi
  • 12 Aktivitas yang Dapat Mengurangi Stres
  • Alasan Berkutat dengan Hobi Baik untuk Kesehatan Mental
  • 4 Manfaat Kesehatan dengan Membantu Orang Lain

Sendirian justru memberikan kesempatan untuk seseorang agar fokus pada dirinya sendiri, sesuatu yang terasa jarang didapatkan di zaman kiwari.

Sayangnya, sendiri atas pilihan personal kerap dilihat sebagai sesuatu yang menyedihkan. Terlebih di Indonesia, saat pergi ke suatu lokasi tanpa teman yang menemani kerap dianggap kesepian.

Budaya kolektif yang ada Indonesia menjadi salah satu penyebabnya. Dalam hal ini, Veronica menangkap adanya pandangan bahwa normalnya seseorang akan memiliki teman, sehingga sendirian dianggap sesuatu yang tidak normal atau wajar.

“Kalau lihat orang kesendirian, asosiasinya enggak punya teman, kesepian. Kan, ada istilah ‘mangan ora mangan yang penting kumpul‘. Ngumpul-nya lebih penting, orang akan dianggap sehat, normal kalau ngumpul bareng,” jelas Veronica.

Kendati demikian, Veronica melihat bahwa anggapan seperti ini sudah bergeser, terutama di kawasan perkotaan. Di Jakarta, misalnya, di mana terjadi pertemuan berbagai budaya, sehingga mau sendirian atau ada teman pun tak jadi persoalan.

Single = Menderita

Tak cuma sendirian dalam arti melakukan berbagai aktivitas seorang diri. Sendirian dalam arti melajang tanpa pasangan juga kerap identik dengan stigma negatif.

Veronica melihat persoalan ini tak hanya melibatkan masalah budaya, tapi juga kepercayaan dalam perspektif agama.

“Kita masih kental dengan pemikiran dan menilai normalnya orang itu harus menikah, berpasangan. Kalau misal kuliah, lalu ditanya kapan lulus, setelah itu kapan kerja, lalu kapan nikah. Kultur kita gitu, harus ada goal-nya. Orang tua masih ada yang menilai kalau anak belum menikah, tugas orang tua belum kelar,” papar Veronica.

Dengan kondisi sedemikian rupa, tak heran jika muncul pandangan yang menganggap bahwa mereka yang masih melajang atau memang memutuskan untuk sendiri dianggap kesepian bahkan menderita.

Yang perlu dikhawatirkan adalah saat tuntutan untuk memiliki pasangan semakin besar dan terasa menekan. Veronica khawatir justru hal tersebut akan menimbulkan sebuah keputusan yang dibuat tanpa adanya pikiran yang matang.

(els/asr)

[Gambas:Video ]

Tulisan ini merupakan bagian dari kumpulan artikel dalam Fokus: “Berdamai dengan Kesepian”

Next Post

Tuan Tanah Lee Shau Kee, Terkaya Nomor Wahid di Hong Kong

Jakarta, Indonesia — Keputusan Lee Shau Kee, pengusaha properti Hong Kong, mendirikan Henderson Land Development pada 1976 silam berhasil mengubah hidupnya 180 derajat. Perusahaan di bidang properti tersebut berhasil menjadi mesin penggemuk uang yang sukses mengantar Lee sebagai orang terkaya nomor wahid di Hong Kong. Mengutip Forbes.com, kekayaan Lee mencapai US$32 miliar […]