Breaking News in Indonesia

Suu Kyi Disidang Diam-diam Dua Kali oleh Militer Myanmar

Jakarta, Indonesia —

Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang ditahan saat hari pertama kudeta 1 Februari lalu disidang dua kali secara diam-diam oleh junta militer.

Sidang pertama dilakukan pada Pada 16 Februari lalu. Tak Hanya Aung San Suu Kyi, junta militerĀ Myanmar juga telah menyidang Suu Kyi dan Presiden Win Myint secara diam-diam.

Persidangan tersebut digelar sehari lebih cepat dari jadwal dan dilakukan tanpa sepengetahuan pengacara setelah gerakan protes anti-kudeta semakin meluas di Myanmar.

Di sidang perdananya, Suu Kyi didakwa dua tuntutan. Pertama, terkait kepemilikan walkie talkie ilegal. Kedua, dakwaan terkait pelanggaran Undang-Undang Penanggulangan Bencana Alam.

Dalam dakwaan baru tersebut, Suu Kyi dituduh melanggar aturan pemerintah terkait pandemi virus corona selama pemilu 2020. Sidang kedua dijadwalkan pada 15 Maret 2021, namun harus ditunda lantaran koneksi internet terputus.

Pemutusan akses internet kali ini dilakukan junta militer sebagai upaya menutupi tindakan brutal terhadap para demonstran terutama selama akhir pekan kemarin. Setidaknya 39 orang tewas dalam bentrokan pedemo dan aparat di beberapa kota di Myanmar.

Pada akhirnya sidang kedua dilakukan melalui sambungan video 1 Maret lalu. Pengacara Suu Kyi, Min Min Soe menyebut kliennya dalam kondisi sehat.

Engineers hold posters with an image of deposed Myanmar leader Aung San Suu Kyi as they hold an anti-coup protest march in Mandalay, Myanmar Monday, Feb. 15, 2021. Myanmar's military leaders extended their detention of Suu Kyi, whose remand was set to expire on Monday, as protests continued to roil the Southeast Asian country following a military coup earlier this month. (AP Photo)Unjuk rasa menolak kudeta terus meluas di Myanmar (Foto: AP/Aung-Shine)

Mengutip Reuters, Soe mengatakan bahwa Suu Kyi telah meminta untuk bertemu dengan tim kuasa hukumnya selama persidangan tersebut.

Tepat sehari sebelum sidang kedua digelaar, Suu Kyi menghadapi tuduhan suap sebesar US$600 ribu (Rp8,5 miliar) sebelum kudeta. Tuduhan tersebut dilancarkan junta militer.

Suap itu disebut diberikan kepada Suu Kyi dalam bentuk emas. Pihak yang mengadukan dugaan suap itu yakni mantan Menteri Besar Yangon, Phyo Mien Thein.

Selain tuduhan suap, Suu Kyi setidaknya menghadapi empat dakwaan yakni terkait kepemilikan walkie-talkie ilegal, melanggar kebijakan pembatasan virus corona, melanggar undang-undang telekomunikasi, dan niat menyebabkan keresahan publik.

Menjelang persidangan lanjutan yang dijadwalkan Kamis (1/4), salah satu pengacara Suu Kyi membeberkan kondisi kesehatan perempuan berusia 75 tahun itu.

Suu Kyi terlihat sehat saat melakukan panggilan video di kantor polisi menjelang sidang yang dijadwalkan Kamis (1/4) ini.

“Amay terlihat sehat, kulitnya bagus,” kata pengacaranya, Min Min Soe kepada Reuters melalui telepon, Rabu (31/3). Dia menggunakan ‘Amay’ untuk merujuk Suu Kyi.

Sementara para pemimpin masih ditahan hingga dua bulan setelah kudeta, kondisi Myanmar semakin krisis. Korban terus bermunculan di tengah konflik.

Menanggapi krisis di negara itu, utusan khusus PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener, dalam pertemuan tertutup meminta Dewan Keamanan segera mengambil tindakan. Ia memperingatkan risiko perang saudara dan bila junta militer terus menghadapi demonstran dengan kekerasan.

Lihat juga:

Thailand Mulai Keluhkan Dampak Krisis Kudeta Myanmar

Ia mengimbau kepada Dewan untuk mempertimbangkan semua alat yang tersedia untuk mengambil tindakan kolektif dan melakukan apa yang benar dan layak diterima rakyat Myanmar dan mencegah bencana multi-dimensi.

Militer yang terus melakukan tindakan keras bahkan brutal terhadap warga sipil membuat jumlah korban bertambah setiap harinya.

Sejauh ini, berdasarkan laporan Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik Myanmar (AAPP) per Kamis (1/4) korban tewas mencapai 543, sementara yang ditahan junta militer sebanyak 2741.

(isa/fjr)

[Gambas:Video ]