Sutradara Hampir Lepas Proyek Wonder Woman 1984 karena Gaji

Farah

Sutradara Wonder Woman 1984, Patty Jenkins, mengaku hampir melepas proyek ini karena kesenjangan upah dengan para sutradara pria.

Jakarta, Indonesia —

Kepopuleran Wonder Woman 1984 tidak lepas dari tangan dingin Patty Jenkins yang menggarap proyek ini. Namun, Jenkins mengaku hampir melepas proyek ini karena kesenjangan upah dengan para sutradara pria.

Sutradara Wonder Woman 1984, Patty Jenkins mengungkapkan bahwa dia hampir keluar dari waralaba Wonder Woman karena perbedaan gaji dengan sutradara pria saat menjadi bintang tamu dalam Podcast Happy Sad Confused.

Perempuan 49 tahun ini menyatakan bahwa ia hampir meninggalkan proyek sekuel wonder woman karena perbedaan nominal pembayaran gaji saat bernegosiasi dengan pihak produksi.

“Ini sangat menarik sebagai seseorang yang tidak pernah menghasilkan keuntungan dalam kariernya sampai Wonder Woman keluar, dimana saya selalu berdamai dengan kondisi ini. Saya seperti, ‘Hei, saya mengerti,” kata Jenkins seperti yang dilansir NME, Senin (21/12).

“Tapi sekarang saya berbalik berkata ‘Dengar, saya tidak pernah menghasilkan uang dalam karier saya karena Anda selalu memiliki pengaruh dan saya tidak.’ Tapi sekarang kondisinya berbalik, jadi inilah saatnya untuk membalikkan keadaan,” tambahnya.

Lihat juga:

Mengenal Sosok Dalton Gomez, Tunangan Ariana Grande

Sementara itu terkait perbedaan besar gaji antara sutradara wanita dan pria Jenkins tidak banyak berkomentar. Namun ia tidak mengelak dari fakta bahwa terdapat perbedaan nominal gaji antara sutradara laki-laki dan perempuan dalam sistem yang berlaku di industri ini.

“Saya tidak ingin berbicara tentang sistem penawaran yang membuat saya terkotak-kotak dan itu tidak benar,” kata Jenkins.

“Sangat mudah bagi sutradara pria bukan hanya yang dikategorikan sebagai sutradara film independen dan film [pahlawan super] untuk dibayar tinggi. Mereka dibayar tujuh kali lebih banyak dari saya saat menggarap film superhero pertamanya. Kemudian berlanjut ke film kedua, mereka masih dibayar lebih tinggi dari saya,” tambahnya.

Jenkins juga menambahkan bahwa memperjuangkan kesetaraan hak antara pria dan wanita adalah hal yang mudah. Terlebih untuk film Wonder Woman yang menurutnya sebagai momen yang tepat untuk menunjukkan keseriusannya dalam memperjuangkan hak perempuan.

“Saya berpikir bahwa jika saya tidak memenangkan pertarungan ini, maka saya telah mengecewakan banyak orang, jika bukan saya lalu siapa? jadi saya benar-benar bersemangat untuk memperjuangkan hak perempuan lewat film ini,” katanya.

Film Wonder Woman 1984 merupakan sekuel dari film Wonder Woman yang tayang pada 2017. Film tersebut juga berada di bawah arahan Patty Jenkins.

Lihat juga:

Review Manga: One Piece Chapter 999

Wonder Woman 1984 telah resmi tayang di sejumlah lokasi di dunia termasuk di Indonesia dan China.

Film ini mengangkat kisah Diana Prince alias Wonder Woman (Gal Gadot) dalam menghentikan aksi jahat Cheetah (Kristen Wiig) yang ingin menguasai dunia.

Cheetah digambarkan pernah menjadi teman Diana. Namun Ia berubah menjadi jahat setelah mendapatkan kekuatan super dari Batu ajaib.

Dalam ulasan dari laman NME, Wonder Woman 1984 meraih bintang empat. NME menilai film Wonder Woman 1984 memberikan suasana hangat, membangkitkan semangat dan aspek lain yang belum ada di film sebelumnya.

Film ini juga dipenuhi dengan harapan yakni sebuah kondisi yang sangat dibutuhkan saat ini. Meski lebih kental dengan unsur drama percintaan, namun Wonder Woman 1984 tetap menampilkan adegan aksi pertarungan yang menegangkan penuh euforia.

(nly/bac)

[Gambas:Video ]


Next Post

Indosat dan Tri Dikabarkan Bakal Merger

Jakarta, Indonesia — Raksasa keuangan Hongkong CK Hutchison Holdings Ltd dikabarkan tengah melakukan pembicaraan lanjutan terkait¬†merger bisnis operator telekomunikasi di Indonesia dengan Ooredoo QPSC, pemegang saham mayoritas PT Indosat Tbk (ISAT). Sebelumnya, Ooredo memiliki sekitar 65 persen saham Indosat. Sementara CK Hutchison memiliki bisnis telekomunikasi di Indonesia melalui PT Hutchison […]