Breaking News in Indonesia

Suku Bunga Acuan Bank di Turki 19 Persen

Jakarta, Indonesia —

Bank sentral Turki (TCMB) menahan suku bunga acuan di level 19 persen pada Kamis (15/4). Ini merupakan keputusan pertama sejak Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melengserkan gubernur bank sentral sebelumnya dan menggantinya dengan pendukung partainya.

“Kami memutuskan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dengan tidak mengubah tingkat suku bunga acuan,” jelas TCMB seperti dikutip dari AFP.

Lewat sebuah pernyataan, regulator juga menyatakan akan mempertahankan suku bunga acuan di atas tingkat inflasi tahunan, yakni di level 16,2 persen pada bulan lalu.

Kebijakan itu disambut baik oleh pasar, tercermin dari stabilnya lira terhadap dolar AS setelah pengumuman. Kendati demikian, ekonom mencium niat bank sentral untuk menurunkan suku bunga ke depan.

Sebelumnya, Presiden Erdogan memecat mantan gubernur TCMB Naci Agbal yang dikenal agresif menaikkan suku bunga guna memerangi inflasi. Baru menjabat empat bulan, ia kemudian diganti dengan mantan anggota parlemen partai berkuasa, Sahap Kavcioglu.

Walau Erdogan tidak memberikan penjelasan terkait alasan memecat Agbal, Kavcioglu tampaknya mengikuti kepemimpinan tidak biasa Erdogan, yakni pemahaman kalau tingkat suku bunga tinggi menyebabkan inflasi, bukan menekan inflasi.

“Bahasa yang digunakan memberi sinyal kalau mereka mencari kesempatan untuk menurunkan tingkat suku bunga,” kata Analis Ekonom Capital Economics William Jackson.

Lihat juga:

Bank Bantah Keluhan Nasabah soal Bunga KPR Naik

Awal bulan lalu, Erdogan menyatakan bahwa ia bertekad untuk mengembalikan tingkat suku bunga dan inflasi kembali ke satu digit. Pada Januari 2021, bank sentral memprediksikan inflasi bakal dapat ditekan di level 9,4 persen pada akhir tahun ini.

Namun, barang-barang konsumsi terus naik dan kini mencapai level tertingginya sejak Juli 2019, saat Turki kewalahan membendung dampak ekonomi dari perselisihannya dengan AS.

Menurut mantan menteri ekonomi Ali Babacan, yang sekarang memimpin partai oposisi, Agbal dipecat karena ia berencana menyelidiki apa yang terjadi dengan cadangan devisa (cadev) negara yang bernilai hampir US$130 miliar.

Diduga, TCMB menggunakan uang tersebut untuk menopang lira sambil mempertahankan suku bunga rendah pada 2019-2020 lalu.

Masalah ini kembali mencuat dalam beberapa hari terakhir setelah oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) memulai kampanye yang menanyakan soal cadev tersebut.

[Gambas:Video ]

(wel/sfr)