Breaking News in Indonesia

Sir James Dyson, Jadi Konglomerat Berkat Alat Penyedot Debu

Jakarta, Indonesia —

Kreativitas dan inovasi bisa membawa seseorang menuju kesuksesan. Hal itu dibuktikan oleh Sir James Dyson, konglomerat asal Inggris penemu alat penyedot debu tanpa kantong  (vacuum cleaner) serta pendiri perusahaan alat elektronik dan rumah tangga Dyson Ltd.

Dyson lahir di Cromer, Norfolk, Inggris pada 1947. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Waktu kecil, Dyson sempat berkeinginan untuk menjadi dokter. Namun, saat remaja, ia tertarik pada dunia seni.

Mengutip Britannica, Dyson sekolah di Byam Shaw School of Art di London selama setahun yaitu pada 1965-1966. Setelah itu, pada 1966, ia menempuh pendidikan di sekolah seni Royal College of Art (RCA) dan mempelajari desain mebel dan interior. Di sana, Dyson belajar cara mengawinkan desain dengan teknik industri.




Setelah lulus, pada 1970, ia bekerja di Rotork Controls Ltd. di Bath, Somerset. Ia bertanggung jawab untuk merancang kapal pendarat berkecepatan tinggi Sea Truck. Selang empat tahun, ia mendirikan perusahaan sendiri dan memproduksi inovasi kereta dorong yang ia beri nama Ballbarow.

Suatu hari, Dyson tidak puas dengan alat penyedot debu milik keluarganya. Ia menilai kantong debu yang penuh kerap menghambat kinerja alat tersebut. Pada 1978, ia menemukan kendala serupa pada penyaring udara di pabrik Ballbarow.

Tak tinggal diam, ia pun memutar otak dengan merancang alat pemutar udara yang mampu berputar sangat cepat. Alat itu menghasilkan siklon yang dapat mengeluarkan dan mengumpulkan debu ke satu tempat.

Ia menilai cara kerja yang sama bisa digunakan untuk menghilangkan kantung pada mesin penyedot debu kala itu. Lalu, ia mulai mencoba mengaplikasikan pemikirannya menjadi suatu produk.

Lihat juga:

Tuan Tanah Lee Shau Kee, Terkaya Nomor Wahid di Hong Kong

Selama lima tahun, ia gigih membuat 5.127 prototipe vacuum cleaner tanpa kantong. Hingga akhirnya ia menemukan alat penyedot debu yang diberi nama ‘G Force’ pada 1983. Sayang, ia harus kecewa karena penemuannya tidak menarik penjual alat penyedot debu konvensional.

Tak patah semangat, ia menjual G Force ke perusahaan Jepang yang ternyata sukses secara komersial. Bahkan, pada 1991, ia memenangkan penghargaan rancangan terbaik.

Pada 1993, ia membuka pabrik Dyson Ltd di North Wiltshire untuk memproduksi alat penyedot debu Dual Cyclone. Produk inovatif itu langsung laku di pasar Inggris. Setelah itu, Dyson memproduksi berbagai peralatan elektronik mulai dari lampu, kipas angin, pengering rambut, hingga penjernih udara. Produk tersebut tidak hanya dipasarkan di Inggris tetapi seluruh dunia.

Ia juga mendirikan Yayasan James Dyson untuk membantu generasi muda dalam mengembangkan inovasi di bidang desain dan teknik industri melalui pelatihan dan pendampingan.

Lihat juga:

Larry Flynt, dari Tentara hingga Taipan Industri Porno

Berbagai kesuksesan di bidang inovasi yang diraih membuatnya menerima berbagai penghargaan, termasuk dari kerajaan Inggris yang menganugerahinya gelar Sarjana Ksatria pada 2007 dan Order of Merit pada 2016.

“Jika anda melakukan apa yang anda tahu akan berhasil, maka risiko gagal anda akan lebih kecil, tetapi anda tidak akan pernah melakukan perubahan penting atau terobosan,” ujar Dyson dalam salah satu video yang ditayangkan di akun Youtube @Dyson pada Maret 2020.

Dyson sempat berambisi menjadi pesaing Tesla dengan mengumumkan proyek mobil listrik pada 2017. Namun, seperti dilaporkan The Sunday Times, ia membatalkan proyek bernilai 500 juta poundsterling itu pada Oktober 2019. Alasannya, mobil listrik produksi perusahaan tidak layak secara komersial.

“Ada kesedihan dan kekecewaan yang besar. Kami mencoba berbagai hal dan gagal. Hidup tidak mudah,” kata Dyson kepada The Sunday Times Mei lalu.

Beruntung, produk elektronik Dyson laris manis di pasar global, terutama China. Hal ini membawa Dyson menduduki posisi wahid daftar orang terkaya Sunday Times Rich List dengan total harta 16,2 miliar poundsterling atau sekitar Rp324 triliun. Per 9 Maret 2021, Forbes mencatat kekayaan bersih Dyson mencapai US$9,7 miliar atau sekitar Rp135,8 triliun.

[Gambas:Video ]

(sfr/agt)