Sekolah Elit Bangsawan Inggris Dihantui Kasus Pemerkosaan

Farah

Jakarta, Indonesia —

Kasus pemerkosaan dianggap telah menjadi endemik di seluruh sistem pendidikan di Inggris, setelah ribuan korban membuat kesaksian secara online pada Selasa (30/3). Imbasnya, muncul tekanan terhadap pemerintah Inggris untuk mengambil tindakan tegas.

Dikutip AFP pada Minggu (4/4), politisi dan pemimpin di lembaga pendidikan termasuk para menteri diminta untuk menanggapi menyusul ramainya laporan terkait pelecehan seksual, penyerangan, dan pelanggaran lainnya yang diunggah secara anonim di situs bertajuk ‘Everyone’s Invited’.

Situs itu dirilis oleh Sara Soma. Perempuan yang berusia 22 tahun musim panas lalu itu telah membuat katalog hampir 10 ribu kesaksian dari lebih dari 38 ribu kontributor.

Dalam tiap unggahannya, ribuan orang mengaku mengalami beragam jenis pelecehan mulai dari panggilan tak senonoh hingga pemerkosaan di sekolah dan universitas.

Pilihan Redaksi
  • RUU PKS Masuk Prolegnas 2021, Sinyal Perlindungan Korban
  • Kronologi Perempuan Tunarungu Diperkosa Linmas di Bekasi
  • 10 Pemuda di Langsa Aceh Perkosa Anak di Bawah Umur

“Ini terjadi di semua bagian masyarakat, termasuk semua universitas dan semua sekolah.”

Jumlah laporan meningkat secara signifikan sejak hilangnya dan meninggalnya perempuan berusia 33 tahun bernama Sarah Everard. Kasus itu juga memicu kemarahan dan perdebatan nasional tentang keselamatan perempuan.

“Dari kesaksian yang diterima ‘Everyone’s Invited’, jelas bahwa budaya pemerkosaan adalah endemik,” tulis Soma di surat kabar The Times pekan ini.

“Mari berharap ada efek bola salju dan budaya pemerkosaan lebih dipahami, dan diberantas,” tambahnya.

Insiden tersebut membuat anak laki-laki dari sejumlah sekolah telah dikumpulkan, termasuk Sherborne, Westminster, dan Eton, tempat Perdana Menteri Boris Johnson dan Pangeran William mengenyam pendidikan.

Dalam beberapa hari terakhir, laporan telah meluas hingga mencakup banyak sekolah dalam sistem pendidikan yang dikelola negara serta universitas.

Kepolisian London mengatakan mereka yang mengunggah cerita bisa melaporkan dengan tuduhan kejahatan atau laporan pelanggaran tertentu.

Terpisah, Dewan Kepala Kepolisian Nasional (NPCC) telah mendesak orang tua untuk membawa putra mereka ke polisi jika mereka bertanggung jawab atas kekerasan seksual.

Bukan hanya urusan sekolah

Menteri Pendidikan Gavin Williamson menyebut kesaksian para korban tersebut mengejutkan dan mengerikan. Ia berjanji untuk mengambil tindakan yang tepat.

“Setiap korban dari tindakan memuakkan yang kami lihat dilaporkan harus menyampaikan kekhawatiran mereka kepada seseorang yang mereka percayai, apakah itu anggota keluarga atau teman, guru, pekerja sosial, atau polisi,” katanya, Senin (29/3).

Kementerian pendidikan dan dalam negeri bersama dengan NPCC juga ikut merespons kasus tersebut. Mereka menyebut penyintas yang melapor harus diberi dukungan oleh berbagai pihak.

“Dukungan, perlindungan dan nasehat bagi mereka yang melaporkan pelecehan,” kata seorang juru bicara pemerintah.

Paul Whiteman, Sekretaris Jenderal Serikat Pimpinan sekolah NAHT mengamini hal tersebut.

“Jelas ada kebutuhan mendesak untuk bertanya pada diri sendiri apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mencegah pelecehan dan kekerasan seksual,”ucapnya.

“Tidak ada keraguan bahwa sekolah dapat dan harus memainkan peran kunci dalam pekerjaan ini, tetapi ini adalah masalah yang menjangkau jauh melampaui gerbang sekolah,” imbuhnya.

(AFP/ard)

[Gambas:Video ]


Next Post

Menlu Retno: Tidak Ada Lagi WNI Jadi Korban Penyanderaan

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menyatakan, dengan dibebaskannya empat warga negara Indonesia (WNI) dari penyanderaan Kelompok Abu Sayyaf di Filipina, maka tidak ada WNI yang jadi korban penyanderaan di luar negeri. “Sejak 2016 hingga saat ini tercatat 44 WNI menjadi korban penyanderaan Kelompok Abu Sayyaf. Dengan pembebasan ini maka tidak […]