Saudi Aramco Minta Perpanjangan Jatuh Tempo Utang Rp140 T

Farah

Saudi Aramco meminta bank agar memperpanjang pinjaman US$10 miliar atau setara Rp140 triliun (kurs Rp14 ribu) selama satu tahun.

Jakarta, Indonesia —

Saudi Aramco meminta bank agar memperpanjang pinjaman US$10 miliar atau setara Rp140 triliun (kurs Rp14 ribu) selama satu tahun. Pinjaman tersebut Aramco peroleh pada Mei 2020.

Mengutip Antara, dua sumber yang mengetahui masalah itu mengatakan rebound harga minyak mentah akhir-akhir ini tidak membuat Aramco mengurangi utang saat ini.

Meski keputusan ada di tangan pemberi pinjaman alias bank, namun bank mengalami tekanan untuk menjaga hubungan baik dengan Aramco. Loan Pricing Corporation (LPC) mengungkap tekanan ini kemungkinan besar membuat permintaan penundaan akan disetujui. Sebagai informasi, LPC adalah penyedia berita pendapatan tetap yang dimiliki oleh Refinitiv.




Namun sayangnya, Aramco menolak berkomentar terkait hal ini. Sumber menyebut mungkin saja Aramco akan mencoba menekan penetapan harga dengan alasan kondisi pasar telah membaik sejak Mei meski harga minyak jauh lebih rendah dan masih terdapat berbagai ketidakpastian.

Untuk diketahui, minyak mentah berjangka Brent ditutup pada US$66,13 per barel minggu lalu. Pada Mei tahun lalu, minyak diperdagangkan dengan harga sekitar US$30 per barel akibat anjloknya permintaan global.

Lebih lanjut, sumber mengatakan kepada Reuters tahun lalu bahwa Aramco akan menggunakan pinjaman tersebut untuk mendukung akuisisi 70 persen saham di Saudi Basic Industries Corp (SABIC) dari Public Investment Fund Arab Saudi, sebuah kesepakatan senilai hampir US$70 miliar.

Lihat juga:

Ahok Ingatkan Pesantren Soal Kemandirian Ekonomi

Mengutip seorang bankir, LPC sebelumnya melaporkan bahwa pinjaman tersebut akan dilunasi dengan hasil penjualan obligasi pada kuartal IV 2020. Namun, penjualan obligasi itu tidak terjadi meski Aramco mengumpulkan US$8 miliar dalam kesepakatan obligasi multi-tahap pada November lalu.

Meski keuntungan Saudi Aramco anjlok pada tahun lalu, namun Aramco tetap memberikan dividen tahunan US$75 miliar yang sebagian besar jatuh ke tangan pemerintah Saudi.

HSBC mengatakan bulan ini prospek Aramco terlihat lebih positif dan menjanjikan untuk 2021, mengisyaratkan penurunan utang bersih dan kemungkinan kenaikan dividen.

[Gambas:Video ]

(wel/age)


Next Post

Veronica Koman Singgung Sikap RI di Isu Papua dan Myanmar

Jakarta, Indonesia — Aktivis Veronica Koman menyinggung perbedaan sikap pemerintah Indonesia dalam menyikapi desakan menyelesaikan masalah Papua dan merespons kudeta di Myanmar. Menurutnya, langkah Indonesia dalam menyikapi kudeta Myanmar sejauh ini bagus, namun tidak ketika menyikapi isu Papua. “Lucu, Indonesia tidak mengindahkan desakan internasional untuk supaya menyelesaikan konflik di Papua, tapi bisa […]