Satgas Covid-19: Kerumunan Dapat Berakibat Fatal

Farah

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo menegaskan bahwa kerumunan massa di masa pandemi ini berakibat cukup fatal, dan tak seharusnya ditimbulkan.

Jakarta, Indonesia —

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional (#SatgasCovid19) menegaskan bahwa setiap kegiatan yang menciptakan kerumunan dan minim #jagajarak sudah hampir pasti dapat menimbulkan penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Hal itu dikemukakan oleh Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo menyusul maraknya aktivitas kerumunan massa dalam jumlah besar dalam beberapa waktu terakhir, termasuk sejak kepulangan Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

“Sejumlah aktivitas yang menciptakan kerumunan hampir pasti bisa menimbulkan penularan [Covid-19]. Menulari dan tertular satu sama lainnya,” ujar Doni dilansir dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (16/11)

Doni mengingatkan bahwa Covid-19 dapat menjadi mesin pembunuh bagi mereka yang masuk dalam kategori usia lanjut, maupun mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Data Satgas Penanganan Covid-19 mencatat tren kasus kluster keluarga yang meningkat dari orang tanpa gejala yang menulari keluarganya di rumah sehingga akhirnya berujung fatal, sehingga hal ini perlu diantisipasi.

“Mungkin, bagi anak muda yang usianya relatif masih di bawah 36 tahun, sehat, tidak ada komorbid, rata-rata adalah tanpa gejala kalau terpapar Covid-19. Namun, ketika mereka kembali ke rumah, ketemu dengan orang-orang yang dicintai, ketemu dengan saudara-saudaranya yang lain, yang punya komorbid, usianya sudah lanjut, maka risikonya sangat fatal,” jelas Doni.

Adapun berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 hingga delapan bulan terakhir, angka fatality rate dari penderita komorbid dan lansia telah mencapai 85 persen.

“Data yang kami peroleh selama delapan bulan terakhir, angka kematian penderita komorbid dan lansia mencapai 80 sampai dengan 85 persen. Sebuah angka yang sangat tinggi,” jelas Doni.

Dengan melihat adanya prosentase angka tersebut, Doni meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia agar menghindari segala aktivitas yang menimbulkan kerumunan manusia dalam jumlah banyak. Dia juga mengajak antar anggota keluarga agar dapat saling mengingatkan satu sama lain, bahwa kegiatan kerumunan pada masa pandemi sangat berisiko.

“Sekali lagi, semua aktivitas yang berhubungan dengan timbulnya kerumunan, tolong untuk dihindari, dan kami juga mengajak kepada seluruh keluarga besar bangsa Indonesia, untuk mengingatkan keluarga kita satu sama lainnya, agar jangan menghadiri acara-acara yang menimbulkan kerumunan, karena potensi tertular Covid, pasti akan semakin tinggi, dan ini nantinya akan menyulitkan kita semua,” ujar Doni.

Lihat juga:

Alasan Satgas Covid Beri Masker di Acara Rizieq Shihab

Khusus bagi para penyelenggara kegiatan yang menyebabkan kerumunan, Doni mengingatkan bahwa siapa pun yang menciptakan adanya kerumunan manusia pada masa pandemi akan mendapatkan sanksi tegas, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebab, lanjutnya, mengumpulkan orang-orang dalam jumlah besar sehingga menimbulkan penularan penyakit hingga menyebabkan kematian adalah perbuatan yang dilarang baik oleh pemerintah maupun agama.

“Mereka yang menyelenggarakan kegiatan tersebut, nantinya bukan hanya mendapatkan sanksi di dunia oleh pemerintah, tetapi juga kelak di kemudian hari akan mendapatkan permintaan pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Karena tidak sedikit kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kerumunan itu menimbulkan penularan [Covid-19],” tegas Doni.

(ang/fjr)


Next Post

Profil Indosterling yang Terjerat Gagal Bayar Dana Nasabah

Jakarta, Indonesia — Kasus gagal bayar uang nasabah kembali terjadi. Kali ini kasus menimpa PT Indosterling Optima Investa (IOI). Karena masalah tersebut, perusahaan itu digugat untuk mengembalikan dana sebesar Rp95 miliar dari 58 nasabah lanjut usia (lansia). Gugatan merupakan buntut dari kasus dugaan gagal bayar atas kepemilikan produk investasi High Yield Promissory Notes (HYPN) […]