Runner Up Miss France Dihujani Pesan Antisemitisme di Sosmed

Farah

Jaksa Prancis membuka penyelidikan terhadap 'ledakan' pesan berbau antisemitisme yang memenuhi di media sosial runner up Miss France 2020, April Benayoum.

Jakarta, Indonesia —

Jaksa Prancis membuka penyelidikan terhadap ‘ledakan’ pesan yang memenuhi di media sosial runner up Miss France 2020, April Benayoum.

Penyelidikan ini dilakukan karena bombardir pesan warganet berbau antisemitisme. Antisemitisme adalah suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk-bentuk tindakan penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap individu hingga lembaga.

April Benayoum, 21, yang menyandang gelar Miss Provence dan memperebutkan mahkota nasional Miss France pada hari Sabtu, menjadi subjek pesan kebencian setelah mengatakan ayahnya berasal dari Israel.

Berbagai penghinaan seperti ‘jangan pilih seorang Yahudi,’ dan juga ‘Hitler lupa tentang yang ini’ diunggah di Twitter. Pesan kebencian tersebut mengundang kecaman dari politisi dan asosiasi tersebut. Mereka juga memicu kritik terhadap Twitter sendiri karena penanganannya terhadap materi yang menyinggung.

“Saya sangat terkejut dengan banjir penghinaan anti-Semit terhadap Miss Provence,” kata Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin dikutip dari AFP.

“Kami tidak akan membiarkan ini terjadi. Memalukan.”

Jaksa penuntut Paris mengatakan Senin bahwa mereka sedang menyelidiki pesan-pesan untuk “penghinaan rasis” dan “pemicu kebencian ras.”

Penyelenggara kontes juga mengutuk serangan tersebut, seperti halnya pemenang kompetisi, Amandine Petit dari Normandy di barat laut Prancis, yang menyebut pesan media sosial “tidak pantas” dan “sangat mengecewakan”.

Benayoum sendiri menyesalkan hal semacam ini masih terjadi di tahun 2020.

“Prancis adalah negara kosmopolitan, kontestan Miss berasal dari latar belakang yang berbeda, budaya yang berbeda, daerah yang berbeda, dan itulah yang hebat dari kompetisi ini,” katanya kepada surat kabar La Provence.

Komisioner pasar internal UE Thierry Breton mengatakan Twitter dan platform media sosial lainnya harus bergerak lebih cepat untuk menghapus perkataan yang mendorong kebencian. Persatuan Mahasiswa Yahudi Prancis (UEJF) mengatakan jumlah pesan yang menyinggung sangat banyak sehingga Twitter seharusnya mudah memblokirnya melalui filter kata kunci.

Twitter tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Prancis, yang memiliki populasi Yahudi terbesar di Eropa, telah menyaksikan peningkatan vandalisme anti-Semit dan ujaran kebencian yang oleh Presiden Emmanuel Macron disebut “tidak dapat diterima”.

Pada 2018, jumlah pelanggaran anti-Yahudi yang dilaporkan ke polisi melonjak 74 persen setelah dua tahun menurun, menurut kementerian dalam negeri.

(chs)

[Gambas:Video ]


Next Post

Pakar Sebut Ada Risiko Paksa Ponsel Lawas Akses WhatsApp 2021

Jakarta, Indonesia — WhatsApp akan membatasi sejumlah ponsel keluaran lama untuk menggunakan aplikasinya mulai 2021. Aplikasi panggilan video dan suara itu nantinya hanya akan bisa diakses oleh sistem operasi keluaran terbaru yang telah ditentukan. WhatsApp dikabarkan hanya mengizinkan ponsel dengan sistem operasi Android 4.0.3 atau yang lebih baru, serta iPhone yang menjalankan minimal […]