Breaking News in Indonesia

Ribuan Penambang Berburu Emas di Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Lore Lindu terancam setelah ribuan penambang emas ilegal kembali menyerbu lokasi eks Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Dongi-Dongi.

Jakarta, Indonesia —

Ribuan penambang yang datang dari berbagai daerah menyerbu lokasi eks Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Dongi-Dongi yang berada dalam kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Berdasarkan laporan Antara dari lokasi PETI Dongi-Dongi, Senin (15/2), kondisi di lokasi saat ini sangat memprihatinkan, sebab telah dikuasai sepenuhnya oleh para penambang yang berasal dari luar Sulawesi Tengah.

Sebagian besar penambang yang ada di PETI Dongi-Dongi berasal dari Sulawesi Utara (Sulut), Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa.

Para penambang bebas melakukan kegiatan karena sudah tidak lagi dijaga oleh petugas baik dari aparat kepolisian maupun Polhut. Para petugas telah ditarik keluar sejak beberapa waktu lalu.

Ede, salah seorang penambang, berkata sejak Desember 2020 aparat keamanan maupun petugas Polhut yang ditempatkan di pintu masuk ke lokasi maupun di dalam areal PETI Dongi-Dongi sudah tidak lagi melakukan pengawasan dan penjagaan.

Keamanan yang longgar itu membuat penambang bebas menambang di lokasi PETI Dongi-Dongi yang berjarak sekitar 1,5 km dari jalan raya Palu-Napu di wilayah Dongi-Dongi.

Diperkirakan jumlah penambang di lokasi PETI Dongi-Dongi saat ini mencapai sekitar 4.000 orang.

Areal penambangan semakin luas. Kalau dahulu lokasi penambangan emas ilegal hanya di kawasan areal sekitar 15 hektare , kini meluas sampai ke kebun kakao milik masyarakat.

Para penambang melakukan aktivitas pada pagi hari dan malam hari. Pada malam hari mereka menambang dengan menggunakan penerangan listrik (mesin genset).

Rata-rata penambang telah mendirikan tenda-tenda di sekitar maupun di areal PETI Dongi-Dongi agar mereka bisa bekerja di waktu malam hari.

Lihat juga:

Surat Bahar Smith ke Rizieq: Mendidih Dengar Habib Ditahan

Lubang-lubang rep (tanah/pasir yang mengandung emas) yang dahulu telah ditutup, kini semuanya dibuka kembali oleh para penambang. Jumlah lubang rep saat ini sudah mencapai ribuan lubang.

Ede mengatakan satu lubang rep biasanya dikuasai oleh 10 orang dengan sistem kongsi. Artinya, ada salah satu dari anggota yang membiayai kebutuhan mereka, termasuk menanggung makan/minum sehari-hari.

Saat rep diolah dan menghasilkan emas, maka emas itu kemudian dijual dan uangnya dibagi-bagikan kepada semua anggota penambang yang tergabung dalam satu kongsi.

Seluruh rep dari PETI Dongi-Dongi kemudian dibawa ke tromol di Kelurahan Poboya, Kota Palu untuk diproses menjadi biji-biji emas.

Kepala Balai Besar TNLL, Jusman membenarkan bahwa lokasi PETI Dongi-Dongi saat ini sudah diserbu kembali oleh para penambang yang kebanyakan datang dari Pulau Sulawesi.

Dari hasil kunjungannya ke lokasi tambang pada Sabtu (13/2), Jusman mengaku cukup terkejut ketika menyaksikan para penambang dengan bebas dan tanpa rasa takut menambang dalam kawasan konservasi.

Saat berada di lokasi PETI Dongi-Dongi, Jusman mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Selain kondisinya cukup rawan, jumlah penambang sangat banyak mencapai ribuan orang.

“Tidak mungkin kami mau menertibkan sendiri. Bisa konyol diserbu penambang,” ujarnya.

Lihat juga:

Sengkarut Kritik Jokowi, Jubir JK Sentil Balik KSP

Menurut dia, menyelesaikan permasalahan PETI Dongi-Dongi harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak terkait.

“Kami (Taman Nasional Lore Lindu) sebagai pengelola kawasan tidak bisa menertibkan sendiri. Harus secara terpadu bersama-sama seluruh instansi dan institusi terkait yang ada di daerah ini,” kata Jusman.

Melihat kondisi PETI Dongi-Dongi sekarang ini yang sudah dikuasai penambang, pihaknya akan segera berkoordinasi kembali dengan Pemprov Sulteng, Pemkab Poso, Pemkab Sigi.

Selain itu Taman Nasional juga menggandeng unsur kepolisian yakni Polda Sulteng dan Korem 132 Tadulako. Ia mengatakan dalam waktu dekat ini akan bertemu dengan Kapolda Sulteng.

Dia berharap secepatnya ditempuh langkah atau penertiban lokasi PETI Dongi-Dongi, sebelum terjadi hal-hal yang lebih merugikan lagi.

PETI Dongi-Dongi yang dalam setahun terakhir ini kembali marak diserbu penambang, adalah daerah rawan konflik dan tanah longsor.

Penyebab longsor menurut beberapa penambang, ada banyak lubang rep yang ketemu satu dengan lainnya. Artinya, sudah banyak rongga dalam tanah.

Dalam kondisi itu, longsor bisa terjadi bila ada gempa yang keras atau hujan lebat terus-menerus. Longsor bisa menimbun banyak penambang emas ilegal.

Lihat juga:

Bertemu Patung Purba Raksasa di Lembah Bada

Untuk mencegah itu, Jusman ingin segera melakukan upaya penutupan kembali lubang-lubang rep dan mengusir semua penambang dari lakasi PETI Dongi-Dongi.

Jusman pun menegaskan bakal menindak tegas bila ada petugas dari Balai Besar TNLL yang ikut terlibat dalam penambangan ilegal ini.

“Yang tahu petugas kami ikut terlibat, hanya penambang. Makanya kalau ada bukti akurat keterlibatan oknum Polhut TNLL, akan langsung diproses,” tegasnya.

Areal PETI Dongi-Dongi sebelum diobrak-abrik para penambang adalah kawasan hutan yang banyak ditumbuhi pohon/kayu endemik yakni pohon leda.

Lihat juga:

KSP soal Kritik Jokowi: Pak Jusuf Kalla Seperti Memprovokasi

Selain pohon leda, juga beberapa jenis pohon/kayu yang berkualitas. Kawasan itu juga menjadi habitat berbagai jenis fauna, termasuk beberapa satwa endemik seperti babi rusa,burung rangkong, anoa,rusa dan banyak lagi.

Namun, kata Jusman sejak lokasi itu dijamah oleh para penambang, semua jenis pohon, termasuk kayu leda habis ditebang.

Begitu pula dengan kayu lainnya telah ditebang untuk kebutuhan menambang. Sama halnya dengan satwa-satwa yang tadinya hidup bebas dalam habitat mereka, semuanya telah hengkang dari sana.

Kini, areal PETI Dongi-Dongi sudah menjadi gundul lagi. Padahal sebelumnya ketika lokasi itu ditutup telah ditanami berbagai pohon.

“Pohon-pohon yang telah ditanam beberapa, kini sudah lenyap bagai ditelan bumi,” kata Jusman dengan nada sedih.

(Antara/wis)

[Gambas:Video ]