Breaking News in Indonesia

Respons BNPT, Anwar Abbas Tegaskan Terorisme Tak Bermazhab

Jakarta, Indonesia —

Pengamat sosial ekonomi dan keagamaan yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyatakan bahwa tersangka terorisme tidak berkaitan dengan mazhab keagamaan tertentu.

Hal itu disampaikan merespons catatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mendapati kebanyakan tersangka teroris merupakan pemeluk Islam dengan latar belakang mazhab Wahabi dan Salafi.

Anwar menjelaskan bahwa tersangka teroris tidak memiliki mazhab karena mereka bergerak atas dasar kebencian. Oleh sebab itu, aksi terorisme menurut Anwar tidak berkaitan dengan mazhab-mazhab tertentu.

“Teroris itu tidak bermazhab. Mereka mau mengorbankan jiwa dan raganya serta melakukan tindakan-tindakan yang merugikan tidak hanya harta bahkan jiwa orang lain karena ada kebencian dan kemarahan yang terpendam dalam diri mereka,” kata Anwar saat dihubungi, Kamis (29/4).

Anwar mengatakan tidak ada yang salah dengan mazhab Wahabi maupun salafi. Namun, memang ada segelintir oknum dalam kelompok tersebut yang bertransformasi menjadi teroris dan radikalis.

“Lalu timbul pertanyaan, kok sebagian besar mereka tidak jadi teroris, tapi hanya beberapa orang saja? Ya di situlah arti pentingnya pendalaman terhadap penyebabnya,” jelas Anwar.

“Dan saya melihat faktor ketidakadilan adalah pemicu utama orang melakukan tindakan kekerasan termasuk teroristik di samping faktor-faktor lain,” ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut, Anwar menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan tindakan terorisme dan radikalisme tentu ada penyebabnya. Oleh karena itu, menurut dia, penting menggali informasi kenapa mereka sampai memiliki pandangan tersebut.

Lihat juga:

Said Aqil: Ajaran Wahabi Jadi Pintu Masuk Terorisme

Ia mencontohkan, jika tersangka terorisme tidak puas kepada pemerintah, maka pihak-pihak berwenang perlu menggali kenapa mereka memiliki pandangan seperti itu. Menurut Anwar, pasti ada alasan mengapa mereka tidak puas hingga akhirnya membenci pemerintah yang ada.

“Apakah mereka menilai bahwa pemerintahan kita yang ada saat ini banyak berbuat hal yang tidak adil dan tidak benar? Kalau iya, seperti apa ketidakadilan dan ketidakbenaran yang telah dilakukan oleh pemerintah menurut mereka,” ujar Anwar.

“Hal seperti ini perlu kita ketahui, supaya para dai juga tahu apa yang akan dilakukan,” imbuhnya.

Lihat juga:

Geliat Penyebaran Hijrah ala Salafi di Indonesia

Sebelumnya, Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Ahmad Nurwakhid mencatat bahwa kebanyakan tersangka teroris yang ditangkap oleh Densus 88 Antiteror Polri dan BNPT merupakan pemeluk Islam dengan latar belakang mazhab Wahabi dan Salafi yang jihadis.

“Mereka semua, mohon maaf dengan segala hormat, mereka bermazhab salafi wahabi. Yang kita tangkap ini salafi wahabi jihadis, yang jadi kombatan,” kata Ahmad dalam webinar dengan topik ‘Urgensi Standardisasi Dai untuk Penguatan Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin’ yang digelar MUI secara daring, Selasa (27/4).

Meski begitu, Ahmad menegaskan tak semua pemeluk Wahabi dan Salafi memiliki ideologi sebagai teroris. Ia menyatakan masih banyak pemeluk Wahabi dan Salafi yang menjalankan perintah agama sesuai ketentuan yang berlaku dan tak menyimpang.

(dmi/gil)

[Gambas:Video ]