Reply 1988: Pintu Nostalgia, Gerbang Pemula Suka Drama Korea

Farah

Dengan kekuatan cerita dan nostalgia, Reply 1988 menjadi salah satu tontonan yang membuka gerbang bagi pemula untuk masuk ke dunia drama Korea.

Jakarta, Indonesia —

Dengan kekuatan kisah dan nostalgia, Reply 1988 menjadi salah satu tontonan yang membuka gerbang bagi pemula untuk masuk ke dunia drama Korea di tengah pandemi Covid-19.

Meski tayang tepat lima tahun silam, Reply 1988 berhasil mengumpulkan banyak penggemar baru di masa pandemi ini. Perbincangan mengenai Reply 1988 pun beberapa kali mengisi deretan ‘topik tren’ di Twitter tahun ini.

Aktor kenamaan Indonesia, Nicholas Saputra, misalnya, mengaku mulai menonton drama Korea di tengah pandemi Covid-19.

Dalam bincang-bincang dengan Dave Hendrick, Nicholas mengaku langsung jatuh hati pada Reply 1988 setelah direkomendasikan seorang teman.

“Saya coba dan langsung kecantol di episode pertama karena itu mengingatkan saya pada masa kecil, kayak melihat tante-tante, om kita dulu,” katanya dalam bincang-bincang untuk Harper’s Bazaar Indonesia tersebut pada Juni lalu.

Nicholas SaputraNicholas Saputra. ( Indonesia/Resty Armenia)

Pria berusia 36 tahun ini kemudian menuturkan bahwa usai menonton Reply 1988, ia terbawa nostalgia pada masa kecilnya.

Nicholas mengatakan bahwa dulu ia juga merasakan ikatan bertetangga yang begitu kuat, seperti dalam drama garapan sutradara Shin Won-ho tersebut.

“Kadang-kadang, kita kirim makanan ke rumah. Terus makanannya pulang enggak boleh kosong, tapi piringnya sama, diisi lagi. Hal-hal kecil kayak gitu yang gue rindu,” tutur Nicholas.

Nicholas merupakan potret dari banyak orang Indonesia lainnya yang kepincut dunia drama Korea setelah menonton Reply 1988 di tengah pandemi Covid-19, salah satunya Elsa.

Perempuan ini awalnya ogah menonton drama Korea karena menganggap tak ubahnya seperti sinetron pada umumnya. Namun, ia mengaku terpikat setelah tak sengaja menonton Reply 1988.

“Awalnya karena adek gue ribut banget minta pinjem akun Netflix, katanya mau nonton drakor yang lagi ditonton sama temen-temennya, judulnya Reply 1988,” katanya kepada Indonesia.com.

Dia mengatakan bahwa kala itu ia sempat enggan meminjamkanakun karena takut merusak algoritma rekomendasi film di lamanNetflix miliknya.

Reply 1988. Kredit: Dok. CJ E&MReply 1988. (Dok. CJ E&M)

Namun, karena rasa iba pada sang adik yang butuh hiburan di masa pandemi, ia pun akhirnya merelakan akun Netflix-nya dipakai menonton drama Korea.

“Akhirnya gue pinjemin, terus karena gambar awalnya tuh suasananya 80-an banget, gue penasaran terus malah ikut nonton,” tuturnya.

Sejak awal, Elsa mengaku langsung terpincut karena kisah kocak Reply 1988. Selain itu, nostalgia masa kecil dan kehidupan bertetangga juga membuatnya terus bertahan menyaksikan 20 episode drama dengan rata-rata durasi satu setengah jam itu.

“Tadinya gue kaget pas lihat satu episode bisa sejam lebih, tapi ternyata seru banget. Terus gue sama adek gue malah begadang babat tiga episode dalam sekali nonton,” ucap Elsa.

Sejak terpikat dengan Reply 1988, ia pun mulai mencari tahu drama Korea lain dan menontonnya satu per satu.

“Setelah banyak nonton, Reply 1988 emang tetap yang terbaik sih,” katanya sembari tertawa.

Buai nostalgia

Akademisi Sastra Korea dari Universitas Indonesia, Eva Latifah, tak memungkiri bahwa pandemi menjadi momentum popularitas Reply 1988 kembali melonjak.

“Faktor utama karena pandemi Covid-19. Mereka work from home (WFH), berada di rumah saja sehingga ada waktu untuk menonton,” katanya kepada Indonesia.com melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Namun menurutnya, kekuatan cerita menjadi kunci utama Reply 1988 sangat disukai. Eva menganggap begitu banyak aspek dalam cerita Reply 1988 yang sangat kuat, mulai dari keberagaman emosi hingga latar masa lalu yang membawa nostalgia.

Reply 1988 sendiri mengangkat kisah persahabatan lima remaja SMA dan keluarganya yang hidup bertetangga di Ssangmun-dong, distrik Dobong, Seoul bagian utara.

Seperti judulserialnya, kisah ini berlatar pada 1988, saatDeok-sun (Hyeri), Jung-hwan (RyuJoon-yeol), Sun-woo (Gokyung-pyo), dan Dong-ryong (Lee Dong-hwi) masih berstatus siswa SMA, sementaraTaek (Park Bo-gum) sudah menjadi pemain go atau baduk internasional.

Reply 1988.Reply 1988. (Dok. CJ E&M via IMDb)

Menurut Eva, latar era 1988 yang digambarkan pada drama ini cukup otentik, terutama dengan penggambaran kehebohan di Korsel saat menjadi tuan rumah Olimpiade.

“Perkembangan sastra pada akhir 80-an menuju 90-an memang sangat terpengaruh dengan Olimpiade 1988,” kata Eva.

Dia kemudian mengatakan, “Jadi mereka digambarin mulai suka budaya pop, ada tren pakai jeans, pakai pager [alat komunikasi], nonton drama dan film di TV, suka New Kids on the Block dan sebagainya.”

[Gambas:Youtube]

Eva pun mengaku kagum dengan totalitas tim produksi dalam menggarap Reply 1988 hampir tiga dekade setelah medio 1980-an.

“Dan hebatnya, itu dibuatnya 2015. Mundurnya cukup jauh ke 1988, tapi Korea bisa menggambarkan situasi yang memang seperti masanya, dengan apa adanya,” katanya.

Lebih jauh, Eva menilai kisah persahabatan di lingkungan bertetangga dalam Reply 1988 juga membawa nostalgia tersendiri bagi para penonton.

Tidak hanya menyoroti persahabatan kelima karakter utama, drama ini juga menonjolkan kehangatan hidup bertetangga yang saling membantu saat suka dan duka.

“Buat penonton, ini sebagai satu artian adalah rindu pada masa lalu. Kita diingatkan kembali pada masa saat kita masih komunal, masih bareng, guyub sama tetangga,” tutur Eva.

Senada dengan Eva, akademisi film dari Institut Kesenian Jakarta, Satrio ‘Pepo’ Pamungkas, juga mengatakan bahwa drama ini menjadi relevan karena orang merasa terwakili.

“Kalau dilihat cerita ini seperti cerita masa kecil. Kita punya teman, tumbuh besar bersama, tapi tidak ada yang menceritakan. Drama ini menjadi relevan karena merasa diwakili,” kata Satrio saat dihubungi terpisah.

Dia lanjut mengatakan, “Kita dibawa ke suasana yang sederhana, kayak di perkampungan yang ada di tengah Jakarta, seperti cerita dalam lagu tentang Gang Kelinci atau di film Mengejar Matahari.”

Ibu-ibu Reply 1988Potret keseharian di Reply 1988. (Dok. tvN)

Sutradara Reply 1988, Shin Won-ho, juga mengakui bahwa tujuannya membuat drama Korea tersebut memang untuk menggali kembali kehangatan interaksi orang.

Pada 2016 silam, Shin Won-ho membeberkan bahwa setelah menggarap Reply 1994 dan 1997, ia ingin lebih membebaskan diri untuk membuat tontonan yang lucu tentang keluarga, teman, dan perjuangan bersama.

Reply 1994 dan Reply 1997 sendiri lebih berfokus pada pengungkapan sosok suami dari karakter utama perempuan. Reply 1988 juga masih menyertakan bagian itu, tapi Shin Won-ho bersikeras bahwa titik berat drama ini adalah tentang keluarga.

“Dalam ingatan saya, pada 1988, Korea masih memiliki banyak kehangatan dan kasih sayang dalam hubungan antarpribadi,” katanya kepada Korea Herald.

“Terlepas dari kondisi ekonomi, sosial atau politik… Kami mencoba untuk menggambarkan sejarah seperti yang dialami orang biasa.”

Kekuatan karakter

Terlepas dari kisah nostalgia, drama Reply 1988 juga unggul karena porsi penampilan tiap karakter yang merata.

Satrio dan Eva mengatakan bahwa karakter utama dalam drama ini bukan hanya kelima anggota geng Ssangmun-dong saja, melainkan 16 karakter yang ada.

Mereka adalah Deok-sun, Jung-hwan, Sun-woo, Taek, Dong-ryong, Sung Bo-ra, Sung No-eul, Kim Jung-bong, Jin-joo, serta para orangtua.

“Uniknya, drama ini menyamaratakan semua karakter, makanya di poster posisinya sama, semua muncul. Ke-16 karakter, semuanya punya kekuatan,” kata Satrio.

Drama Korea 'Reply 1988'Poster Reply 1988. (Dok. TVing)

Eva juga mengatakan, “Yang menarik dari drama ini kan enggak ada yang jadi tokoh utama banget. Semuanya punya cerita dan porsinya masing-masing. Mereka punya problem dan jalan keluarnya masing-masing, serta digambarkan secara merata.”

“Kita tidak fokus satu tokoh saja dan tokoh-tokohnya digambarkan secara manusiawi.”

Sutradara Shin Won-ho juga sempat menekankan bahwa ia berusaha menyampaikan pesan drama ini sebagai kisah tentang keluarga. Untuk itu, ia pun sebisa mungkin membagi porsi tiap karakter secara adil.

“Kami mencoba membagi waktu film antara 16 karakter seadil mungkin. Saya senang ketika orang berkata kepada saya, ‘Saya senang cerita Anda tentang keluarga,'” kata Shin Won-ho seperti dikutip Soompi pada 2016 lalu.

(has/bac)


Next Post

Kunjungi Banyuwangi, Emil Dardak Minta Pesisir Jatim Dimanfaatkan dengan Baik

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengunjungi Banyuwangi. Tak lupa, orang nomor dua di Jawa Timur itu menikmati destinasi wisata di Kabupaten paling ujung Timur Pulau Jawa ini. Destinasi wisata yang dipilih adalah Bangsring Underwater, yang berada di Desa Bangsring, Kecamatan, Wongsorejo, Banyuwangi. Kedatangan Wakil Gubernur Jawa Timur itu […]