REG-COV2, Obat Eksperimen Covid-19 yang Dipakai Trump

Farah

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendapatkan satu dosis obat eksperimental dari perusahaan Regeneron sesaat sebelum dibawa ke rumah sakit.

Jakarta, Indonesia —

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendapatkan satu dosis obat eksperimental dari perusahaan Regeneron, REG-COV2, sesaat sebelum dibawa ke rumah sakit militer Walter Reed.

Trump mendapatkan 8 gram obat eksperimental yang merupakan campuran antibodi poliklonal ini sebagai tindakan pencegahan.

Obat eksperimental Regeneron ini dikenal juga dengan sebutan antibody cocktail atau terapi antibodi koktail. Sama seperti koktail lainnya, terapi antibodi koktail ini juga merupakan campuran dua atau lebih antibodi yang direkayasa di laboratorium.

Antibodi Regeneron ini menggabungkan antibodi monoklonal yang menargetkan protein lonjakan yang digunakan virus untuk masuk ke dalam sel sehat dan antibodi lain yang menargetkan bagian berbeda dari virus corona.

Antibodi ini dapat menjebak dan menghambat replikasi virus sehingga bisa mencegah virus berkembang semakin parah.
 
Pada Selasa (29/9) lalu,Regeneron baru saja merilis hasil tes awal penggunaan antibodi eksperimental tersebut pada pasien Covid-19. Uji ini melibatkan 275 pasien dari 1.000 pasien yang didaftarkan.

Lihat juga:

Covid-19, Trump Dilarikan ke Rumah Sakit Pakai Helikopter

Hasilnya, Regeneron menyebut antibodi eksperimental itu mengurangi tingkat virus dan gejala pada pasien. Pengaruh terbesar terjadi pada pasien yang belum menunjukkan respons alami terhadap infeksi. Terapi ini juga menunjukkan tren positif dalam mengurangi kunjungan medis pasien.

Namun, ini merupakan keterangan dari perusahaan sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai studi ilmiah. Data dalam uji ini belum ditinjau oleh rekan sejawat yang merupakan syarat sebuah studi ilmiah.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih general, antibodi eksperimental ini perlu diteliti dalam populasi yang lebih besar dan sesuai dengan kaidah studi ilmiah.

Regeneron menyatakan akan melakukan uji coba yang lebih luas dengan melibatkan pasien rawat inap dan pada orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien Covid-19.

[Gambas:Video ]

Ahli penyakit menular dari University of Alabama, Jeanne Marrazzo, menyebut racikan antibodi ini menjanjikan.

“Apakah itu terapi antibodi atau vaksin yang menargetkan protein ini, sepertinya kita berada di jalur yang benar. Saya pikir itu sangat menggembirakan. Jika berhasil dan Anda dapat mengobati orang lebih awal dan benar-benar mengurangi viral load (jumlah virus) di nasofaring, dan mungkin kurang menular, itu akan sangat membantu,” kata Marrazzo seperti dikutip .

Di sisi lain, sejumlah ahli mengkritik langkah pemberian terapi antibodi eksperimental Regeneron ini kepada Presiden Trump lantaran belum terkbukti secara ilmiah.

“Secara ilmiah buruk, obat buruk, dan etika juga buruk karena memberikan hal yang belum terbukti ke orang berkuasa yang bahkan tidak kalian berikan ke orang biasa,” kata profesor University of California San Francisco, Vinay Prasad.

(ptj/has)

Next Post

Pesimistis di Balik Pembentukan TGPF Intan Jaya

Jakarta, Indonesia — Menko Polhukam Mahfud MD resmi membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki penembakan di Intan Jaya, Papua. Dalam keterangannya, Mahfud yang juga bertugas sebagai penanggung jawab menyebut tim ini terdiri atas 30 anggota yang terdiri dari unsur pemerintah, tokoh agama, akademisi, dan sejumlah tokoh Papua, dan […]