Rahasia Hidup Bahagia Menurut Biksu

Farah

Seorang biksu Buddha di Inggris memberikan pandangan tentang rahasia hidup bahagia lewat buku A Monk's Guide to Happiness.

Jakarta, Indonesia —

Memiliki hidup bahagia tentu menjadi tujuan dan impian hampir setiap orang di dunia.

Namun, terkadang tidak seorang pun – baik psikolog, filsuf, atau ahli saraf – yang mampu mendefinisikan apa sebenarnya perasaan bahagia itu.

Dalam buku A Monk’s Guide to Happiness, Gelong Thubten, seorang biksu Buddha yang tinggal di Inggris, memberikan pandangannya tentang masalah ini.

Ia mengungkapkan bahwa cara terbaik untuk mencapai kebahagiaan adalah berhenti berusaha menemukannya.

“Saat kita mencari kebahagiaan, pencarian menjadi masalah. Kita selalu merasa lapar akan sesuatu saat kami mencari kebahagiaan – kita selalu mencari sesuatu yang lebih,” ungkapnya, sebagaimana dilansir South China Morning Post.

“Kita tidak pernah merasa bahagia karena terus melihat ke depan, berharap menemukan sesuatu yang lebih baik. Kita tidak pernah puas dengan apa yang kami miliki.”

Umat Buddha percaya bahwa kebahagiaan adalah keadaan alami – otak terhubung untuk bahagia. Dan untuk menemukan kebahagiaan, menurut Thubten, harus membebaskan diri dari gangguan sehari-hari melalui meditasi.

“Latihan meditasi membawa relaksasi batin,” kata Thubten seraya mengatakan, “Jika Anda membebaskan diri Anda dari kebutuhan untuk menemukan kebahagiaan, Anda akan menemukan bahwa kebahagiaan itu sudah ada.”

Thubten kemudian menyampaikan pandangan bahwa suatu situasi itu sendiri pada dasarnya bukan perkara bahagia atau tidak bahagia.

Namun, cara pikirlah yang kemudian membuat memandang situasi tampak bahagia atau tidak.

“Menemukan kebahagiaan melibatkan bagaimana membebaskan diri kita dari cara pikir dan emosi yang mengendalikan kita. Ketika kita berada dalam situasi yang sulit, pikiran kita tentang situasi itulah yang benar-benar menyiksa kita, bukan situasi itu sendiri.”

Profesor Sonja Lyubomirsky, seorang ahli psikologi kebahagiaan di University of California Riverside di AS, mengatakan bahwa kebahagiaan adalah keadaan pikiran internal yang relatif terputus dari dunia luar, selama merasa aman dan memiliki makan yang cukup.

Dia juga sempat mengungkapkan pandangan serupa dengan pandangan Thubten dalam The Myths of Happiness, bahwa persepsi tentang peristiwa, dan emosi yang dihasilkan, mungkin tidak benar-benar sepenuhnya sesuai dengan apa yang sedang terjadi.

“Jika Anda bermeditasi, Anda dapat belajar untuk tidak terlalu dikendalikan oleh pikiran dan emosi negatif,” kata Thubten.

“Anda dapat mengubah perasaan Anda tentang situasi dengan bermeditasi. Itulah kunci kebahagiaan. Melalui meditasi, kita dapat mengembangkan pikiran yang lebih fleksibel, sehingga dapat memanfaatkan situasi sulit yang terbaik, dan tidak tersiksa olehnya.”

Menurut Thubten, kebanyakan orang meyakini bahwa ketika bermeditasi, pikiran menjadi kosong. Padahal, di balik itu meditasi justru membuat diri tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pikiran.

Lihat juga:

5 Manfaat Kesehatan dari Berbuat Baik pada Sesama

Dia kemudian mengatakan bahwa meditasi juga memungkinkan pikiran untuk berlalu dan tak memenuhi benak.

Untuk menggambarkan hal itu, Thubten mengutip puisi guru Buddhisme Zen Shunryu Suzuki dalam bukunya.

Anda seperti sebuah rumah
Biarkan pintu depan dan pintu belakang terbuka
Biarkan pikiran Anda datang dan pergi
Jangan sajikan teh untuk mereka

Meditasi mungkin jalan menuju kebahagiaan, tetapi apakah kebahagiaan itu?

Psikolog dan filsuf mengatakan kebahagiaan, beberapa di antaranya, mengalir dari hubungan yang penuh perhatian, memiliki tujuan, serta memiliki kebebasan dan sarana untuk menentukan masa depan Anda.

Kebebasan adalah bagian penting dari definisi Buddha tentang kebahagiaan, kata Thubten. Membebaskan pikiran dari keinginan mendasari konsep itu.

“Saat saya berbicara tentang kebahagiaan, saya tidak sedang membicarakan tentang perasaan gembira,” katanya.

“Saya melihatnya sebagai rasa kebebasan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan di dunia material, kita dibebaskan dari keharusan untuk mengejarnya. Anda merasa lega karena tidak adanya kebutuhan – Anda tidak menggenggam sesuatu, karena Anda sudah memilikinya, sehingga Anda dapat bersantai.”

Tetapi, dia mengatakan bahwa perasaan puas karena memiliki harta benda tidak bertahan lama, karena diri akan selalu menginginkan lebih.

Umat Buddha menyebut kebutuhan untuk memiliki ini sebagai “genggaman.”

“Dengan bermeditasi, Anda dapat menghilangkan perantara dan langsung merasa tidak membutuhkan sesuatu,” kata Thubten. “Saat terbebas dari genggaman ini, Anda bisa rileks. Anda bisa berdamai dengan diri sendiri.”

Lihat juga:

7 Cara Mengatasi ‘Monday Blues’, Cemas Memasuki Hari Senin

Sebelum menjadi biksu, Thubten merupakan orang yang pernah melakukan Hellraiser, seseorang yang menyebabkan masalah dengan minum alkohol, melakukan kekerasan, atau berperilaku keterlaluan.

Dia kemudian memasuki biara Buddha Tibet di Skotlandia untuk melepaskan diri dari stres dan kelelahan. Dari sana, Thubten kemudian beralih ke agama Buddha dan menjadi seorang biksu.

(agn)

[Gambas:Video ]


Next Post

Permudah Akses Info Covid, Pemprov DKI Hadirkan Fitur Jejaki

Jakarta, Indonesia — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyadari dibutuhkan kolaborasi dalam upaya menekan penyebaran Covid-19. Untuk itu, Pemprov DKI bersinergi dengan pemerintah pusat dan sejumlah perusahaan rintisan atau start-up untuk menghadirkan fitur baru pada aplikasi Jakarta Kini (JAKI). Aplikasi JAKI tersebut sudah dikembangkan sebelumnya oleh Jakarta Smart City, bernama Jejaki. […]