Rahasia Air Laut Berwarna Biru

Farah

Laut juga dapat berubah menjadi selain biru saat cahaya memantul dari sedimen dan partikel yang mengapung di air.

Jakarta, Indonesia —

Jika seseorang bertanya kepada Anda apa warna laut, kemungkinan besar Anda akan menjawab bahwa itu biru. Untuk sebagian besar Samudra di dunia, jawaban Anda pasti benar.

Tetapi jika airnya sangat dalam sehingga tidak ada pantulan di dasar laut, air tersebut tampak seperti biru tua yang sangat gelap.

Lautan berwarna biru karena air menyerap warna di bagian merah spektrum cahaya. Seperti filter yang meninggalkan warna di bagian biru spektrum cahaya.




Melansir Ocean Service, laut juga dapat berubah menjadi hijau, merah, atau warna lainnya saat cahaya memantul dari sedimen dan partikel yang mengapung di air.

Mengutip laman resmi NASA, di air, penyerapan kuat di warna merah dan lemah di warna biru, sehingga cahaya merah diserap dengan cepat di lautan dan menyisakan warna biru.

Hampir semua sinar Matahari yang masuk ke laut terserap. Panjang gelombang merah, kuning, dan hijau sinar matahari diserap oleh molekul air di lautan.

Ketika sinar Matahari ‘menghantam’ lautan, sebagian cahaya dipantulkan kembali secara langsung tetapi sebagian besar menembus permukaan laut dan berinteraksi dengan molekul air yang ditemuinya.

Panjang gelombang cahaya merah, oranye, kuning, dan hijau diserap sehingga sisa cahaya yang kita lihat terdiri dari biru dan violet dengan panjang gelombang yang lebih pendek.

Di daerah pesisir, limpasan dari sungai, resuspensi pasir dan lumpur, gelombang dan badai serta sejumlah zat lainnya dapat mengubah warna perairan dekat pantai.

Lihat juga:

LIPI Respons Inggris soal Tsunami Ancam Ibu Kota Baru RI

Beberapa jenis partikel seperti sel fitoplankton atau alga juga dapat mengandung zat yang menyerap panjang gelombang cahaya tertentu. Zat penyerap cahaya terpenting di lautan adalah klorofil yang digunakan fitoplankton untuk menghasilkan karbon melalui fotosintesis.

Pasalnya, pigmen hijau ini secara istimewa menyerap bagian merah dan biru dari spektrum cahaya (untuk fotosintesis) dan memantulkan cahaya hijau.

Jadi, lautan di atas wilayah dengan konsentrasi fitoplankton yang tinggi akan tampak dalam corak-corak tertentu dari biru-hijau hingga hijau, bergantung pada jenis dan kepadatan populasi fitoplankton di sana.

Prinsip dasar di balik penginderaan jauh warna lautan adalah semakin banyak fitoplankton di dalam air maka akan semakin hijau dan semakin sedikit fitoplankton, semakin biru warnanya.

Ada zat lain yang mungkin ditemukan terlarut dalam air yang juga dapat menyerap cahaya karena zat ini biasanya terdiri dari karbon organik, para peneliti umumnya menyebut zat ini sebagai bahan organik terlarut berwarna, disingkat CDOM (Colored Dissolved Organic Matter).

Lihat juga:

Makhluk Bergerak Pertama Ditemukan, Usianya 2,1 Miliar Tahun

Studi tentang warna laut membantu para ilmuwan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang fitoplankton dan dampaknya terhadap sistem Bumi. Organisme kecil ini dapat memengaruhi sistem dalam skala yang sangat besar seperti perubahan iklim.

Fitoplankton menggunakan karbon dioksida untuk fotosintesis dan pada gilirannya menyediakan hampir setengah dari oksigen yang kita hirup. Semakin besar populasi fitoplankton dunia, semakin banyak karbon dioksida yang ditarik dari atmosfer.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa populasi fitoplankton tertentu dapat menggandakan jumlahnya sekitar sekali sehari. Dengan kata lain, fitoplankton merespon dengan sangat cepat terhadap perubahan lingkungannya.

Memahami dan memantau fitoplankton dapat membantu para ilmuwan mempelajari dan memprediksi perubahan lingkungan.

Karena fitoplankton bergantung pada sinar matahari, air, dan nutrisi untuk bertahan hidup, variasi fisik atau kimiawi dalam salah satu bahan ini dari waktu ke waktu untuk wilayah tertentu akan mempengaruhi konsentrasi fitoplankton.

Populasi fitoplankton tumbuh atau berkurang dengan cepat sebagai respons terhadap perubahan lingkungannya. Perubahan tren populasi fitoplankton tertentu, seperti kepadatan, distribusi, dan laju pertumbuhan atau penurunan populasi, akan mengingatkan para ilmuwan Bumi bahwa kondisi lingkungan sedang berubah.

Lihat juga:

Ahli Berhasil Hidupkan Mikroba Usia 100 Tahun dengan Nitrogen

(din/DAL)

[Gambas:Video ]


Next Post

Bubarkan Aksi 1812 di Pontianak, Dua Polisi Dikeroyok Massa

Jakarta, Indonesia — Dua anggota Polresta Pontianak, Kalimantan Barat dianiaya massa yang menggelar aksi 1812 kemarin. Dua petugas tersebut dianiaya saat hendak membubarkan massa aksi menuntut pembebasan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab tersebut. “Pada saat petugas kepolisian membubarkan massa aksi Jumat (18/12) kemarin, dua personel Polresta Pontianak mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, […]