Breaking News in Indonesia

Populasi Diklaim Naik, Botswana Ajak Turis Kaya Berburu Gajah

Jakarta, Indonesia —

Botswana¬†memulai kembali musim perburuan yang kontroversial pada Selasa (6/4), kata seorang pejabat pemerintah, setelah kegiatan “wisata mewah” itu disetop tahun lalu karena pandemi virus Corona.

Izin telah dikeluarkan untuk membunuh 287 gajah, kategori hewan terbesar, menurut pihak berwenang.

Negara Afrika bagian selatan yang terkurung daratan itu memiliki populasi gajah terbesar di dunia, diperkirakan sekitar 130 ribu.

Pada tahun 2014, negara ini memulai larangan menyeluruh pada perburuan untuk mencegah kepunahan populasi gajah dan spesies lainnya, tetapi mencabut pembatasan tersebut lima tahun kemudian.

Pilihan Redaksi
  • Botswana, Saksi Bisu Cinta Pangeran Harry dan Meghan Markle
  • Ahli Prediksi Penyebab Ratusan Gajah Mati Misterius
  • Lebih dari 300 Gajah di Bostwana Mati Secara Misterius

Musim berburu dibatalkan tahun lalu setelah Botswana memblokir kedatangan dari negara-negara berisiko tinggi Covid-19 termasuk Inggris, Italia, dan Amerika Serikat, tempat sebagian besar pemburu kaya berasal.

Musim perburuan akan berlangsung hingga akhir September, direktur departemen margasatwa dan taman nasional, Kabelo Senyatso, mengatakan kepada AFP.

Sebuah lobi pro-perburuan, Asosiasi Produsen Satwa Liar Botswana (BWPA), menyambut baik dimulainya musim perburuan, mengatakan masyarakat lokal – yang kekurangan pendapatan karena penutupan gerbang wisata – akan mulai mendapat manfaat lagi.

“Sejak kami buka pagi ini, kami memiliki tamu di lapangan, beberapa datang dari Amerika,” kata juru bicara Debbie Peake.

Pencabutan larangan – yang awalnya ditetapkan oleh mantan Presiden Ian Khama, seorang aktivis lingkungan yang kritis – membuat marah banyak konservasionis.

“Baik Anda setuju atau tidak setuju dengan keputusan itu … itu adalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah setelah melalui proses konsultatif dan mayoritas rakyat kami mendukungnya,” kata Senyatso.

Pemburu kaya membayar banyak uang untuk menembak seekor binatang – uang yang, menurut pendukung kegiatan wisata itu, mengalir melalui komunitas lokal.

Tetapi ahli konservasi Botswana, Map Ives, mempertanyakan apakah kuota berburu dikeluarkan atas dasar bukti ilmiah tentang populasi gajah dan keberlanjutannya.

“Saya memahami bahwa perburuan dapat berguna sebagai penggerak ekonomi, tetapi harus didasarkan pada sains, dan sayangnya di Botswana kami tidak memiliki sumber daya keuangan atau tenaga terlatih untuk penelitian tentang populasi spesies,” katanya.

Banyak gajah Botswana berkeliaran melintasi perbatasan ke Namibia, Zambia, dan Zimbabwe.

Keempat negara tersebut telah menyerukan larangan global perdagangan gading gajah untuk dilonggarkan, karena jumlah hewan yang diklaim terus meningkat di beberapa wilayah.

Bulan lalu, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menyoroti bahwa perburuan dan penyusutan habitat selama beberapa dekade pada umumnya telah menghancurkan populasi gajah di Afrika.

Spesies gajah hutan paling banyak terkena dampaknya.

(AFP/ard)

[Gambas:Video ]