Polling CNNIndonesia.com: Etika Menawar Harga Saat Wisata

Farah

Di tengah pandemi virus corona, apa yang harus dilakukan turis saat harus menawar harga di tempat wisata?

Jakarta, Indonesia —

Seperti nasib banyak pekerja yang menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata, Gede hanya bisa mengelus dada saat mengetahui dirinya belum lagi bisa menjadi supir mobil yang biasanya disewa turis di Bali.

Bali telah membuka gerbang pariwisatanya untuk turis domestik, namun belum untuk turis mancanegara. Jumlah kembali turis domestik ke Bali juga dikatakannya belum meningkat terlalu signifikan, mungkin karena persyaratan terbang antarkota yang masih abu-abu.

Agar api kompor di dapur rumahnya tetap menyala, saat ini Gede melakukan pekerjaan sampingan sebagai petani sayuran organik. Kebunnya di kawasan Buleleng yang dikenal sebagai salah satu kawasan bertanah subur di Pulau Dewata.

Pilihan Redaksi
  • 6 Tips Hindari ‘Harga Tembak’ saat Makan di Luar Negeri
  • Agar Terhindar Penipuan Berkedok Hotel Murah
  • 6 ‘Scam’ Hotel Terbaru, dari Kamar Luas sampai WiFi Palsu

Hasil dari kebun sayur organik yang ditanam Gede bersama beberapa temannya dijual ke di warung pinggir jalan. Warga yang tinggal di perumahan, seperti kaum ekspatriat, paling sering berbelanja di warungnya.

Saat ditanya, Gede mengatakan kalau keuntungan dari hari penjualannya cukup lumayan untuk mencukupi kebutuhan harian keluarga kecilnya.

“Jumlah uang yang dibawa pulang pasti berbeda saat masih menjadi supir mobil wisata. Kalau ditanya apakah untung besar karena yang beli banyak ekspatriat, tidak juga. Karena mereka “sudah tahu harga” dan bisa menawar sekarang. Padahal kita cuma menaikkan harga sekitar Rp5000 sampai Rp10 ribu. Misalnya pakcoy per 200 gram kita jual Rp15 ribu,” kata Gede saat dihubungi oleh Indonesia.com melalui pesan pendek pada akhir September lalu.

Sejak awal pandemi virus corona berlangsung, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf) telah menyerukan gerakan untuk mendukung usaha lokal demi berbagi kesejahteraan bagi pelaku usaha wisata dan kreatif di pelosok Indonesia.

Situs e-commerce juga mulai banyak yang mempromosikan produk lokal yang bisa dibeli hanya dengan beberapa klik.

Jika di situs e-commerce barang yang dijual sudah tidak bisa ditawar dengan “sadis”, berbeda halnya dengan barang yang dijual secara langsung seperti di pasar atau di warung milik Gede misalnya.

Bagi sebagian orang, tawar menawar mungkin menjadi momen yang seru dan menantang. Dalam buku tulisan Mark Ellwood berjudul Bargain Fever: How to Shop in a Discounted World (2013), tertulis bahwa “hasrat untuk menemukan harga murah telah ada secara genetik pada semua manusia. Melihat penawaran khusus memicu pelepasan dopamin di otak, senyawa kimia yang meletuskan perasaan nyaman dalam diri.”

Berkaca pada pengalaman Gede, saat ini yang menjadi pertanyaan besar ialah: sebagai turis, seperti apakah etika saat tawar menawar harga di tempat wisata kala era normal baru?

Hasil polling yang dilakukan di Twitter Indonesia.com pada 23 September 2020 menyebutkan bahwa sekitar 39,3 persen dari total 458 suara netizen yang masuk mengaku ‘hanya akan menawar harga saat membeli barang tersebut dalam jumlah banyak’.

Di urutan kedua, sekitar 23,4 persen mengaku ‘tidak akan menawar harga jika sudah murah’. Lalu di urutan ketiga, sekitar 22,5 persen mengaku ‘hanya menawar harga jika barang berkualitas baik’.

Sisanya, di urutan keempat, sekitar 14,9 persen mengaku ‘tetap menawar harga walau hanya membeli satu barang’.

[Gambas:Twitter]

Atika (25), salah satu turis domestik yang diwawancarai Indonesia.com mengatakan kalau dirinya sepakat dengan etika ketiga, menawar harga barang yang berkualitas baik.

Belum lama ini ia pergi ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan membeli selimut dari kain songket di sana. Harganya tidak murah, tapi ia merasa sangat puas dengan motif dan kualitas tenunnya.

“Saat belanja oleh-oleh saya hanya akan membeli barang yang berkualitas baik. Dengan begitu, saya bisa menghindari kebiasaan membeli barang yang tak diperlukan. Kalau kualitas barangnya bagus dan harganya masih bisa ditawar, saya pasti menawar harganya. Kalau harganya tidak bisa turun banyak, ya tetap saya beli karena kualitasnya memang baik,” katanya.

Pandangan soal tawar menawar harga di destinasi wisata Indonesia mungkin berbeda dengan Mark (30), ekspatriat asal Inggris yang bermukim di Jakarta namun sering wisata ke Bali.

“Bagi saya seorang warga negara Eropa, harga barang di Indonesia masih jauh lebih murah ketimbang di negara saya. Jadi saya berpendapat, kalau saya butuh barangnya dan punya uangnya, mengapa saya harus menawarnya? Misalnya saat naik taksi di Bali, kalau supirnya ramah dan jujur, saya pasti akan memberinya tip. Toh tarif argonya tak lebih mahal daripada segelas kopi di London,” ujarnya.

Kesimpulannya, jika ingin berbuat baik untuk warga lokal di destinasi wisata yang dikunjungi saat era normal baru, sepertinya etika nomor satu sampai tiga bisa dilakukan.

Selain itu, tak menawar harga dengan sadis juga bisa memberi semangat kepada mereka yang mengembangkan usahanya dengan cara berkelanjutan alias tetap menjaga kelestarian alam, seperti usaha kebun sayur organik milik Gede misalnya.

Hanya saja turis tetap harus waspada dengan jebakan “tembak harga” yang berujung pada penipuan.

Mengecek harga pasaran sebelum membeli barang – yang kini bisa dengan mudah dilakukan melalui internet, wajib dilakukan.

Jangan ragu untuk bersikap tegas jika ada pedagang yang memaksa untuk membeli barang yang tidak kita inginkan.

[Gambas:Video ]

Next Post

Banjir Bandang Garut, 1.000 Lebih Warga Mengungsi

Bandung, Indonesia — Hujan deras membuat tiga sungai di Kabupaten Garut, Jawa Barat, meluap sehingga menyebabkan banjir bandang di 10 desa dari tiga kecamatan terdampak Senin (12/10) dini hari. Tiga sungai yang meluap yaitu Sungai Cipalebuh, Sungai Cikaso, dan Sungai Cibera. Tercatat 1.000 lebih warga tinggal di pengungsian. Manajer Pusat […]