Polisi Tanggapi Laporan soal Tembakan Gas Air Mata ke Unisba

Farah

Polisi menyebut penembakan gas air mata ke Unisba diawali pengejaran massa dari DPRD ke arah Tamansari.

Bandung, Indonesia —

Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) Edi Setiadi pada Jumat (9/10) melaporkan dugaan penembakan gas air mata oleh aparat polisi ke dalam kampus. Penembakan gas air mata itu terjadi pada Rabu (7/10), usai demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan DPRD Jabar.

Menanggapi hal itu, Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Ulung Sampurna Jaya mengatakan para pedemo yang masih berkeliaran di depan DPRD Jabar terpaksa dibubarkan karena sudah melewati batas aturan pukul 18.00 WIB. Massa aksi sempat memblokir jalan dan melempar molotov kepada aparat.

Namun, sejumlah massa lari terus hingga ke kawasan Tamansari dekat kampus Unisba.

“Sehingga kita kan ke sana mau mengejar dan membubarkan massa yang berkumpul agar massa itu tidak melakukan perusakan fasilitas umum atau fasilitas negara. Seperti kita lihat fasilitas umum banyak yang dirusak, taman dan lampu dan segala macam maka kita membubarkan massa itu dan massa itu larinya ke arah kampus itu,” kata Ulung, Jumat (9/10).

Menurut Ulung, pihaknya akan mendatangi kampus Unisba untuk mendapatkan informasi terkait penyerangan ke kampus yang diduga dilakukan aparat.

“Kalaupun ada insiden terjadi seperti itu namanya juga malam ya kita tetap nanti kita akan mendatangi kampus untuk berkomunikasi kepada kampus lagi agar tidak terjadi lagi miskomunikasi. Toh, mahasiswa di kampus tersebut ada juga yang tertangkap di Polrestabes. Dan kegiatan itu sampai malam hari, kalau memang mahasiswa kan dia mengerti hukum, jam 6 harus sudah selesai dan tidak melakukan bakar dan segala macam, dan itu berkumpul,” ujarnya.

Ulung mengatakan, pihak kepolisian memberikan kesempatan pada siapapun yang ingin menyampaikan aspirasi. Namun tidak melebihi jam yang sudah diatur.

“Silakan saja menyampaikan aspirasi, kita akan melayani. Tapi kalau sudah malam, kita takutnya ditunggangi oleh pihak lain yang memang ingin mengacaukan suasana seperti itu. Nah, dengan adanya kesalahpahaman itu maka nanti kita akan berkomunikasi baik dengan rektor maupun yayasannya,” ujarnya.

Terkait kerusakan kaca di pos satpam kampus Unisba, Ulung mengatakan petugas kepolisian melakukan hal itu karena saat itu dihalang-halangi.

“Itu kan karena petugas dihalang-halangi, dilempar bom molotov dan segala macam. Sedangkan posisi pada saat itu mereka adalah berkerumun, yang namanya massa berkerumun itu kan kita sudah melihat mereka merusak fasilitas umum yang ada di Kota Bandung dan segala macam, nah kita mencegah terjadinya itu,” ujarnya.

Lihat juga:

Rektor Unisba Laporkan Polisi Tembak Gas Air Mata ke Kampus

Sebelumnya Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) Edi Setiadi melaporkan dugaan kasus aparat kepolisian menembakkan gas air mata ke dalam kampus. Penembakan gas air mata itu terjadi pada Rabu (7/10), usai demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan DPRD Jabar.

Dalam surat pengaduan Unisba yang diterima Indonesia.com, Edi menuturkan kampus sedang libur karena pembelajaran dilakukan secara daring. Namun karena keprihatinan dengan kondisi bangsa, mahasiswa terdorong untuk melakukan aksi penolakan Omnibus Law.

Kemudian, pada Rabu (7/10), rombongan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang sudah melakukan aksi di depan DPRD Jabar bergerak ke Unisba.

“Mereka memaksa masuk ke Unisba karena menghindari tembakan gas air mata dari polisi. Masuknya mahasiswa ke area kampus di luar kendali kami karena kampus sebenarnya sarana pendidikan yang tidak perlu menerapkan penjagaan personel maupun sarana yang sangat ketat,” tutur Edi dalam surat tersebut.

Akan tetapi setelah mahasiswa masuk ke Unisba, lanjut Edi, ada polisi yang menembakkan gas air mata ke dalam kampus. Bahkan terdengar ledakan yang mengarah ke dalam kampus Unisba yang memecahkan kaca pos penjagaan Unisba.

“Dengan kejadian tersebut kami mohon pimpinan Polri dapat mengendalikan anggotanya supaya tidak bertindak berlebihan ke area kampus karena itu fasilitas perkuliahan yang bertujuan mencerdaskan bangsa,” ujar Edi.

Pihak Unisba pun berharap kejadian tersebut tidak terulang kembali.

“Karena kami mengetahui tugas dan fungsi kepolisian terutama tugas mengayomi dan melindungi masyarakat,” ujarnya.

(hyg/stu)

[Gambas:Video ]

Next Post

Kemendikbud Minta Maaf ke Sutradara Film Sejauh Kumelangkah

Jakarta, Indonesia — Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan permintaan maaf secara publik kepada sutradara film Sejauh Kumelangkah, Ucu Agustin karena menayangkan film tersebut dalam program Belajar Dari Rumah (BDR) di TVRI tanpa izin. Permintaan maaf itu disampaikan melalui akun twitter resmi Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, @budayasaya, Jumat (9/10). […]