Breaking News in Indonesia

Pesepeda di Sudirman-Thamrin Masih Keluar Jalur Khusus

Jakarta, Indonesia —

Sejumlah pesepeda di Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (5/6) pagi masih tak menggunakan jalur khusus sepeda.

Pantauan Indonesia.com sekitar pukul 06.00 hingga 06.30 WIB, beberapa pengguna sepeda mengambil jalur kendaraan umum karena kondisi lalu lintas masih sepi.

Ada pula yang terpaksa ke luar jalur karena harus “berbagi” dengan warga lain yang tengah lari pagi. Sebagian juga keluar jalur untuk menghindari pesepeda lain yang bergerak lebih lambat.

Namun, tak ada yang mengambil jalur hingga ke tengah atau sisi kanan jalan. Pesepeda yang berada di luar jalur khusus itu rata-rata juga tak bergerombol atau berpeleton.

Di atas pukul 06.30 WIB, mayoritas pengendara sepeda di Sudirman-Thamrin berada di lajur paling kiri. Selain karena jalanan yang mulai ramai dengan mobil dan motor, juga ada Patwal Ditlantas Polda Metro Jaya berkeliling melakukan penertiban.

Salah satu mobil Patwal yang dilengkapi pelantang suara berjalan pelan di sisi kiri jalan sembari mengimbau pengguna sepeda untuk masuk ke jalur paling kiri jalan.

“Kami ingatkan semi keselamatan dan keamanan, diharapkan pengguna sepeda berada di jalur khusus paling kiri,” demikian imbauan tersebut terdengar.

Situasi ini berbeda dengan gambaran dalam sebuah foto yang sempat viral di media sosial, di mana peleton sepeda road bike mengambil lajur utama hingga mengganggu kendaraan lain.

Baca juga:

Kemenhub Dukung Penambahan Jalur Sepeda di 6 Daerah

Dalam foto tersebut, seorang pengendara sepeda motor tampak kesal dan mengacungkan jari tengahnya ke arah rombongan pesepeda road bike yang berada di belakangnya.

Di Twitter, foto yang diunggah akun @samartemaram tersebut memicu komentar pedas dari warganet. Salah satunya datang dari Elisa Sutanudjadja @elisa_jkt, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies yang dikenal vokal terhadap isu-isu perkotaan.

“Pesepeda peleton macam di atas ya enggak layak disebut pejuang anti-polusi ibu kota. Sebut aja langsung: penyerobot ruang, pengganggu “ketertiban”, dan sejenisnya,” twitnya.

[Gambas:Twitter]

Pengguna Road Bike Butuh Aturan Khusus

Irwan, salah satu pengguna sepeda road bike di jalan Sudirman-Thamrin, mengakui bahwa pesepeda seperti mereka memang kerap keluar dari jalur khusus, terutama jika berpeleton. Sebab, mereka memacu sepeda lebih cepat dibandingkan pesepeda lainnya.

Alasan lainnya adalah keramaian jalur khusus sepeda di hari Sabtu dan Minggu yang membuat mereka terkadang tak bisa berolahraga sepeda dengan maksimal.

“Komentar netizen memang seram. Mereka kurang suka, tapi itu kan balik lagi tujuannya olahraga. Berpeleton mungkin tujuannya selain olahraga bareng-bareng juga untuk melindungi kawan yang lain,” ucapnya saat ditemui di kawasan Thamrin.

Karena itu, ia mengapresiasi rencana Pemprov DKI untuk membolehkan pengguna road bike menggunakan jalan utama dan berada di luar jalur khusus sepeda.

Baca juga:

DKI Kaji Tambah Jalur Khusus Road Bike di Sudirman-Thamrin

Namun, harus ada aturan khusus dan tata cara yang jelas agar pesepeda tak mengganggu pengguna jalan lain hingga disebut “penyerobot ruang”.

“Saya sebagai pengguna road bike merasa perlu, tapi perlu diatur tata caranya seperti apa, jadi biar semuanya pun pengguna jalan lebih tertib. Lebih aman sama-sama,” jelasnya.

Imam, pengguna road bike lain di Thamrin, menilai warganet cenderung menggeneralisasi dan memberikan stigma terhadap pesepeda seperti dia.

Menurutnya, banyak pengguna jalan tak tertib, tidak hanya pengguna road bike, tapi juga sepeda motor dan mobil. Pesepeda jenis lain pun masih banyak yang berjalan di luar jalur khusus.

“Enggak semua pengguna sepeda road bike seperti itu. Hanya beberapa dalam kondisi tertentu mengambil jalan utama dan mengganggu pengendara lain. Cuma karena di media sosial satu kasus, malah digeneralisasi, jadi terlihatnya jadi buruk,” katanya.

(hrf/has)

[Gambas:Video ]