Pengelola Wisata Air Terjun Masih Cuek Soal Keselamatan Turis

Farah

Air terjun atau curug sedang menjadi primadona wisata di Indonesia. Sayangnya, masih banyak pengelola yang cuek dengan faktor keselamatan turis.

Jakarta, Indonesia —

Air terjun atau curug sedang menjadi primadona wisata di Indonesia. Sayangnya, masih banyak pengelola yang cuek dengan faktor keselamatan turis.

Keberadaan pariwisata Indonesia harusnya dibarengi dengan sistem keamanan dan keselamatan yang memadai termasuk di wisata air terjun. Guru Besar Bidang Pariwisata Universitas Udayana (Unud), I Gede Pitana, menerangkan air terjun termasuk pariwisata dengan minat khusus, yang artinya orang yang merasakan sendiri kegiatan pariwisata tersebut.

Adapun hal-hal yang utama perlu diperhatikan untuk faktor keselamatan di jenis pariwisata minat khusus ialah soal aksesibilitas.

Pilihan Redaksi
  • 6 Tips Aman Bertualang di Taman Nasional
  • 6 Tips Aman Wisata di Curug
  • INFOGRAFIS: Tips Aman Wisata di Curug

“Pertama, yang paling penting itu ialah kita harus yakin jalan menuju air terjun layak dilalui. Karena banyak sekali kejadian di jalan yang mengalami kecelakaan,” kata Gede kepada Indonesia.com, Kamis (24/9).

Kedua, Gede menerangkan bahwa wisata air terjun harus memiliki papan informasi keselamatan yang jelas. Hal itu sangatlah penting, mengingat banyak area di wisata air terjun yang boleh ataupun tidak boleh untuk disentuh.

“Papan informasi di mana area yang boleh direnangi, dipijak, atau dijadikan tempat selfie. Karena air terjun biasanya ada kolam yang dalam, sehingga berbahaya jika tak ada informasi keselamatan yang jelas,” jelas dia.

Kemudian, faktor ketiga adalah air terjun harus memiliki sarana dan prasarana untuk keadaan darurat. Ia mencontohkan wisata air terjun harus siap dengan keadaan seperti jatuh hingga wisatawan yang kekurangan oksigen.

“Harus ada berbagai sarana dan prasarana untuk keadaan darurat. Contohnya bagaimana kalau ada orang jatuh di batu, bagaimana kalau jatuh ke jurang, bagaimana kalau orang tua tenggelam di air terjun. Itu harus ada daftar pemantauan yang menyiapkan kondisi darurat,” terang dia.

Diakui Gede belum semua wisata air terjun di Indonesia menerapkan standar keselamatan secara tepat dan rinci. Salah satu penyebabnya karena banyak wisata air terjun yang masih dikelola oleh dikelola masyarakat setempat.

Namun disebutkan Gede ada pula air terjun yang memang dikelola dengan baik, seperti dua air terjun di Bali, Air Terjun Nungnung di Badung dan Air Terjun Tenganan di Sukawati.

Karena itu, ia berpesan kepada pemerintah daerah yang mendapatkan pajak dari industri pariwisata untuk membangun kembali fasilitas dan layanan penunjang keselamatan yang baik di objek-objek wisata.

“Jadi mohon kepada pemerintah daerah yang memiliki pajak hotel dan restoran untuk bisa membangun fasilitas kesehatan dan keselamatan. Karena itu penting,” tegas dia.

Terakhir, ia mengingatkan pula kesadaran masyarakat untuk selalu berhati-hati dan mengedepankan keselamatan. Ia berharap pemerintah dan masyarakat bisa bersinergi untuk bersama-sama menjaga tempat wisata.

“Karena itu saya tidak mau menyalahkan pemerintah sepenuhnya. Kita sudah punya UU nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Memang diakui kurang sosialisasi. Di sini kita harapkan kesadaran masyarakat juga untuk terus menjaga tempat wisata kita,” tutup dia.

(cti/ard)

[Gambas:Video ]

Next Post

Debut Thiago Silva di Liga Inggris: Kapten, Blunder, dan Seri

Jakarta, Indonesia — Debut Thiago Silva di Liga Inggris tak berjalan mulus akibat blunder yang membuat Chelsea gagal menang lawan West Bromwich Albion, Sabtu (26/9) waktu setempat. Thiago Silva dipercaya sebagai kapten saat Chelsea melawat ke Stadion The Hawthorms. Namun penampilannya jadi sorotan lantaran bikin blunder berujung gol. Blunder tersebut terjadi di […]