Pengakuan Ahok Berlabuh ke PDIP saat Negara Tegang

Farah

Jakarta, Indonesia — Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengaku memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) setelah bicara selama 3 jam dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Mega, katanya, menyebut bahwa Ahok butuh parpol dan tak bisa berjuang sendiri.

“‘Pak Ahok tidak bisa berjuang sendiri, Pak Ahok butuh parpol’,” kata Ahok, menirukan ucapan Mega, dalam acara peluncuran buku ‘Panggil Saya BTP’ di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (17/2).

“Kita bicara 3 jam lebih tuh; soal konstitusi, parpol, berjuang sendiri,” lanjutnya.

Ahok resmi bergabung ke PDIP pada 8 Februari 2019 dan diumumkan secara resmi di Kantor DPD PDIP Bali.

Sebelum berlabuh ke PDIP, Ahok beberapa kali berganti partai. Yakni, Partai Perhimpunan Indonesia Baru (2004-2008), Partai Golkar (2008-2012), dan Partai Gerindra (2012-2014).

Pada 2014, Ahok keluar dari Gerindra dan memilih jalur independen atau tanpa partai selama menjabat Gubernur DKI Jakarta menggantikan posisi Joko Widodo yang terpilih menjadi Presiden.

Ahok, yang kini menjabat Komisaris PT Pertamina (Persero) itu, pun mengaku tak mengalami dilema saat memilih PDIP pada 2019.

[Gambas:Video ]
“Saya hanya berfikir, ketika situasi negara begitu tegang, terbelah dua, maka kita butuh satu partai nasionalis yang besar,” ujarnya.

Namun demikian, kata dia, internal PDIP sempat terbelah saat dirinya hendak bergabung. Ahok berkata ada beberapa kader yang menilai keberadaannya di PDIP akan menggerus suara partai. Itu karena statusnya sebagai mantan narapidana kasus penistaan agama.

“Kalau saya bisa masuk PDIP nambah suara, maka saya masuk. Itu pun beberapa teman merasa saya menurunkan suara,” ujarnya.

Usai bergabung, Ahok pun menolak berada di struktur kepengurusan partai.

Lihat juga:

Ahok Resmi Jadi Kader PDI-P

“Saya berjanji jadi fungsional partai yang kalau orang ngumpul, saya ngajar, kasih semangat, meyakinkan kader partai seluruh Indonesia, bahwa jujur itu adalah harta politisi paling baik. Reputasi yang baik tidak bisa dikalahkan uang manapun. Reputasi baik modal politisi bertahan,” tutur Ahok.

Tampik PSI

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, yang merupakan sahabat Ahok, mengaku tak pernah mengajak Ahok bergabung dengan ‘Banteng’. Djarot menuturkan bahwa Ahok bahkan berencana membuka usaha selepas keluar lapas, alih-alih bergabung dengan parpol.

“Saya enggak pernah rayu masalah partai,” kata Djarot.

Beberapa partai lain sebenarnya juga terbuka meminang Ahok sebagai kader. Salah satunya Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Selepas keluar lapas, Ahok kerap dikaitkan bakal merapat ke PSI. 

Ahok Cerita Dirayu Mega Masuk PDIP: Tak Bisa Berjuang SendiriFoto: Indonesia/Astari Kusumawardhani

Ahok akhirnya lebih memilih PDIP ketimbang partai lain. Menurut Djarot, keputusan Ahok bergabung dengan PDIP berdasarkan ertimbangan ideologi.

Djarot berkata bahwa mantan Bupati Belitung Timur itu pernah menyatakan ideologi yang diusung PDIP sesuai dengan ideologinya.

“Kalau PDIP secara ideologis Pancasila, dia selalu nomor satu, terdepan dan tidak rasis. Semua selalu dibela, siapapun juga WNI yang punya hak dan kewajiban yang sama. Apalagi mau pemilu, dia tidak mau namanya disebut-sebut, maaf, untuk meng-endorse PSI,” tandasnya. (dmi/arh)

Next Post

Lampard Tak Terima MU Tiga Kali Dibantu VAR

Jakarta, Indonesia — Frank Lampard merasa tidak terima MU tiga kali dibantu Video Assistant Referee (VAR).  Salah satu yang dianggap Lampard merugikan The Blues adalah pelanggaran Harry Maguire. Dia menilai Maguire seharusnya dapat kartu merah saat Chelsea takluk 0-2 dari Manchester United pada pekan ke-26 Liga Inggris di Stamford Bridge, Selasa (18/2) dini hari WIB. […]